Buka konten ini

VIRGINIA (BP) – Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat. Pentagon mengonfirmasi seorang tentara Amerika Serikat yang sebelumnya dinyatakan hilang dalam serangan rudal Iran di Yordania telah meninggal dunia. Dengan demikian, jumlah personel militer AS yang tewas akibat serangan Iran kini menjadi tiga orang.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengidentifikasi korban sebagai Sersan Angel S. Rampersad (28) asal Ozone Park, New York. Ia diduga tewas saat serangan Iran menghantam pangkalan militer AS di Yordania pada Jumat (17/7).
Sebelumnya, Pentagon telah mengumumkan dua personel militer AS lainnya meninggal dalam serangan yang sama. Selain itu, seorang tentara Amerika juga tewas di Irak utara pada Minggu (19/7) saat melakukan peledakan terkendali terhadap drone serang satu arah milik Iran yang jatuh, sebagaimana disampaikan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Menurut Pentagon, hampir 100 personel militer AS mengalami korban jiwa maupun luka-luka dalam dua pekan terakhir akibat rangkaian serangan balasan Iran.
Di tengah meningkatnya korban, militer Amerika kembali melancarkan serangan ke sejumlah sasaran militer di Iran untuk malam ke-11 berturut-turut. Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Sebagai balasan, Iran kembali meluncurkan rudal dan drone yang menyasar pangkalan serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Yordania Cegat Empat Rudal
Eskalasi konflik juga merembet ke Yordania. Militer negara itu mengumumkan berhasil mencegat empat rudal Iran yang memasuki wilayah udaranya setelah ledakan terdengar di Kota Aqaba dan sirene peringatan dibunyikan.
Menurut kantor berita Petra, sistem pertahanan udara Yordania mendeteksi enam rudal yang ditembakkan dari Iran. Empat rudal berhasil dihancurkan, sedangkan dua lainnya jatuh di kawasan terpencil tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan.
Pemerintah Yordania memastikan ruang udara negaranya tetap berada dalam pemantauan penuh.
Media Israel, Ynet, melaporkan sebuah penerbangan Arkia dari Tel Aviv menuju Eilat terpaksa mengubah rute setelah ledakan terdengar dari arah Yordania. Sementara satu penerbangan dari Abu Dhabi menuju Tel Aviv sempat tertunda ketika masih berada di udara.
Trump Belum Mau Berunding
Di tengah memanasnya situasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Washington belum berminat membuka kembali perundingan dengan Iran sebelum Teheran menunjukkan keseriusan membahas program nuklirnya.
“Iran sangat ingin bertemu. Tetapi sampai mereka siap bertemu dengan cara yang bermakna, kami sama sekali tidak tertarik,” kata Trump saat menerima Presiden Lebanon Joseph Aoun di Gedung Putih.
Trump kembali menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ia bahkan mengklaim serangan militer Amerika telah melemahkan kemampuan Iran secara signifikan.
“Jika kami berhenti sekarang, Iran akan membutuhkan waktu 20 hingga 25 tahun untuk membangun kembali,” ujarnya.
Meski demikian, Trump menegaskan operasi militer Amerika belum berakhir. Ia bahkan mengisyaratkan kemungkinan operasi lanjutan terhadap fasilitas strategis Iran, termasuk lokasi yang diduga berkaitan dengan program nuklir.
Pekan lalu, Trump menerima paparan berbagai opsi militer, termasuk kemungkinan operasi terhadap Pulau Kharg yang menjadi terminal utama ekspor minyak Iran serta fasilitas nuklir di Pickaxe Mountain.
Konflik yang terus memburuk ini terjadi meski Amerika Serikat dan Iran sebelumnya sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu sebagai upaya menghentikan perang dan membuka jalan menuju perdamaian permanen. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK
