Buka konten ini

Gangguan kesuburan bukan hanya masalah perempuan. Sekitar 30 persen kasus infertilitas berasal dari faktor pria. Pasangan suami-istri dianjurkan menjalani pemeriksaan bersama agar penyebabnya dapat diketahui lebih cepat dan peluang memiliki buah hati semakin besar.
KEINGINAN memiliki anak adalah harapan banyak pasangan suami istri. Namun, tidak semua pasangan bisa segera dikaruniai keturunan, meski telah menikah selama bertahun-tahun. Fenomena ini dalam dunia medis disebut infertilitas, atau gangguan kesuburan.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Hendry Liem, Sp.OG, menjelaskan bahwa infertilitas dibagi menjadi dua jenis, yakni infertilitas primer dan infertilitas sekunder.

“Infertilitas primer terjadi pada pasangan yang belum pernah punya anak, dan sudah berhubungan seksual secara teratur 2–3 kali seminggu tanpa kontrasepsi selama 12 bulan, namun belum juga hamil. Sementara infertilitas sekunder adalah pasangan yang sebelumnya sudah memiliki anak, namun setelah itu tidak bisa hamil lagi selama lebih dari tiga tahun,” jelasnya.
Bukan Hanya Perempuan, Laki-laki Juga Bisa Jadi Penyebab
Menurut dokter Hendry, gangguan kesuburan tidak semata-mata disebabkan oleh perempuan. Banyak masyarakat masih menganggap bahwa masalah kesuburan hanya milik perempuan. Padahal, sekitar 30 persen gangguan kesuburan berasal dari pihak laki-laki, 30 persen dari perempuan (kondisi alat reproduksi), 30 persen dari gangguan hormon.
”Sisanya 10 persen karena penyebab yang tidak diketahui,” ungkapnya.
Oleh karena itu, keduanya merupakan faktor yang saling mendukung. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan pada kedua pihak (suami dan istri). ”Namun, secara sederhana, pemeriksaan dapat dimulai dari pihak laki-laki karena prosedurnya lebih mudah, yaitu dengan melakukan analisis sperma,” kata dr Hendry.
Pada laki-laki, pemeriksaan awal biasanya dilakukan melalui analisis sperma. Dari situ akan diketahui kualitas, jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma serta adakah infeksi. “Kalau jumlahnya kurang, gerakannya lambat, atau bentuknya abnormal, bisa jadi itu yang menyebabkan pasangan sulit hamil,” katanya.
Untuk perempuan, pemeriksaan lebih kompleks karena melibatkan banyak aspek. Mulai dari struktur rahim, dinding rahim, leher rahim, hingga saluran tuba.
”Kami periksa kondisi dinding vaginanya terlebih dahulu, apakah terdapat kekakuan atau tidak. Setelah itu, kami evaluasi juga kondisi rahim. Kami pastikan apakah ada polip atau tidak di dalam rahim. Jika terdapat polip, kami akan lihat sejauh mana pengaruhnya terhadap kemungkinan sperma bisa menempel dan terjadi pembuahan. Selanjutnya, kami periksa apakah ada tumor di rahim. Setelah itu, pemeriksaan dilanjutkan lebih dalam lagi, yakni ke saluran tuba falopi,” jelas dokter Hendry.
Saluran tuba harus dipastikan tidak tersumbat. Kalau tersumbat kiri dan kanan, maka pembuahan secara alami tidak akan terjadi. ”Dalam kasus seperti ini, biasanya langsung kami arahkan untuk program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF),” jelasnya.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan Rumah Sakit Awal Bros Batam
Foto: Humas Rumah Sakit Awal Bros untuk Batam Pos
Hormon dan Gaya Hidup Juga Berperan
Faktor lain yang sangat penting adalah gangguan hormonal, terutama yang disebabkan oleh Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) atau Sindrom Ovarium Polikistik.
Gangguan fungsi hormon ini diklasifikasikan oleh WHO menjadi empat kategori, yaitu kelas 1, kelas 2, kelas 3, dan kelas 4. Jenis gangguan hormonal yang paling sering ditemukan adalah WHO kelas 2, yaitu kondisi yang dikenal sebagai PCOS.
“Ini adalah gangguan hormon yang sangat umum, memengaruhi 60–65 persen perempuan yang mengalami gangguan haid atau kesuburan,” katanya.
PCOS bisa dikenali dari siklus haid tidak teratur, haid terlalu lama atau terlalu singkat, nyeri hebat saat haid, jerawat berlebih, dan berat badan berlebih. “Ini bisa menjadi tanda awal bagi perempuan untuk waspada,” lanjutnya.
Tak hanya itu, pola hidup yang tidak sehat juga menjadi pemicu gangguan kesuburan. Konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, obesitas, kurang olahraga, serta stres kronis bisa memperparah kondisi PCOS.
“Banyak perempuan datang dengan keluhan haid tidak teratur, ternyata setelah dicek berat badannya jauh dari normal. Di sinilah pentingnya pola makan sehat, olahraga teratur, dan menjaga berat badan ideal,” tegasnya.
Kualitas Sperma Bisa Menurun Karena Panas
Pada laki-laki, selain gaya hidup seperti merokok dan stres, lingkungan kerja juga punya dampak besar. Misalnya, pria yang bekerja di lingkungan bersuhu tinggi seperti sopir kendaraan besar, mekanik, atau sering sauna, bisa mengalami penurunan kualitas sperma.
“Suhu panas yang terus-menerus mengenai area testis bisa mengganggu produksi sperma. Jadi kami juga menanyakan pekerjaan suami ketika memeriksa pasangan infertil,” ujarnya.
Solusi: Dari Seks Terjadwal Hingga Bayi Tabung
Pengobatan gangguan kesuburan tidak bisa disamakan antar pasangan. Menurut dr. Hendry, solusi yang ditawarkan akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan, usia pasangan, dan kesiapan dana.
“Ada tiga opsi utama dalam program hamil. Pertama, hubungan seks terjadwal saat masa subur. Kedua, inseminasi intrauterin (IUI), yaitu memasukkan sperma yang sudah dicuci langsung ke rahim. Ketiga, bayi tabung (IVF/ In Vitro Fertilization),” jelasnya.
Inseminasi bertujuan untuk memperpendek jarak tempuh sperma menuju sel telur agar proses pembuahan dapat terjadi lebih cepat. Prosedur ini diawali dengan pencucian sperma atau mosiniform, untuk menghasilkan sperma dengan kualitas terbaik.
Setelah melalui proses tersebut, sperma dimasukkan ke dalam rahim menggunakan selang khusus yang melewati vagina hingga mencapai bagian atas rahim. Di sanalah sperma kemudian disemprotkan. Tujuan utamanya adalah mempersingkat jalur sperma jika dibandingkan dengan proses pembuahan melalui hubungan seksual secara alami.
”Kalau melakukan hubungan seks secara normal, maka spermanya itu berjalan dari mulut rahim sampai ke tuba falopi itu bisa membutuhkan waktu 30 sampai 45 menit, bahkan bisa mencapai 1 jam atau lebih. Namun melalui inseminasi, jarak tempuh bisa dipersingkat.Dalam proses inseminasi, sperma bisa mencapai tuba dalam waktu sekitar 5 hingga 15 menit,” ungkap dokter Hendry.
Keuntungan lain dari inseminasi adalah dapat meminimalkan kematian sperma selama perjalanan menuju tuba falopi. Dalam proses alami, sperma membutuhkan waktu lebih lama dan harus melewati banyak tahapan—mulut rahim, leher rahim, badan rahim, hingga puncak rahim—sebelum akhirnya masuk ke tuba kanan atau kiri. Di sepanjang jalur itu, banyak sperma yang mati karena terjebak atau tidak mampu melanjutkan perjalanan. Akibatnya, jumlah sperma yang berhasil mencapai tuba dalam kondisi hidup pun sangat sedikit. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : TUNGGUL MANURUNG