Buka konten ini

BATAM (BP) – Pelaku industri pariwisata dan pemerintah daerah menyambut antusias rencana Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengusulkan kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) bagi delapan negara dan satu kelompok pemegang Permanent Resident (PR) Singapura. Kebijakan tersebut dinilai bisa menjadi titik balik kebangkitan pariwisata Kepulauan Riau (Kepri) yang selama ini mengandalkan wisatawan mancanegara sebagai motor utama pertumbuhan.
Delapan negara yang diusulkan memperoleh fasilitas bebas visa meliputi Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, India, Belarusia, Kazakhstan, dan Makau. Selain itu, pemerintah juga mengusulkan perluasan fasilitas bagi pemegang PR Singapura.
Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Kepri, Eva Betty, menilai kebijakan tersebut merupakan kabar baik yang telah lama dinantikan pelaku usaha pariwisata. Menurutnya, kemudahan akses masuk akan membuka peluang besar bagi agen perjalanan untuk kembali menggarap pasar-pasar potensial yang selama ini terkendala urusan administrasi visa.
”Pastinya ASITA sangat berterima kasih kalau ini sampai terlaksana. Kami menganggap ini peluang yang sangat menguntungkan bagi travel-travel di Kepri. Ini yang ditunggu-tunggu selama ini,” kata Eva, Jumat (5/6).
Menurut dia, Kepri menjadi salah satu daerah yang paling berpeluang menikmati dampak positif kebijakan tersebut. Letak geografis yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia menjadikan Batam dan Bintan sebagai gerbang internasional yang mudah diakses wisatawan asing.
Eva bahkan optimistis Kepri dapat kembali menjadi salah satu destinasi unggulan nasional apabila kebijakan bebas visa benar-benar diterapkan.
”Kepri bisa kembali memimpin pariwisata Indonesia karena kita memiliki akses masuk wisatawan yang paling mudah. Harapan kami kebijakan ini segera terlaksana sehingga mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, wisatawan asal Jepang, Korea Selatan, Australia, dan India selama ini memiliki potensi pasar yang besar. Namun, peluang tersebut belum tergarap maksimal karena masih adanya hambatan administrasi perjalanan, termasuk pengurusan visa.
Padahal, pelaku industri pariwisata mengaku sudah siap menyambut pasar tersebut. Berbagai paket wisata telah disusun sesuai karakter masing-masing negara.
Wisatawan asal Australia, Jepang, dan Korea Selatan misalnya, dikenal memiliki minat tinggi terhadap sport tourism, terutama golf. Batam dan Bintan dinilai memiliki keunggulan karena memiliki sejumlah lapangan golf bertaraf internasional yang selama ini menjadi daya tarik utama.
Sementara itu, wisatawan dari India dan Tiongkok lebih banyak mencari pengalaman leisure tourism, mulai dari wisata pantai, kuliner, belanja, hingga wisata keluarga.
”Kalau Australia, Jepang, dan Korea lebih minat sport tourism seperti golf. Sedangkan India dan China lebih ke leisure,” jelas Eva.
Selain menjadi destinasi utama, Batam juga diperkirakan tetap berperan sebagai pintu masuk wisatawan menuju berbagai destinasi lain di Kepri, khususnya Bintan yang dikenal dengan kawasan resor internasional dan wisata baharinya.
ASITA memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri pada 2026 akan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Jika kebijakan bebas visa terealisasi, lonjakan kunjungan diprediksi bisa mencapai 35 persen.
”Peningkatan kunjungan pastinya tahun 2026 lebih tinggi dibandingkan 2025. Apalagi kalau bebas visa ini benar-benar terlaksana, kenaikannya bisa mencapai 35 persen,” katanya.
Dukungan serupa datang dari Pemerintah Kota Batam. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan pihaknya mendukung penuh usulan tersebut karena dinilai dapat membuka kembali pasar wisatawan yang belum pulih sepenuhnya sejak pandemi Covid-19.
Menurut Ardi, sebelum pandemi, wisatawan asal Korea Selatan, Jepang, India, dan Tiongkok menjadi salah satu penyumbang kunjungan terbesar ke Batam. Namun hingga kini jumlahnya belum kembali ke level sebelum pandemi.
”Kami memang sejak lama berharap ada relaksasi aturan visa. Sebelum Covid-19, wisatawan dari Korea, Jepang, India, dan China cukup besar datang ke Batam. Karena itu kami mendukung penuh usulan yang sedang diperjuangkan Kementerian Pariwisata,” katanya.
Dari seluruh negara yang masuk dalam daftar usulan, Korea Selatan dan Jepang dinilai menjadi pasar yang paling potensial untuk Batam. Ardi menyebut jumlah kunjungan wisatawan Korea saat ini masih jauh di bawah capaian sebelum pandemi.
Menurutnya, kunjungan wisatawan Korea ke Batam saat ini diperkirakan berada di kisaran 100 ribu orang per tahun. Padahal, sebelum pandemi jumlahnya pernah mencapai sekitar 500 ribu wisatawan.
”Korea salah satu pasar yang sangat potensial. Dulu jumlah kunjungannya sangat besar dan sekarang belum kembali seperti sebelumnya. Karena itu kalau ada kemudahan visa tentu peluangnya sangat besar,” ujarnya.
Ardi menegaskan Batam dalam kondisi siap apabila kebijakan bebas visa diterapkan. Berbagai infrastruktur dan fasilitas pendukung pariwisata telah tersedia, mulai dari pelabuhan internasional, bandara, hotel, restoran, pusat hiburan, hingga fasilitas kesehatan.
Selain itu, layanan keimigrasian, bea cukai, karantina, serta keamanan wisatawan juga telah berjalan untuk mendukung kenyamanan wisatawan selama berada di Batam.
”Kalau dari sisi kesiapan daerah, Batam sudah siap. Baik pelabuhan, bandara, imigrasi, hotel, restoran, rumah sakit hingga polisi pariwisata semuanya sudah tersedia untuk melayani wisatawan yang datang,” katanya.
Bagi Batam dan Kepri, kebijakan bebas visa bukan hanya soal meningkatnya jumlah wisatawan asing. Lebih dari itu, kebijakan tersebut berpotensi menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah, mulai dari sektor perhotelan, restoran, transportasi, pusat perbelanjaan, hingga pelaku usaha mikro dan kecil.
Karena itu, pelaku industri pariwisata dan pemerintah daerah berharap pemerintah pusat segera merealisasikan usulan tersebut. Semakin mudah akses masuk ke Indonesia melalui Batam dan Kepri, semakin besar pula peluang daerah ini kembali menjadi salah satu gerbang utama wisatawan mancanegara di Indonesia. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK