Buka konten ini

PAGI itu, pelabuhan feri Batam Centre, Kota Batam, sudah ramai. Koper-koper beroda ditarik cepat, antrean tiket mengular, dan layar jadwal keberangkatan berkedip menampilkan tujuan yang tak biasa untuk musim mudik: Singapura.
Di antara penumpang yang bersiap naik kapal, Rian—seorang pekerja di Batam—menjadi salah satu yang memilih jalur memutar untuk pulang kampung ke Makassar tahun ini. Bukan karena ingin berwisata, melainkan karena harga tiket pesawat domestik dari Batam sudah melambung terlalu tinggi.
“Kalau dari Batam langsung bisa sampai enam jutaan lebih, itu pun masih transit,” ujarnya.
Pilihannya kemudian jatuh pada jalur yang bagi sebagian orang terdengar tidak biasa: Batam–Singapura–Makassar.
Perjalanan dimulai dari pelabuhan Batam Centre menuju HarbourFront, Singapura, dengan feri yang menempuh waktu sekitar satu jam. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan menuju Bandara Changi, salah satu bandara internasional tersibuk di Asia.
Dari bandara itu, pilihan penerbangan menuju Indonesia jauh lebih banyak. Maskapai seperti Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, Batik Air, Scoot, hingga AirAsia melayani berbagai rute ke kota-kota di Indonesia.
“Dari Changi ada yang langsung ke Jakarta atau Makassar. Jadi tidak perlu transit lagi,” katanya.
Rian akhirnya mendapatkan tiket sekitar Rp4 jutaan untuk penerbangan langsung ke Makassar menggunakan maskapai berbiaya rendah. Harga itu sudah termasuk bagasi.
Jika dibandingkan dengan tiket domestik dari Batam yang bisa mencapai lebih dari Rp6 juta dengan transit, jalur memutar ini justru terasa lebih masuk akal baginya.
“Memang harus menyeberang dulu, tapi totalnya masih lebih murah,” katanya.
Lewat Johor, Lanjut Jakarta
Pilihan serupa juga dilakukan oleh sebagian warga Batam yang ingin mudik ke Pulau Jawa atau Sumatra. Bedanya, mereka memilih menyeberang ke Malaysia terlebih dahulu.
Dari Batam, penumpang bisa naik feri menuju Johor Baru. Dari sana perjalanan dilanjutkan menuju Bandara Senai, bandara internasional yang melayani penerbangan ke Jakarta.
Setibanya di Jakarta, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan penerbangan domestik menuju kota tujuan.
“Kalau dari Senai biasanya ke Jakarta dulu. Tapi sebenarnya sama saja seperti dari Batam yang kebanyakan transit di Jakarta,” ujar seorang pemudik lainnya, Annisa.
Alternatif lain adalah melalui Kuala Lumpur. Dari Johor Baru, penumpang dapat melanjutkan perjalanan darat menggunakan bus menuju Kuala Lumpur International Airport (KLIA) yang memakan waktu sekitar empat hingga lima jam.
Namun kini jalur tersebut juga semakin praktis. Beberapa maskapai sudah membuka penerbangan langsung dari Batam menuju Kuala Lumpur, seperti Batik Air dan AirAsia. Dari KLIA, penerbangan menuju berbagai kota di Indonesia tersedia hampir setiap hari.
Strategi “Backpacker” Jadi Jalan Mudik
Bagi sebagian warga Batam, strategi mudik melalui luar negeri ini sebenarnya bukan hal baru. Cara tersebut justru lahir dari pengalaman bepergian ala backpacker yang terbiasa mencari rute paling murah.
Melalui platform pemesanan tiket daring seperti Traveloka, Tiket.com, atau Trip.com, berbagai kombinasi rute penerbangan bisa ditemukan dengan mudah.
Misalnya Batam–Kuala Lumpur–Makassar, Singapura–Jakarta–Padang, atau rute lain yang menggabungkan penerbangan internasional dan domestik.
“Kalau dicari di OTA biasanya langsung muncul pilihan rute alternatif seperti itu,” ujar Rian.
Kadang hasilnya bahkan cukup mengejutkan. Dalam beberapa kasus, tiket penerbangan internasional justru lebih murah dibanding penerbangan domestik.
“Contohnya tiket Singapura ke Bali bisa lebih murah daripada Batam ke Bali, padahal dari Singapura langsung,” katanya.
Ada Syarat Penting
Meski menarik dari sisi biaya, jalur ini tetap memiliki syarat yang tidak semua orang miliki: paspor.
Pemudik juga harus mengisi dokumen kedatangan elektronik seperti SG Arrival Card (SGAC) saat masuk Singapura atau Malaysia Digital Arrival Card (MDAC) saat memasuki Malaysia.
Namun, bagi warga Batam yang sudah memiliki paspor aktif, jalur internasional ini sering kali menjadi solusi ketika tiket domestik melonjak tajam menjelang Lebaran.
Bagi Rian, perjalanan memutar itu bukan masalah besar selama bisa sampai ke kampung halaman.
“Yang penting bisa pulang Lebaran,” katanya sambil tersenyum sebelum memasuki ruang tunggu keberangkatan. (*)
Oleh: AHMADI SULTAN
Traveler sekaligus Jurnalis Batam Pos