Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Harga minyak mentah dunia jenis Brent kembali naik menembus di atas 80 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta) per barel pada Jumat (19/6). Kenaikan ini terjadi seiring investor mempertimbangkan meningkatnya risiko geopolitik setelah batalnya perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta serangan baru Israel di Lebanon. Minyak mentah Brent diperdagangkan di sekitar 80,11 dolar AS per barel pada Jumat pukul 07.00 GMT. Di sisi lain, kondisi pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan menunjukkan perbaikan.
Harga minyak terdorong setelah pemerintah Swiss menyatakan bahwa perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Bürgenstock tidak dapat berjalan sesuai rencana. Kementerian Luar Negeri Swiss menyebut diskusi tersebut dibatalkan setelah Gedung Putih mengumumkan Wakil Presiden AS JD Vance tidak akan berangkat ke Swiss karena persoalan logistik untuk pembicaraan teknis dengan Iran belum terselesaikan.
Pembatalan tersebut memicu kekhawatiran mengenai kelanjutan proses diplomasi antara Washington dan Teheran, yang sebelumnya diharapkan dapat meredakan ketegangan berkepanjangan serta menghindari gangguan pasokan energi global.
Secara terpisah, Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan bahwa serangan bom dan artileri Israel di Kota Nabatieh dan wilayah sekitarnya menewaskan sedikitnya 24 orang serta melukai beberapa lainnya pada Jumat dini hari.
Kondisi tersebut kembali meningkatkan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Meski risiko meningkat, investor tetap mencermati tanda-tanda normalisasi arus energi melalui Selat Hormuz. Komando Pusat Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka telah mencabut pembatasan lalu lintas menuju dan dari pelabuhan serta perairan pesisir Iran.
Sementara itu, Pusat Informasi Maritim Gabungan menyarankan kapal-kapal yang melintasi selat tersebut untuk mengambil jalur lebih dekat ke garis pantai Oman guna mengurangi risiko ranjau laut.
Kapal tanker minyak mentah yang sebelumnya tertahan di jalur perairan itu mulai kembali bergerak pada Kamis. Di sisi lain, Kuwait menyatakan akan mulai meningkatkan produksi minyaknya.
Prospek perbaikan jalur pengiriman ini membatasi kenaikan harga minyak, dengan harga bahkan sempat menghapus hampir seluruh kenaikan yang tercatat sejak konflik Timur Tengah dimulai pada akhir Februari. Meski demikian, pasar masih berada dalam tren penurunan mingguan yang cukup tajam.
Iran Tunda Perundingan, Protes Aksi Israel di Lebanon
Iran menunda perundingan tingkat teknis dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat kemarin. Penundaan dilakukan sebagai bentuk protes atas pelanggaran gencatan senjata yang disebut “terus berlanjut” oleh Israel, khususnya di Lebanon selatan, menurut sejumlah sumber pemerintah Pakistan.
Para sumber menyebutkan bahwa perunding utama Iran, Bagher Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sebelumnya telah bersiap terbang ke Swiss untuk melakukan perundingan langsung dengan AS.
Namun, rencana tersebut dibatalkan pada menit terakhir setelah menerima “arahan” dari “kepemimpinan tertinggi Iran”.
Mereka tidak menjelaskan apakah arahan itu berasal langsung dari Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, yang sebelumnya disebut memiliki “pandangan berbeda” terkait kesepakatan AS–Iran untuk mengakhiri perang. Hingga kini, belum ada tanggal maupun lokasi baru yang ditetapkan untuk perundingan lanjutan.
“Pakistan sedang berkomunikasi dengan kedua pihak untuk menetapkan tanggal baru bagi perundingan tingkat teknis guna mencapai kesepakatan akhir,” kata seorang sumber yang mengetahui proses mediasi.
Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya membuka jalan bagi perundingan langsung kedua negara di Swiss pada Jumat.
Sumber tersebut menyebut Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan perjalanan ke Swiss setelah Pakistan menyampaikan keputusan Iran kepada Washington. “Logistik perundingan ini memang tidak pernah sederhana atau mudah diprediksi. Untuk saat ini, Wakil Presiden tidak akan berangkat malam ini,” kata juru bicara Gedung Putih.
Meski demikian, pihak Gedung Putih menyatakan masih berharap perundingan teknis dapat dimulai “sesegera mungkin”.
Kementerian Luar Negeri Swiss juga memastikan bahwa perundingan yang dijadwalkan pada Jumat resmi dibatalkan.
MoU Islamabad sendiri memberikan waktu 60 hari kepada kedua pihak untuk merumuskan kesepakatan final, dengan fokus utama pada program nuklir Iran, sejalan dengan pernyataan Presiden Donald Trump bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut MoU tersebut berlaku segera setelah ditandatangani dan menegaskan peran Pakistan sebagai mediator.
Ia juga menyatakan bahwa Iran dan AS akan mengambil langkah-langkah untuk membuka Selat Hormuz bagi pelayaran internasional secara penuh.
Kesepakatan itu juga mencakup penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon, serta komitmen untuk tidak menggunakan kekuatan dan menjamin kedaulatan Lebanon.
Tak lama setelah AS dan Israel memulai perang pada 28 Februari, Iran menutup Selat Hormuz. Pada 13 April, pasukan AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran sehingga pelayaran kapal dagang di jalur strategis tersebut hampir tidak memungkinkan.
Israel juga melancarkan serangan ke Lebanon yang telah menewaskan hampir 3.800 orang, termasuk warga sipil dan personel militer sejak perang AS–Iran dimulai.
Lebih dari 3.300 orang, termasuk warga sipil dan tentara, dilaporkan tewas di Iran. Sementara itu, Amerika Serikat mengonfirmasi kematian 14 personel serta kehilangan sejumlah persenjataan dan pesawat militer.
Setelah gencatan senjata pada 8 April, Pakistan menjadi tuan rumah perundingan langsung tingkat tertinggi AS–Iran pada 12–13 April. Pertemuan itu disebut sebagai kontak langsung paling signifikan sejak kedua negara memutus hubungan diplomatik pada 1979. (Anadolu)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK