Buka konten ini

BATAM (BP) – Ambisi Batam menjadi pusat industri perawatan pesawat terbang di kawasan Asia Pasifik terus dipercepat. Badan Pengusahaan (BP) Batam menyiapkan tambahan lahan seluas 100 hektare di sekitar Bandara Internasional Hang Nadim untuk memperkuat ekosistem industri Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) sekaligus membuka ruang bagi pengembangan industri dirgantara yang lebih luas.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi BP Batam untuk menangkap peluang bisnis perawatan pesawat yang bernilai miliaran dolar setiap tahun. Selain itu, pengembangan kawasan MRO juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan industri penerbangan nasional terhadap fasilitas perawatan pesawat di luar negeri.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan Batam saat ini tengah membangun fondasi yang lebih kuat agar mampu bersaing dengan pusat-pusat industri MRO regional seperti Singapura dan Malaysia.
Menurut dia, pengembangan kawasan industri penerbangan menjadi salah satu prioritas utama dalam agenda investasi Batam.
“Penyelenggaraan IMROS 2026 di Batam menjadi momentum penting untuk menunjukkan kesiapan Batam sebagai destinasi investasi industri penerbangan dan MRO,” kata Fary, Rabu (10/6).
Fary menjelaskan kawasan di sekitar Bandara Hang Nadim merupakan aset strategis yang akan dikembangkan sebagai klaster industri aerospace dan perawatan pesawat.
Kawasan tersebut didukung keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang saat ini menjadi basis operasional Batam Aero Technic (BAT), anak usaha Lion Group yang bergerak di bidang perawatan pesawat.
Menurut dia, kapasitas kawasan tersebut terus diperluas seiring meningkatnya kebutuhan industri penerbangan.
Dalam jangka panjang, kawasan itu diproyeksikan mampu menyerap hingga 16 ribu tenaga kerja. Saat ini, sekitar 5.000 hingga 6.000 pekerja telah terserap dalam berbagai aktivitas industri penerbangan yang beroperasi di lokasi tersebut.
“Kami juga menyiapkan tambahan lahan sekitar 100 hektare yang dapat dimanfaatkan investor untuk pengembangan fasilitas MRO maupun industri pendukung penerbangan lainnya,” ujarnya.
BP Batam berharap ketersediaan lahan baru tersebut mampu menarik lebih banyak investor global yang bergerak di bidang perawatan pesawat, manufaktur komponen, hingga teknologi dirgantara.
Pengembangan kawasan itu tidak hanya difokuskan pada layanan perawatan pesawat komersial, tetapi juga pembentukan rantai pasok industri aerospace yang lebih lengkap dan terintegrasi.
Investasi Melonjak
Di tengah upaya membangun kawasan industri dirgantara, Batam juga mencatat pertumbuhan investasi yang cukup agresif. BP Batam mengklaim realisasi investasi pada awal 2025 meningkat hingga 105 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Peningkatan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah pusat mendorong Batam sebagai model percepatan investasi nasional.
Fokus pemerintah tidak hanya menarik modal baru, tetapi juga memangkas berbagai hambatan birokrasi yang selama ini kerap dikeluhkan pelaku usaha.
Fary mengatakan sejumlah kewenangan perizinan yang sebelumnya harus diproses di kementerian kini mulai didelegasikan kepada BP Batam. Skema tersebut memungkinkan investor mengurus berbagai dokumen secara langsung di Batam tanpa harus melalui proses panjang di Jakarta.
“Arahan Presiden adalah memberikan kepastian regulasi dan mempercepat pelayanan sehingga investor tidak lagi menghadapi proses yang panjang,” katanya.
Kemudahan tersebut mencakup pengurusan dokumen lingkungan hidup serta sejumlah izin pemanfaatan ruang yang kini dapat diproses lebih cepat.
Pemerintah berharap penyederhanaan birokrasi mampu meningkatkan daya saing Batam di tengah persaingan investasi yang semakin ketat di kawasan Asia Tenggara.
Bertumpu pada Logistik dan Konektivitas
Selain ketersediaan lahan dan kemudahan perizinan, BP Batam menilai keunggulan utama Batam terletak pada posisi geografisnya yang berada di jalur perdagangan internasional.
Kedekatan dengan Singapura serta akses langsung ke jalur pelayaran global menjadi modal penting bagi industri yang sangat bergantung pada kecepatan distribusi suku cadang dan komponen pesawat.
Karena itu, penguatan konektivitas antara kawasan industri, pelabuhan, dan bandara menjadi fokus utama pengembangan berikutnya.
Infrastruktur logistik yang efisien dinilai menjadi syarat mutlak bagi industri MRO yang mengandalkan ketepatan waktu dan kecepatan layanan.
BP Batam meyakini kombinasi kawasan industri yang terintegrasi, akses logistik yang kuat, serta penyederhanaan regulasi akan menjadi faktor penentu dalam menarik investasi baru.
Jika seluruh rencana tersebut berjalan sesuai target, Batam berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri perawatan pesawat dan aerospace terbesar di kawasan Asia Pasifik. (*)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : RATNA IRTATIK