Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kecelakaan tabrakan antara KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4), menjadi peringatan keras terhadap lemahnya sistem keselamatan di perlintasan sebidang. Insiden yang menimbulkan korban jiwa dan puluhan luka itu kembali menegaskan bahwa persoalan klasik perlintasan kereta api belum tertangani secara menyeluruh.

Peristiwa tersebut bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang mengalami gangguan setelah tertemper kendaraan di perlintasan sebidang. Dalam kondisi operasional yang terganggu, KA Argo Bromo Anggrek yang melintas tidak sempat berhenti sempurna hingga akhirnya menabrak rangkaian KRL yang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur.
Kejadian ini bukan yang pertama. Sejumlah kecelakaan serupa sebelumnya juga kerap dipicu faktor perlintasan sebidang yang tidak dijaga, minim pengamanan, serta tingginya interaksi antara kendaraan dan jalur kereta. Kondisi tersebut memperlihatkan masih adanya celah besar dalam sistem transportasi yang seharusnya mengedepankan aspek keselamatan.
Menanggapi hal itu, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perlintasan sebidang, khususnya di wilayah padat seperti Bekasi. Ia menyebut terdapat sekitar 1.800 titik perlintasan di Pulau Jawa yang perlu segera dibenahi.
“Secara garis besar, kita perhatikan lintasan-lintasan kereta api ini banyak yang tidak dijaga. Di Jawa ada 1.800 titik. Ini dari zaman Belanda, sudah berapa puluh tahun. Kita akan selesaikan semua itu,” ujar Prabowo usai menjenguk korban di RSUD Bekasi, Selasa (28/4).
Presiden menegaskan telah menginstruksikan percepatan pembenahan seluruh perlintasan tersebut, termasuk pembangunan infrastruktur penunjang seperti flyover untuk meminimalkan potensi kecelakaan.
“Nanti pelaksananya kita tunjuk. Kita perhitungkan anggaran sekitar hampir Rp 4 triliun,” katanya.
Selain itu, pembangunan flyover di Bekasi dinilai mendesak dan telah mendapat persetujuan pemerintah pusat. “Pemerintah Daerah Bekasi telah mengajukan dibuat flyover. Saya sudah setujui segera dibangun melalui bantuan presiden,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada para korban. “Atas nama pribadi dan pemerintah, saya ucapkan belasungkawa atas kejadian ini,” imbuhnya.
Sementara itu, proses identifikasi korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4) terus berlangsung. Dari total 15 korban meninggal dunia, sebanyak 10 korban telah berhasil diidentifikasi.
Karodokpol Pusdokkes Polri, Brigjen Nyoman Eddy Purnama Wirawan menyampaikan hasil tersebut dalam konferensi pers pada Selasa sore (28/4). Identifikasi dilakukan oleh tim gabungan Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri bersama tim ahli dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.
“Saya sampaikan hasil identifikasi dari tim gabungan sampai dengan sore ini,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan tim SAR gabungan dan Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati, seluruh korban meninggal dunia yang telah teridentifikasi merupakan penumpang perempuan. Adapun, identitas korban yakni Tutik Anitasari (31), warga Cikarang Barat, Bekasi; Harum Anjasari (27), asal Cipayung, Jakarta Timur; Nur Alimantun Citra Lestari (19), dari Pasar Jambi; Farida Utami (50), warga Cibitung, Bekasi; Vica Acnia Pratiwi (23), asal Cikarang Barat; Ida Nuraida (48), warga Cibitung, Bekasi; Gita Septia Wardany (20), dari Cibitung, Bekasi; Fatmawati Rahmayani (29), warga Bekasi Selatan; Arinjani Novita Sari (25), dari Tambun Selatan, Bekasi; serta Nur Ainia Eka Rahmadhyna (32), warga Tambun Selatan, Bekasi.
Sementara itu, lima korban lainnya telah lebih dahulu diserahkan kepada pihak keluarga. Jenazah para korban dibawa ke sejumlah rumah sakit di Bekasi dan sekitarnya.
Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Martinus Ginting mengatakan, para korban sebelumnya dievakuasi ke beberapa rumah sakit, yakni RSUD Kota Bekasi, Rumah Sakit Bella Bekasi, dan Rumah Sakit Bekasi Timur.
“Jenazah dari tiga rumah sakit itu sudah diserahkan kepada keluarga,” katanya.
Diketahui, kecelakaan terjadi sekitar pukul 21.00 WIB di Stasiun Bekasi Timur, melibatkan KRL Commuter Line dan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek. Peristiwa tersebut mengakibatkan puluhan penumpang luka-luka dan 15 orang meninggal dunia.
Untuk membantu proses evakuasi, Kantor SAR Jakarta, Unit Siaga SAR Bekasi, serta Basarnas Special Group mengerahkan sekitar 30 personel.
Santunan Korban Dijamin
Sementara itu, Jasa Raharja memastikan seluruh korban kecelakaan mendapatkan perlindungan.
Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan rumah sakit untuk memastikan penanganan berjalan cepat.
“Kami memastikan negara hadir memberikan perlindungan dasar bagi korban sejak awal kejadian,” ujarnya.
Korban meninggal dunia akan menerima santunan Rp 50 juta, ditambah Rp 40 juta dari Jasaraharja Putera. Sementara korban luka dijamin biaya pengobatan hingga Rp 20 juta, dengan tambahan jaminan Rp 30 juta.
Terpisah, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pemerintah akan melakukan investigasi menyeluruh atas insiden tersebut.
“Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi kami untuk terus meningkatkan keselamatan transportasi,” ujarnya.
Pemerintah juga melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan secara objektif. Sementara itu, proses evakuasi dan penanganan korban terus dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK