Buka konten ini

BATAM (BP) – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Singapura (SGD) yang cenderung bergejolak mulai dirasakan pelaku usaha penukaran valuta asing (valas) di Batam. Namun, kondisi tersebut belum diikuti lonjakan transaksi seperti yang biasanya terjadi saat kurs bergerak tajam.
Ketua Umum Afiliasi Penukaran Valuta Asing Indonesia (APVA), Amat Tantoso, mengatakan, tekanan terhadap rupiah belakangan ini dipengaruhi situasi global yang memanas dan berdampak pada ekonomi kawasan, termasuk Indonesia.
Menurutnya, ketegangan geopolitik internasional serta kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang memicu pelemahan mata uang di sejumlah negara Asia.
“Kalau kita lihat akhir-akhir ini rupiah memang sedikit melemah. Dampaknya terasa karena harga minyak naik dan hampir seluruh negara di Asia juga mengalami kenaikan biaya,” ujarnya di Batam, Jumat (1/5).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut diperparah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang turut menekan biaya operasional, termasuk bagi pelaku usaha money changer.
Di Batam, BBM jenis Dexlite dan Pertamina Dex yang digunakan untuk kendaraan pengangkut logistik ikut mengalami kenaikan signifikan. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada rantai biaya operasional, termasuk distribusi uang dan aktivitas usaha valas.
Meski nilai tukar Dolar Singapura terhadap rupiah bergerak fluktuatif, hingga kini belum terlihat peningkatan signifikan dalam transaksi penukaran valas.
Amat menyebut masyarakat masih cenderung menahan diri dan memilih mencermati perkembangan pasar sebelum melakukan transaksi dalam jumlah besar.
“Sampai sekarang belum ada peningkatan signifikan. Masyarakat masih wait and see (melihat dan menunggu), melihat situasi dulu,” katanya.
Ia menambahkan, aktivitas penukaran uang saat ini masih berjalan normal, bahkan cenderung belum seramai periode tertentu seperti musim liburan panjang atau momentum ekonomi yang biasanya mendorong lonjakan transaksi.
Jika dibandingkan dengan tahun lalu, tren transaksi tahun ini juga belum menunjukkan peningkatan berarti. Pergerakan hanya terlihat saat akhir pekan, seiring masuknya wisatawan dari Singapura dan Malaysia ke Batam.
“Biasanya akhir pekan lebih ramai karena wisatawan datang. Yang paling banyak ditukar itu Dolar Singapura dan Ringgit Malaysia,” ungkapnya.
Sebagai kota perbatasan sekaligus pintu gerbang internasional, Batam memiliki aktivitas penukaran valas yang cukup tinggi untuk kebutuhan perjalanan, perdagangan, hingga pariwisata. Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelaku usaha masih berharap situasi segera stabil agar perputaran transaksi kembali bergairah.
Seperti diberitakan sebelumnya, pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura hingga menyentuh kisaran Rp13.580 per dolar, tak serta-merta mengguncang dunia usaha di Batam. Di tengah kekhawatiran pelaku industri nasional terhadap lonjakan biaya impor, pengusaha di kawasan free trade zone (FTZ) Batam dinilai masih cukup tahan banting.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafky Rasid, menegaskan struktur bisnis Batam yang didominasi ekspor menjadi kunci utama meredam dampak gejolak nilai tukar.
“Sebagian besar produk dari Batam dijual ke luar negeri dengan pembayaran dalam mata uang asing. Jadi walaupun bahan baku impor menggunakan dolar, hasil ekspor juga diterima dalam dolar. Ini yang membuat pengusaha di Batam tidak terlalu tertekan,” ujarnya.
Kondisi tersebut menciptakan keseimbangan antara biaya dan pendapatan, sehingga risiko kerugian akibat selisih kurs dapat diminimalkan.
Berbeda dengan daerah yang bergantung pada pasar domestik, pelaku usaha Batam dinilai memiliki natural hedge terhadap fluktuasi nilai tukar.
Tak hanya itu, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang memperbolehkan transaksi antarperusahaan di Batam menggunakan mata uang asing turut menjadi pelindung tambahan. Relaksasi ini memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menghindari risiko konversi rupiah yang fluktuatif.
“Dengan kebijakan ini, pengusaha cukup terlindungi. Transaksi bisa langsung menggunakan mata uang asing tanpa harus terkena dampak fluktuasi rupiah,” jelasnya. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK