Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Iran bagian selatan, Rabu (11/6) dini hari. Serangan tersebut memicu aktivasi sistem pertahanan udara Iran dan memperbesar kekhawatiran akan munculnya eskalasi baru di kawasan.
Media Iran melaporkan ledakan dan hantaman proyektil terjadi di beberapa lokasi di Provinsi Hormozgan. Kantor berita Tasnim menyebut wilayah Sirik, Pulau Qeshm, dan Minab menjadi sasaran serangan yang dilakukan jet tempur AS.
Sedikitnya enam ledakan terdengar di kawasan yang menjadi target. Televisi pemerintah Iran juga mengonfirmasi sebuah proyektil menghantam Kota Sirik. Selain itu, sejumlah proyektil dilaporkan jatuh di Pulau Qeshm, meski dampak kerusakan dan korban belum diumumkan secara resmi.
Menyusul serangan tersebut, sistem pertahanan udara Iran langsung diaktifkan di Bandar Abbas, Qeshm, dan Sirik guna mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan.
Secara terpisah, kantor berita Mehr melaporkan empat ledakan terjadi di Pelabuhan Jask dan satu ledakan lainnya terdengar di pinggiran Kota Bandar Abbas.
Perkembangan itu terjadi setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan dimulainya operasi militer yang disebut sebagai tindakan membela diri terhadap Iran. Menurut CENTCOM, operasi tersebut dilancarkan sebagai respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS dalam peristiwa sebelumnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran menuding Washington telah merusak upaya diplomatik yang selama ini dibangun untuk menjaga stabilitas kawasan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei mengatakan pelanggaran gencatan senjata yang berulang, pesan yang saling bertentangan, serta perubahan sikap Amerika Serikat telah memperburuk situasi.
“Proses diplomasi tidak berlangsung dalam ruang hampa. Untuk memajukan setiap proses negosiasi atau diplomasi diperlukan kondisi yang cukup kondusif agar diplomasi dapat berjalan,” kata Baghaei dikutip ANTARA dari Anadolu.
Ia menilai tindakan AS justru menghambat proses diplomasi melalui perubahan tuntutan yang terus terjadi serta pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dibangun sebelumnya.
“Sayangnya, Amerika Serikat melalui pesan-pesan kontradiktif yang disampaikannya, perubahan berulang dalam posisi dan tuntutannya, dan yang terburuk, pelanggaran gencatan senjata yang berulang, telah merusak proses diplomatik,” ujarnya.
Baghaei juga menuding Israel turut memperkeruh situasi melalui pelanggaran gencatan senjata yang terus terjadi di Lebanon.
“Setiap proses diplomatik akan dirugikan oleh penggunaan kekuatan dan tindakan yang melanggar hukum,” tegasnya.
Pemerintah Iran menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi sebelum menentukan langkah terkait proses negosiasi berikutnya. Namun hingga kini Teheran belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai sikap yang akan diambil menyusul serangan terbaru tersebut. (*)
Laporan : ANTARA
Editor : RATNA IRTATIK