Buka konten ini

PELEMAHAN rupiah terhadap dolar Singapura hingga menyentuh kisaran Rp13.580 per dolar, tak serta-merta mengguncang dunia usaha di Batam. Di tengah kekhawatiran pelaku industri nasional terhadap lonjakan biaya impor, pengusaha di kawasan free trade zone (FTZ) Batam dinilai masih cukup tahan banting.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafky Rasid, menegaskan struktur bisnis Batam yang didominasi ekspor menjadi kunci utama meredam dampak gejolak nilai tukar.
“Sebagian besar produk dari Batam dijual ke luar negeri dengan pembayaran dalam mata uang asing. Jadi walaupun bahan baku impor menggunakan dolar, hasil ekspor juga diterima dalam dolar. Ini yang membuat pengusaha di Batam tidak terlalu tertekan,” ujarnya.
Kondisi tersebut menciptakan keseimbangan antara biaya dan pendapatan, sehingga risiko kerugian akibat selisih kurs dapat diminimalkan. Berbeda dengan daerah yang bergantung pada pasar domestik, pelaku usaha Batam dinilai memiliki natural hedge terhadap fluktuasi nilai tukar.
Tak hanya itu, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang memperbolehkan transaksi antarperusahaan di Batam menggunakan mata uang asing turut menjadi pelindung tambahan. Relaksasi ini memberi ruang bagi pelaku usaha menghindari risiko konversi rupiah yang fluktuatif.
“Dengan kebijakan ini, pengusaha cukup terlindungi. Transaksi bisa langsung menggunakan mata uang asing tanpa harus terkena dampak fluktuasi rupiah,” jelasnya.
Namun, perlindungan tersebut terancam berakhir. Kebijakan relaksasi penggunaan mata uang asing di kawasan FTZ Batam dijadwalkan berakhir pada Juni 2026. Apindo pun mendesak agar BI segera memperpanjang aturan tersebut.
“Di tengah tekanan global akibat konflik dan ketidakpastian ekonomi, kebijakan ini sangat dibutuhkan. Kami sudah berkomunikasi dengan BI agar bisa diperpanjang,” tegas Rafky.
Di balik pelemahan rupiah, Rafky melihat peluang lain yang tak kalah besar, yakni sektor pariwisata. Nilai tukar yang lebih rendah membuat Batam dan Kepulauan Riau semakin “murah” bagi wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura dan Malaysia.
Momentum ini dinilai tidak boleh disia-siakan. Pemerintah dan pelaku industri pariwisata didorong untuk lebih agresif mempromosikan destinasi serta menghadirkan berbagai event menarik.
“Jangan sampai wisatawan hanya datang untuk belanja karena harga lebih murah. Kita harus buat mereka betah, menikmati wisata, dan tinggal lebih lama di Batam,” katanya.
Pelemahan Bawa Dua Sisi bagi Batam
Nilai tukar rupiah tercatat melemah terhadap dolar Singapura hingga menembus Rp13.580 per dolar. Sementara nilai beli berada di kisaran Rp13.410 per dolar.
Mayoritas mata uang negara-negara Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar Singapura dan dolar AS, sebagaimana tercatat dalam laporan pasar finansial global Refinitiv, Kamis (23/4).
Berdasarkan data tersebut, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan paling tajam, yakni turun 0,82 persen ke level Rp17.310 terhadap dolar AS dan Rp13.580 terhadap dolar Singapura.
Pelemahan ini dipicu tekanan global, termasuk eskalasi konflik Iran-AS serta ketidakpastian di Selat Hormuz yang mendorong harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel.
“Ada keterkaitan langsung atas semua ini,” ujar pengusaha Batam, Paulus Amat Tantoso.
Ia menilai pelemahan rupiah membawa dua sisi bagi perekonomian Batam. Di satu sisi, sektor pariwisata dan jasa justru diuntungkan.
“Kalau rupiah melemah, turis asing merasa belanja di sini lebih murah. Akhir pekan jadi ramai, transportasi meningkat, dan transaksi di pusat perbelanjaan juga naik,” ujarnya.
Amat yang juga Ketua Asosiasi Valuta Asing (APVA) menyebut, dalam periode Januari 2025 hingga Januari 2026, rupiah melemah sekitar 15,2 persen terhadap ringgit Malaysia, 10 persen terhadap dolar Singapura, dan 3,4 persen terhadap dolar AS.
Menurutnya, kondisi ini mendorong peningkatan kunjungan wisatawan, terutama dari Singapura dan Malaysia. Sejumlah pusat perbelanjaan di Batam menjadi salah satu titik yang merasakan dampak positif tersebut.
Namun di sisi lain, pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor dan harga barang di dalam negeri. Fluktuasi nilai tukar membuat pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor menjadi lebih berhati-hati.
“Barang jadi lebih mahal. Importir juga waswas, sehingga tidak berani menambah stok dalam jumlah besar,” katanya.
Kondisi ini turut berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama jika disertai kenaikan harga minyak yang berdampak pada biaya transportasi dan distribusi barang.
Peluang dan Tantangan Industri Batam
Pengamat ekonomi yang juga akademisi, Suyono Saputra menilai pelemahan nilai tukar rupiah perlu disikapi secara hati-hati karena mengandung peluang sekaligus tantangan.
“Pelemahan yang tajam bisa menjadi sinyal tekanan struktural. Namun tidak perlu panik, karena berpotensi bersifat jangka pendek,” ujarnya.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam (UIB) ini menjelaskan, sektor manufaktur berbasis ekspor di Batam justru diuntungkan dalam jangka pendek karena harga produk menjadi lebih kompetitif di pasar global.
“Untuk sektor ekspor, ini bisa menjadi momentum positif karena produk kita lebih murah di pasar internasional,” jelas Suyono yang juga menjabat Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI) Batam tersebut.
Meski demikian, industri yang masih bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi. Hal ini berpotensi menekan margin usaha hingga mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri.
Selain sektor industri, dampak juga dapat dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan pokok. Wilayah kepulauan seperti Batam dinilai rentan terhadap lonjakan biaya logistik.
“Pemerintah perlu mengantisipasi tekanan inflasi, khususnya di sektor pangan,” ujarnya.
Langkah yang dapat dilakukan antara lain operasi pasar, menjaga ketersediaan bahan pokok, serta pemberian stimulus seperti subsidi distribusi.
Suyono menambahkan, peran Bank Indonesia sangat krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan intervensi di pasar valuta asing dan pengaturan suku bunga perlu dilakukan secara terukur agar tidak mengganggu iklim investasi dan aktivitas industri. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – CHAHAYA SIMANJUNTAK
Editor : RATNA IRTATIK