Buka konten ini

NONGSA (BP) – Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kepulauan Riau terus mendorong terwujudnya program nasional Zero Over Dimension and Over Load (ODOL) di wilayah Kepri. Upaya tersebut dilakukan secara bertahap melalui pendekatan persuasif kepada para pengusaha angkutan barang, sekaligus memperkuat berbagai program keselamatan transportasi darat.
Kepala BPTD Kelas II Kepri, Dini Kusumahati Damarintan, mengatakan keberhasilan program Zero ODOL membutuhkan dukungan seluruh pihak, terutama pelaku usaha angkutan barang yang selama ini menjadi pengguna utama jalan.
“Kami mengajak seluruh pemilik kendaraan barang dan para pengusaha angkutan untuk bersama-sama menyukseskan program Zero ODOL. Ini demi keselamatan kita bersama,” ujar Dini, Senin (8/6).
Menurut dia, ODOL tidak hanya berkaitan dengan kendaraan yang membawa muatan berlebih (overload), tetapi juga kendaraan yang dimensinya telah dimodifikasi melebihi ketentuan (over dimension). Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko keselamatan karena memperluas titik buta atau blind spot kendaraan.
Kendaraan dengan dimensi berlebih, kata Dini, berpotensi membahayakan pengguna jalan lain, terutama pengendara sepeda motor yang berada di sisi maupun belakang kendaraan.
“Kalau kendaraan terlalu panjang, pengemudi tidak bisa melihat seluruh area di sekeliling kendaraan melalui kaca spion. Ini sangat berpotensi menimbulkan kecelakaan,” katanya.
Sebagai langkah awal, BPTD Kepri akan menggelar pertemuan dengan para pemilik perusahaan angkutan barang pada 10 hingga 11 Juni mendatang. Dalam forum tersebut, pemerintah akan menyampaikan kebijakan Zero ODOL sekaligus memberikan pemahaman terkait risiko dan dampak kendaraan over dimension maupun overload.
Dini menegaskan, pendekatan yang dilakukan saat ini masih bersifat edukatif dan persuasif. Pemerintah ingin membangun kesadaran bersama sebelum penerapan aturan dilakukan secara penuh.
Selain mendorong Zero ODOL, BPTD Kepri juga terus meningkatkan fasilitas keselamatan jalan. Salah satunya melalui pemasangan Alat Pemantul Cahaya (APC) pada kendaraan barang agar lebih mudah terlihat pada malam hari.
“Kami sudah mulai membagikan sekaligus memasang alat pemantul cahaya pada kendaraan. Tujuannya agar kendaraan lebih terlihat saat malam hari sehingga dapat mengurangi risiko kecelakaan,” ujarnya.
Tak hanya itu, BPTD juga melengkapi berbagai fasilitas keselamatan di jalan nasional, mulai dari rambu lalu lintas, marka jalan, hingga penerangan jalan umum (PJU) secara bertahap.
Dini menambahkan, peningkatan keselamatan transportasi darat menjadi fokus utama BPTD di seluruh wilayah kerja Kepri yang meliputi Batam, Tanjungpinang, Bintan, Karimun, Lingga, Natuna, dan Anambas.
Sebagai bagian dari upaya membangun budaya keselamatan sejak dini, BPTD Kepri juga menggelar program edukasi yang melibatkan sekitar 500 guru pendidikan anak usia dini (PAUD) dari berbagai daerah di Kepri.
Melalui kegiatan tersebut, para guru dibekali materi dan metode pembelajaran untuk mengenalkan budaya tertib berlalu lintas kepada anak-anak sejak usia dini.
“Kami ingin keselamatan menjadi budaya yang ditanamkan sejak kecil. Karena itu kami berkolaborasi dengan para guru agar pesan-pesan keselamatan dapat disampaikan secara menarik kepada anak-anak,” katanya. (***)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO