Buka konten ini
Dia baru saja memulihkan stamina usai melahirkan si kecil. Fokusnya juga masih terbagi dengan bayi mungilnya. Namun, di Hari Bhayangkara ke-80, ia berdiri tegap memimpin ratusan personel bersenjata di Mapolda Kepri.

PAGI itu, Rabu (1/7), matahari baru saja meninggi di atas Lapangan Mapolda Kepulauan Riau. Keheningan yang sempat menyelimuti barisan ratusan personel mendadak pecah oleh sebuah lengkingan suara yang tegas, bulat, dan berwibawa.
Dengan langkah tegap yang ritmis dan jemari yang menggenggam erat sebuah pedang komando, AKBP Nanda Diana Tarulina Sihombing melangkah maju. Hari itu, di bawah tatapan mata ribuan pasang hadirin, sejarah baru sedang diukir dengan tinta emas. untuk pertama kalinya dalam sejarah Kepolisian Daerah Kepulauan Riau, seorang Polisi Wanita (Polwan) berdiri memimpin jalannya Upacara Hari Bhayangkara ke-80.
Amanah ini jelas bukan panggung sandiwara yang mudah. Di balik seragam dinas yang gagah itu, Nanda menyimpan cerita perjuangan yang tidak biasa. Perwira menengah yang kini menjabat sebagai Kasubdit Binmas Polda Kepri ini ternyata baru saja menyelesaikan masa cuti melahirkan anak keduanya.
Bayangkan saja, di saat fisiknya baru pulih dan fokusnya terbagi untuk menyusui sang buah hati, sebuah tanggung jawab besar datang mengetuk pintunya. Selama dua pekan penuh, ia harus membagi waktu—dan energi—antara rumah tangga dan lapangan upacara, menjalani latihan intensif yang menguras keringat demi sebuah penampilan yang tanpa cela.
“Awalnya pasti ada rasa grogi. Tapi begitu kaki melangkah dan saya mulai mengambil alih pasukan, semua sirna. Saya bisa mengendalikan diri dan menjalaninya dengan lebih santai,” tutur alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 2009 ini sembari melempar senyum lega usai upacara.
Bagi Nanda, memimpin upacara sebenarnya bukan barang baru. Namun, memimpin upacara sakral Korps Bhayangkara dengan memegang pedang komando adalah pengalaman pertama yang mendebarkan sekaligus membanggakan.
Ketangguhan Nanda bukanlah hasil instan yang karbitan. Mental bajanya sudah ditempa sejak ia lulus dari Akpol dan langsung dikirim ke ujung timur Indonesia, Polres Merauke, Papua. Lebih dari empat tahun di tanah Papua, ia kenyang melanglang buana dari jabatan Kepala SPK, Kanit Laka, Kanit Regident, hingga dipercaya menjadi Kapolsek Aimas di Polres Sorong. Menghadapi konflik horizontal hingga melakukan pendekatan humanis kepada masyarakat Papua telah membentuk karakternya menjadi sekokoh karang.
Bahkan, rekam jejaknya yang cemerlang pernah membawa Nanda terpilih menjadi ajudan melekat Prabowo Subianto saat Operasi Pengamanan Pemilihan Presiden 2014 silam.
Panggung Totalitas Para Polwan
Menariknya, atmosfer emansipasi di HUT Bhayangkara ke-80 ini tidak hanya berpusat pada Nanda. Jika pandangan digeser ke barisan pasukan yang berparade, ada sosok AKBP Cut Amelia yang tak kalah menyita perhatian.
Sore itu, Cut Amelia mencatatkan namanya sebagai perempuan pertama yang memimpin pasukan defile di Mapolda Kepri. Baginya, momen tahun ini terasa sangat emosional karena hampir seluruh posisi kunci perangkat upacara—mulai dari perwira upacara, komandan upacara, hingga komandan defile—diisi oleh deretan srikandi kepolisian.
“Ini benar-benar menjadi kebanggaan bagi kami semua. Semoga ke depan, Polri semakin jaya dan kehadirannya kian dicintai oleh masyarakat,” ungkap Cut Amelia dengan mata berbinar.
Kehadiran para Polwan di garda terdepan ini rupanya bukan sekadar pajangan kosmetik atau pemanis seremonial belaka. Ada pesan ideologis yang sengaja ditiupkan oleh pucuk pimpinan Polda Kepri.
Kapolda Kepri, Irjen Asep Safrudin, menegaskan bahwa penunjukan para Polwan ini adalah bukti nyata dari runtuhnya dinding sekat gender di tubuh Polri.
“Ini bagian dari semangat emansipasi dan kesetaraan gender yang riil. Kami sengaja menampilkan polisi wanita sebagai perwira, komandan upacara, komandan defile, bahkan hingga pelaku demonstrasi fisik. Kami ingin tunjukkan kepada publik bahwa perempuan Indonesia memiliki kompetensi yang setara dan mampu mengemban tugas-tugas penting selevel dengan polisi laki-laki,” tegas Irjen Asep.
Ketika upacara berakhir dan pasukan mulai dibubarkan, gema suara komando Nanda mungkin perlahan surut dari lapangan. Namun, pesan yang ditinggalkannya hari itu akan terus berdengung lama: bahwa di bawah panji Bhayangkara, ruang untuk mengabdi, memimpin, dan mencetak sejarah kini terbuka lebar bagi siapa saja—tanpa memandang gender—selama mereka memiliki nyali, dedikasi, dan hati yang tulus untuk melayani. (***)
Reporter : YASHINTA
Editor : MUHAMMAD NUR
