Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Setelah sempat melonjak hingga 32 persen dan memicu keluhan masyarakat kelas menengah, harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kini berpeluang kembali turun. Sinyal tersebut muncul setelah harga minyak dunia anjlok menyusul meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan penurunan harga minyak mentah dunia akan berdampak langsung terhadap harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax, Dex, dan sejumlah produk bahan bakar lain yang mengikuti mekanisme pasar.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia mengatakan harga BBM nonsubsidi pada prinsipnya bergerak sejalan dengan harga minyak dunia. Karena itu, ketika harga minyak turun, harga jual BBM juga berpotensi mengalami penyesuaian.
“Ketika minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM nonsubsidi juga akan turun. Begitu juga sebaliknya,” ujar Dwi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/6).
Menurut dia, penyesuaian harga merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar yang berlaku pada BBM nonsubsidi.
Jika harga tidak mengikuti perkembangan harga minyak dunia, maka dapat mengganggu keberlanjutan pasokan energi nasional.
Dwi menjelaskan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara selama ini juga melakukan penyesuaian harga BBM mengikuti dinamika harga minyak global. Namun pemerintah Indonesia sempat menahan kenaikan harga demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.
“Tapi seiring perjalanan waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis membuat pelaku usaha harus menyesuaikan dengan harga ekonomi yang terjadi,” ujarnya.
Penurunan harga minyak dunia menjadi kabar yang ditunggu sebagian pengguna BBM nonsubsidi.
Pasalnya, kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni lalu memicu keluhan masyarakat, terutama kelompok kelas menengah yang sehari-hari bergantung pada kendaraan pribadi untuk bekerja dan beraktivitas.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau sekitar 32 persen di sejumlah daerah di Indonesia. Di Batam, harga Pertamax yang sebelumnya Rp11.750 per liter melonjak menjadi Rp15.500 per liter.
Kenaikan tersebut turut berlaku pada sejumlah produk BBM nonsubsidi lainnya.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai kenaikan BBM nonsubsidi sebelumnya berpotensi menekan konsumsi rumah tangga.
Kepala Center of Macroeconomic and Finance Indef, Rizal Taufiqurahman mengatakan kelompok masyarakat menengah menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
“Pendapatan masyarakat menengah akan terus tertekan seiring kebijakan-kebijakan yang notabene kurang memiliki buffer terhadap rumah tangga,” ujar Rizal.
Menurut dia, apabila pengguna Pertamax beralih ke Pertalite untuk menghemat pengeluaran, tekanan inflasi memang dapat diredam. Namun di sisi lain, pemerintah berpotensi menghadapi peningkatan beban subsidi dan kompensasi energi.
“Kalau terjadi migrasi konsumen dari BBM nonsubsidi ke Pertalite maka akan meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi pemerintah,” katanya.
Keluhan juga datang dari masyarakat pengguna Pertamax. Fahrudin Dwi Mukti, 30, pegawai swasta di Jakarta yang menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi utama, mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang terjadi secara mendadak.
“Naiknya hampir 32 persen sekaligus itu terasa berat. Dari Rp12.300 langsung ke Rp16.250 per liter bukan kenaikan kecil,” ujarnya.
Mukti mengatakan dirinya memahami kenaikan harga dipengaruhi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Namun sebagai pengguna kendaraan harian, kenaikan tersebut langsung berdampak pada pengeluaran rumah tangga.
Ia memperkirakan biaya BBM keluarganya bertambah antara Rp140 ribu hingga Rp200 ribu per bulan karena ia dan istrinya menggunakan dua sepeda motor untuk aktivitas sehari-hari.
“Belum lagi efek dominonya nanti. Harga kebutuhan pokok biasanya ikut naik,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Muhamad Akmal, 21.
Menurut dia, kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong lebih banyak masyarakat beralih ke Pertalite sehingga antrean di SPBU menjadi semakin panjang.
“Menyusahkan rakyat kelas menengah yang awalnya memilih Pertamax agar antreannya lebih cepat. Sekarang mau tidak mau ikut antre Pertalite,” ujarnya.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia kembali turun hingga berada di bawah level USD80 per barel pada perdagangan Rabu (17/6).
Penurunan tersebut dipicu meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka peluang normalisasi pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Data Investing mencatat harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level USD76,28 per barel. Sementara minyak mentah Brent ditutup pada posisi USD79,13 per barel.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun sebelumnya menjelaskan kenaikan harga Pertamax dilakukan berdasarkan formula harga yang ditetapkan pemerintah dan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga keekonomian energi.
“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya.
Meski demikian, hingga saat ini pemerintah belum mengumumkan kapan penyesuaian harga BBM nonsubsidi akan dilakukan meski banyak pihak menantikannya.
Namun, dengan tren penurunan harga minyak dunia yang terus berlangsung, peluang turunnya harga Pertamax dan produk nonsubsidi lainnya semakin terbuka. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK