Buka konten ini

SYDNEY (BP) – Perjalanan Anthony Sinisuka Ginting pada musim 2026 masih belum menunjukkan konsistensi yang diharapkan. Hingga pertengahan tahun, pencapaian terbaik tunggal putra Indonesia itu adalah, menembus semifinal Swiss Open 2026. Saat itu, Ginting harus mengakui keunggulan wakil Jepang, Yushi Tanaka, dengan skor 17-21, 12-21.
Setelah hasil positif di Swiss Open, performa Ginting justru mengalami penurunan. Pada Orleans Masters 2026, peraih medali perunggu Olimpiade Tokyo tersebut terhenti di babak 16 besar. Hasil serupa kembali didapat saat tampil pada Malaysia Masters 2026.
Tren kurang memuaskan berlanjut ketika Ginting tampil di Thailand Open 2026. Atlet asal Cimahi, Jawa Barat, itu harus angkat koper lebih cepat setelah tersingkir pada babak pertama.
Hasil negatif kembali menghampirinya di Australian Open 2026. Bertanding pada babak 32 Besar di Sydney, kemarin (10/6), Ginting takluk dari wakil Tiongkok, Dong Tian Yao, dalam dua gim langsung dengan skor 15-21, 15-21.
Ginting mengakui lawannya tampil lebih baik sepanjang pertandingan.
Meski sempat unggul pada awal gim, ia kesulitan keluar dari tekanan setelah Dong mengubah pola permainan. ”Memang hari ini (kemarin, red) lawan bisa bermain lebih baik dibanding saya. Dari pertama sempat unggul juga. Tapi dia coba buat mengubah strategi dan pola permainan, dia lebih menekan dan saya nggak bisa keluar dari tekanan,” ujar Ginting.
Selain tekanan dari lawan, Ginting menilai dirinya terlalu banyak melakukan kesalahan sendiri, terutama pada poin-poin krusial. ”Saya banyak melakukan kesalahan sendiri apalagi waktu poin-poin yang menentukan. Jadi waktu unggul, waktu poinnya sama dan poin-poin kritis, kurang bisa memegang permainan dengan baik,” katanya.
Pada gim kedua, Ginting sempat bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 15-15. Namun momentum tersebut tidak bertahan lama setelah pertandingan sempat terhenti cukup lama akibat protes dari lawan. ”Ada momentum saya bisa mengejar poin 15-15 di gim kedua. Tapi permainan terhenti cukup lama karena dia protes, jadi pas mulai lagi ritmenya tidak sama lagi,” ungkapnya. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO