Buka konten ini

KASUS keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Kabupaten Kepulauan Anambas mulai menemukan titik terang. Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap adanya kandungan boraks hingga bakteri berbahaya dalam makanan yang dikonsumsi korban.
Insiden yang terjadi pada 15 April lalu itu kini tercatat telah menimpa 162 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan.
Menu yang dikonsumsi saat kejadian meliputi telur kecap, tumis sayur, nasi putih, dan tempe goreng.
Ketua Tim Investigasi BGN, Arie Karimah Muhammad, menjelaskan uji sampel dilakukan melalui dua metode, yakni rapid test oleh Dinas Kesehatan Anambas pada hari kejadian serta pengujian lanjutan oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Batam.
Hasil rapid test menunjukkan adanya kandungan boraks pada sejumlah menu makanan, dengan kadar berkisar antara 100 hingga 5.000 mg/L.
“Kandungan boraks ditemukan pada telur kecap, tempe goreng, dan tumis sayur,” ujar Arie, Minggu (3/5).
Menurutnya, temuan tersebut tergolong tidak lazim. Pasalnya, bahan makanan seperti sayur, telur, dan tempe umumnya tidak memerlukan tambahan bahan pengawet kimia.
“Biasanya boraks digunakan pada makanan seperti mi atau bakso untuk memberikan tekstur kenyal, bukan pada lauk seperti ini. Ini yang menjadi perhatian kami,” tegasnya.
Tak hanya itu, hasil uji laboratorium BPOM Batam juga menemukan cemaran bakteri berbahaya dalam makanan.
Bakteri *Escherichia coli* (E. coli) terdeteksi pada telur kecap, air dapur, serta sisa makanan PAUD/TK, dengan kadar tertinggi pada telur. Bakteri ini umumnya berasal dari kotoran manusia atau hewan dan dapat memicu gangguan pencernaan hingga infeksi serius.
Sementara itu, bakteri *Bacillus cereus* ditemukan pada nasi putih. Bakteri ini kerap muncul pada makanan yang tidak disimpan dengan baik dan dapat menghasilkan racun penyebab keracunan.
“Temuan ini menunjukkan adanya masalah dalam pengolahan maupun penyimpanan makanan,” jelas Arie.
BGN menyatakan masih melakukan investigasi lanjutan untuk memastikan sumber kontaminasi dan pihak yang bertanggung jawab.
Sebagai langkah awal, dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Air Asuk diputuskan ditutup sementara hingga waktu yang belum ditentukan.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Anambas, Feri Oktavia, mengungkapkan pencemaran bakteri bisa terjadi karena berbagai faktor.
Mulai dari bahan baku yang sudah terkontaminasi, proses memasak yang tidak matang sempurna, hingga kontaminasi silang antara bahan mentah dan makanan siap saji.
Selain itu, kesalahan dalam penyimpanan makanan—seperti suhu yang tidak sesuai dan kondisi kebersihan yang buruk—juga menjadi pemicu utama berkembangnya bakteri.
“Ini menandakan ada kelalaian dalam penyimpanan atau pengamanan bahan makanan di gudang,” ujar Feri.
Ia juga menyoroti proses distribusi makanan yang dinilai belum memenuhi standar keamanan.
Pengantaran makanan menggunakan kapal pompong tanpa penutup disebut berpotensi mempercepat pertumbuhan bakteri karena terpapar panas matahari.
“Pengantaran dari dapur ke Air Nangak menggunakan pompong yang tidak tertutup. Kalau darat masih sedikit terlindungi,” jelasnya. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY