Buka konten ini
Oleh:
Dr. Mohamad Gita Indrawan, Pengamat Ekonomi Universitas Batam
Suyono Saputro, Pengamat Ekonomi Universitas Internasional Batam

BATAM (BP) – Tidak semua pelaku usaha memperoleh manfaat ketika rupiah melemah. Di Batam, kondisi tersebut justru membuka persoalan lama yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi, yakni tingginya ketergantungan industri dan usaha kecil terhadap bahan baku impor. Saat nilai tukar bergejolak, biaya produksi ikut terdorong naik dan dampaknya paling cepat dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sebagai kota industri, perdagangan, dan jasa yang terhubung langsung dengan pasar internasional, Batam memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap pergerakan kurs dibanding banyak daerah lain di Indonesia.
Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat maupun mata uang utama lainnya, dampaknya tidak hanya dirasakan perusahaan besar, tetapi menjalar hingga ke pelaku usaha kecil yang berada di ujung rantai pasok.
Di satu sisi, pelemahan rupiah memang membuka peluang bagi sektor ekspor dan pariwisata. Namun di sisi lain, kondisi tersebut memperlihatkan kerentanan struktur ekonomi daerah yang masih bertumpu pada pasokan bahan baku, komponen, dan berbagai kebutuhan produksi dari luar negeri. Akibatnya, manfaat dan tekanan yang muncul tidak dirasakan secara merata.
Pengamat ekonomi Universitas Batam, Dr. Mohamad Gita Indrawan, menilai kelompok usaha yang paling rentan adalah UMKM yang berorientasi pada pasar domestik tetapi masih bergantung pada bahan baku impor.
“Dampak pelemahan rupiah terhadap keberlangsungan UMKM di Batam tidaklah tunggal. Ada yang memperoleh manfaat, tetapi lebih banyak yang merasakan tekanan karena biaya produksi meningkat,” ujarnya.
Menurut Gita, struktur ekonomi Batam yang sangat terhubung dengan perdagangan internasional membuat perubahan kurs cepat memengaruhi aktivitas usaha. Ia menyebut sebagian besar sektor industri masih mengandalkan bahan baku impor, terutama manufaktur elektronik dan galangan kapal.
“Sekitar 70 persen bahan baku industri di Batam masih diimpor. Akibatnya, UMKM yang bergerak di sektor pengolahan, pendukung manufaktur hingga perdagangan ritel ikut merasakan tekanan karena biaya bahan baku, suku cadang, dan mesin produksi meningkat,” katanya.
Tekanan tersebut dinilai lebih berat bagi UMKM dibanding perusahaan besar. Selain memiliki modal yang lebih terbatas, usaha kecil juga tidak memiliki ruang yang cukup luas untuk menyesuaikan harga jual.
Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, banyak pelaku usaha berada dalam posisi dilematis. Menaikkan harga berisiko kehilangan pelanggan, sementara mempertahankan harga berarti harus rela menerima margin keuntungan yang semakin menipis.
“Mayoritas UMKM akhirnya berada dalam posisi yang sulit. Mereka harus memilih antara mengurangi keuntungan, menaikkan harga dengan risiko kehilangan pelanggan, atau melakukan efisiensi yang terkadang mengganggu kapasitas usaha,” ujarnya.
Namun gambaran tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi seluruh UMKM di Batam. Pengamat ekonomi Universitas Internasional Batam (UIB), Suyono Saputro, melihat ada fenomena lain yang juga berkembang seiring pelemahan rupiah.
Menurut dia, posisi Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia membuat dampak pelemahan kurs berbeda dibanding daerah lain. Ketika biaya usaha meningkat bagi sebagian pelaku UMKM, Batam justru menjadi semakin murah dan menarik bagi wisatawan negara tetangga.
“Batam memiliki keunikan tersendiri. Ketika rupiah melemah, daya beli masyarakat lokal cenderung tertahan karena inflasi barang kebutuhan. Namun di sisi lain, Batam menjadi semakin menarik bagi wisatawan Singapura dan Malaysia karena biaya berbelanja dan berwisata menjadi lebih murah bagi mereka,” ujarnya.
Fenomena itu tercermin dari meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam sepanjang awal tahun ini. Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam menunjukkan, selama Januari hingga April 2026 jumlah kunjungan wisman mencapai 486.549 orang. Angka tersebut setara dengan 77,69 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepulauan Riau yang mencapai 626.278 orang.
Bagi Batam, angka tersebut bukan sekadar statistik pariwisata. Di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah, belanja wisatawan asing menjadi salah satu penopang yang membantu menjaga perputaran ekonomi daerah tetap bergerak.
Menurut Suyono, sektor yang paling menikmati kondisi tersebut adalah usaha yang berkaitan langsung dengan aktivitas wisata, seperti kuliner, transportasi, jasa perjalanan, spa, hotel, hingga usaha oleh-oleh.
“Secara agregat, UMKM Batam tidak kolaps. Mereka sedang melakukan reorientasi pasar untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekonomi,” katanya.
Ia menambahkan, rumah makan seafood, kuliner khas daerah, hingga usaha oleh-oleh relatif lebih diuntungkan karena sebagian besar bahan baku yang digunakan berasal dari dalam negeri. Dengan demikian, tekanan akibat pelemahan kurs tidak sebesar usaha yang masih mengandalkan bahan baku impor.
“Wisatawan asing membawa daya beli yang lebih kuat. Ketika mereka datang lebih banyak, sektor-sektor yang berkaitan dengan pariwisata otomatis ikut bergerak,” ujarnya.
Meski demikian, Gita mengingatkan bahwa manfaat dari sektor wisata tidak serta-merta menghapus tekanan yang dirasakan mayoritas UMKM. Sebab, sebagian besar usaha kecil masih harus berhadapan dengan kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional.
Menurutnya, jika pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya bisa lebih serius daripada sekadar kenaikan biaya produksi.
“Jika pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan, imported inflation akan terus terjadi. Harga bahan baku dan komponen produksi semakin mahal, sementara kemampuan pasar menyerap kenaikan harga memiliki batas. Dalam jangka panjang kondisi ini bisa mengurangi daya saing industri, menekan profitabilitas UMKM, meningkatkan risiko kredit bermasalah, bahkan berpotensi memicu pengurangan tenaga kerja,” ujarnya.
Suyono juga melihat gejala serupa mulai dirasakan pelaku usaha di lapangan. Dalam beberapa waktu terakhir, keluhan mengenai kenaikan biaya usaha disebut semakin sering muncul, terutama akibat meningkatnya ongkos logistik dan distribusi.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak hanya dialami usaha yang menggunakan bahan baku impor. Pelaku usaha yang memperoleh pasokan dari daerah lain di Indonesia juga ikut terdampak karena biaya transportasi dan distribusi mengalami penyesuaian.
“Mayoritas UMKM belum memiliki sistem perlindungan terhadap fluktuasi nilai tukar maupun kontrak harga jangka panjang dengan pemasok. Karena itu mereka sangat rentan ketika rupiah melemah,” katanya.
Karena itu, kedua pengamat sepakat bahwa penguatan daya tahan UMKM tidak bisa hanya mengandalkan bantuan permodalan. Perbaikan struktur ekonomi daerah harus menjadi agenda yang lebih besar.
Gita menilai penguatan kandungan lokal dan rantai pasok domestik menjadi solusi jangka panjang yang paling mendesak agar Batam tidak terus-menerus rentan terhadap gejolak kurs global.
“Industri Batam tidak boleh terus bergantung pada impor. Penguatan rantai pasok lokal harus menjadi prioritas agar ekonomi daerah memiliki fondasi yang lebih kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Suyono menekankan pentingnya langkah konkret yang lebih dekat dengan kebutuhan pelaku usaha, mulai dari subsidi distribusi, kemudahan akses bahan baku alternatif, hingga perluasan pasar bagi produk UMKM.
“Lonjakan keluhan dari pelaku UMKM ini harus menjadi perhatian serius. Dukungan pemerintah diperlukan agar usaha kecil tetap mampu bertahan dan menjaga roda perekonomian daerah tetap bergerak,” katanya.
Pada akhirnya, pelemahan rupiah menghadirkan dua wajah berbeda bagi Batam. Di satu sisi, biaya usaha meningkat dan menekan sebagian besar UMKM yang bergantung pada impor. Namun di sisi lain, arus wisatawan asing yang terus mengalir menciptakan peluang baru bagi sektor-sektor yang mampu menangkap pasar tersebut.
Persoalannya kini bukan lagi sekadar bertahan dari gejolak kurs, melainkan seberapa cepat UMKM dan perekonomian Batam beradaptasi agar tidak terus menjadi korban setiap kali nilai tukar berfluktuasi. (*/EUSEBIUS SARA, RENGGA YULIANDRA)