Buka konten ini

MEKSIKO (BP) – Gemuruh sorak puluhan ribu penonton membelah langit Mexico City ketika lampu-lampu Estadio Azteca meredup, Kamis (11/6) malam waktu setempat. Di stadion legendaris yang telah menjadi saksi dua final Piala Dunia sebelumnya, Piala Dunia FIFA 2026 resmi dibuka. Bukan sekadar seremoni, pembukaan ini menandai babak baru dalam sejarah sepak bola dunia: untuk pertama kalinya, Piala Dunia digelar oleh tiga negara sekaligus Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada.
Upacara pembukaan berlangsung megah namun sarat makna. Perpaduan teknologi visual, musik global, dan kekayaan budaya Amerika Utara disuguhkan dalam durasi yang padat, emosional, dan penuh simbol persatuan. Di hadapan dunia, FIFA mengirimkan pesan kuat: sepak bola bukan hanya soal pertandingan, melainkan ruang pertemuan lintas bangsa dan identitas.
Presiden FIFA Gianni Infantino dalam pidato pembukaannya menegaskan bahwa turnamen ini dirancang untuk melampaui sekat-sekat geografis dan politik.
“Piala Dunia 2026 adalah perayaan persatuan. Untuk pertama kalinya, tiga negara membuka pintu mereka bersama-sama demi satu tujuan: menyatukan dunia melalui sepak bola,” ujarnya.

Azteca, Stadion yang Tak Pernah Tua
Pemilihan Estadio Azteca sebagai lokasi pembuka bukan kebetulan. Stadion ini menjadi satu-satunya di dunia yang tiga kali menggelar laga pembuka Piala Dunia. Di sinilah legenda seperti Pelé dan Diego Maradona pernah mengukir sejarah. Kini, Azteca kembali hidup—dengan wajah baru hasil renovasi besar-besaran—tanpa kehilangan ruh masa lalunya.
Seorang panitia lokal penyelenggara menyebut pembukaan di Azteca sebagai penghormatan bagi sejarah sepak bola dunia.
“Kami ingin dunia mengingat bahwa sepak bola modern tumbuh dari stadion-stadion bersejarah seperti Azteca. Di sinilah masa lalu dan masa depan bertemu,” katanya.
Budaya, Musik, dan Bahasa Universal
Pertunjukan budaya menjadi jantung pembukaan. Ribuan penari memenuhi lapangan, menampilkan narasi tentang peradaban kuno Mesoamerika, migrasi, hingga dinamika modern Amerika Utara. Kostum warna-warni dan iringan musik tradisional berpadu dengan dentuman elektronik modern—sebuah metafora tentang tradisi yang beradaptasi dengan zaman.
Panggung kemudian diambil alih para musisi dunia. Shakira, yang kembali tampil di seremoni Piala Dunia, menyebut keterlibatannya sebagai kehormatan tersendiri.
“Sepak bola selalu punya cara menyatukan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Itulah kekuatan terbesar Piala Dunia,” ucapnya usai tampil.
Format Terbesar Sepanjang Sejarah
Piala Dunia 2026 menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan diikuti 48 tim. Penambahan peserta membawa konsekuensi pada jumlah pertandingan, durasi turnamen, serta tantangan logistik lebih kompleks.
FIFA menilai format baru ini sebagai langkah strategis untuk memperluas akses dan representasi global.
“Lebih banyak negara berarti lebih banyak mimpi yang bisa terwujud. Inilah wajah baru sepak bola dunia,” kata perwakilan FIFA.
Sepak Bola sebagai Diplomasi
Di tengah ketegangan global yang masih membayangi banyak kawasan, Piala Dunia 2026 kembali menegaskan peran sepak bola sebagai alat diplomasi lunak. Stadion berubah menjadi ruang dialog tanpa kata, tempat bendera berkibar berdampingan dan perbedaan dilebur dalam sorak yang sama.
Seorang pengamat sepak bola Amerika Latin menilai pesan itu terasa kuat. “Piala Dunia ini tidak hanya berbicara soal siapa yang menang, tetapi bagaimana dunia bisa duduk bersama selama 90 menit,” ujarnya. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR