Buka konten ini

BELANDA menghadapi ujian berat saat bertemu Swedia pada laga kedua Grup F Piala Dunia 2026 di NRG Stadium, Houston, Minggu (21/6) dini hari WIB. Setelah gagal mengamankan kemenangan pada laga pembuka, Oranje kini dituntut meraih tiga poin demi menjaga peluang lolos ke fase gugur.
Tantangan terbesar pasukan Ronald Koeman datang dari duet tajam Alexander Isak dan Viktor Gyokeres. Keduanya sedang berada dalam performa terbaik setelah mengantar Swedia membantai Tunisia 5-1 pada laga pertama. Isak dan Gyokeres sama-sama mencetak satu gol, bahkan Isak menambah dua assist yang mengantarkannya meraih predikat Man of the Match.
Pelatih Swedia Graham Potter menilai duet tersebut masih memiliki potensi yang lebih besar. Menurut mantan pelatih Chelsea dan Brighton itu, Isak dan Gyokeres belum sepenuhnya mencapai performa terbaik saat menghadapi Tunisia.
“Mereka belum terlalu sering bermain bersama, jadi masih bisa lebih baik lagi. Mereka bekerja keras satu sama lain. Menyenangkan melihat mereka mencetak gol. Saya pikir keduanya fantastis,” ujar Potter.
Tugas berat pun berada di pundak kapten Belanda, Virgil van Dijk. Bek Liverpool itu diperkirakan kembali menjadi komando di lini belakang bersama Jan Paul van Hecke dan Micky van de Ven.
Menariknya, Van de Ven memiliki cerita tersendiri dengan Isak. Bek Tottenham Hotspur itu pernah menjadi sosok yang menyebabkan penyerang Swedia tersebut mengalami patah tulang fibula pada Desember tahun lalu. Cedera tersebut memaksa Isak absen selama sekitar tiga bulan sebelum kembali menemukan performa terbaiknya bersama tim nasional dengan torehan dua gol dan dua assist dalam tiga laga terakhir.
“Kami seharusnya menjadi pembeda. Ketika kami berdua bermain bersama, bukan berarti kami harus bermain dengan cara tertentu. Yang terpenting adalah kami berkontribusi untuk tim,” kata Isak mengenai duetnya dengan Gyokeres.
Swedia datang dengan kepercayaan diri tinggi. Kemenangan atas Belanda akan memastikan Blågult melaju ke babak 32 besar.
Sebaliknya, Belanda justru berada di bawah tekanan. Ronald Koeman mendapat kritik tajam setelah timnya gagal mempertahankan keunggulan saat ditahan Jepang 2-2 pada laga pertama. Keputusan mengurangi intensitas serangan di akhir pertandingan disebut menjadi salah satu penyebab Jepang mampu menyamakan skor pada menit ke-89.
Selain wajib menang demi menjaga asa lolos, Belanda juga mempertaruhkan rekor panjang di Piala Dunia. Oranje belum pernah kalah pada waktu normal sejak tumbang 0-1 dari Portugal di babak 16 besar Piala Dunia 2006.
Koeman menyadari besarnya tekanan yang mengiringi timnya. Karena itu, ia menegaskan Belanda harus tampil lebih baik saat menghadapi Swedia. “Saya sadar kami harus bermain lebih baik,” tegas pelatih berusia 63 tahun tersebut. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO