Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Area Batam menargetkan pembangunan hingga 150 ribu sambungan jaringan gas (jargas) rumah tangga pada 2030. Program tersebut tidak hanya memperluas akses energi bagi warga, tetapi juga diproyeksikan mampu menghemat subsidi energi negara sekitar Rp79 miliar per bulan atau hampir Rp1 triliun per tahun, khusus dari wilayah Batam.
Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto, mengatakan pemasangan jargas dilakukan secara bertahap. Pada 2026, PGN membidik pembangunan 10 ribu sambungan rumah (SR). Sebelumnya, pada 2025, perusahaan telah merealisasikan 4.045 sambungan di tiga kecamatan, yakni Batu Aji, Sagulung, dan Batam Kota. Selain itu, terdapat sekitar 4.000–5.000 SR yang terbangun melalui program sebelumnya.
“Pengumpulan data calon pelanggan dan pemasangan berjalan bersamaan. Setelah 10.000 sambungan tahun ini, tahun depan penugasannya bisa lebih besar, sekitar 20.000 sampai 30.000 sambungan,” ujar Wendi, kemarin.
Saat ini, jaringan gas PGN telah menjangkau Batu Aji, Sagulung, dan Batam Kota. Ke depan, cakupan layanan akan diperluas ke Nongsa, Sekupang, serta kawasan lain yang belum terjangkau. Total perluasan diproyeksikan mencakup sekitar 160 kawasan perumahan di seluruh Batam.
Hingga kini, jumlah calon pelanggan jargas tercatat sekitar 46 ribu rumah tangga—empat kali lipat dari target pemasangan tahun ini. PGN menargetkan proses pengumpulan dan verifikasi data untuk keseluruhan target rampung paling lambat Juni 2027.
Jika seluruh program berjalan sesuai rencana, jargas di Batam diharapkan mampu menggantikan sebagian besar penggunaan LPG rumah tangga. Wendi menyebut potensi penghematan subsidi energi dari Batam saja dapat mencapai Rp79 miliar per bulan.
“Kalau dihitung, potensi penghematan subsidi bisa sekitar Rp79 miliar per bulan atau hampir Rp1 triliun per tahun. Itu baru dari Batam saja,” katanya.
Dari sisi pasokan, PGN menyiapkan pemanfaatan gas dari Natuna yang dialirkan melalui pipa West Natuna Transportation System (WNTS) ke Batam. Gas tersebut akan dimanfaatkan untuk kebutuhan pembangkit listrik PLN, rumah tangga, serta industri.
Sekitar 80 BBTUD gas direncanakan untuk kebutuhan pembangkit listrik, sedangkan 30 BBTUD dialokasikan untuk kebutuhan di Pulau Batam. Meski demikian, pasokan gas dari Sumatera Selatan tetap berjalan.
“Masuknya gas dari Natuna ini menambah pasokan, bukan menggantikan yang dari Sumatera Selatan,” jelas Wendi.
Terkait masyarakat yang masih menggunakan LPG tabung, ia menyebut tabung yang dimiliki tetap dapat dijual kembali. Pemerintah juga berencana mengalihkan distribusi LPG ke wilayah kepulauan yang hingga kini belum dapat dijangkau jaringan gas.
Konsep “Gas City” yang disematkan pada Batam menempatkan kota industri tersebut sebagai model pemanfaatan energi gas secara masif untuk rumah tangga. Selain dinilai lebih efisien dibandingkan LPG tabung, jaringan gas pipa juga diproyeksikan mengurangi ketergantungan pada distribusi logistik berbasis darat dan laut, yang selama ini menjadi tantangan di wilayah kepulauan.
“Kami mendorong percepatan di lapangan. Harapannya, Batam bisa menjadi role model nasional dalam pengembangan energi bersih dan efisien,” pungkasnya. (*)
Reporter : YASHINTA – AZIS MAULANA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO