Buka konten ini
BATAM (BP) – Badan Pengusahaan (BP) Batam kembali menghidupkan rencana pengembangan transportasi massal berbasis Bus Rapid Transit (BRT) dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) sebagai upaya menjawab kebutuhan mobilitas warga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kota.
Kepala Pusat Perencanaan Program Strategis BP Batam, Harry Prasetyo Utomo, mengatakan saat ini rencana tersebut masih berada pada tahap survei lapangan yang dilakukan bersama tim teknis.
“Tim masih survei sampai besok. Tadi sudah ke bandara dan pelabuhan,” ujarnya, Kamis (23/4).
Menurut Harry, BP Batam tengah memperbarui kajian yang sebelumnya telah disusun pada 2018. Kajian tersebut kini dihidupkan kembali dengan penyesuaian terhadap kebutuhan dan perkembangan Kota Batam saat ini, dengan dukungan dari Kementerian Perhubungan.
“Dulu kita sudah punya kajian 2018, sekarang kita up lagi dan disokong Kementerian Perhubungan,” katanya.
Ia menjelaskan, pengembangan BRT tidak dirancang secara terpisah, melainkan akan terintegrasi dengan kawasan strategis seperti pelabuhan dan bandara. Dengan demikian, sistem transportasi massal diharapkan dapat langsung terkoneksi dengan pusat-pusat aktivitas utama.
“Kita buat paralel dengan pengembangan pelabuhan dan bandara,” ujarnya.
Selain itu, Batam juga disebut tengah bersaing dengan sejumlah kota besar lain, seperti Surabaya, untuk memperoleh dukungan program nasional dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Perhubungan dan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah.
“Kita coba jadi lokasi percontohan nasional,” kata Harry.
Sebelumnya, rencana pengembangan BRT dan kawasan TOD ini juga telah dibahas dalam rapat koordinasi bersama Kementerian Perhubungan RI pada Rabu (22/4). Dalam pertemuan tersebut, konsep TOD diarahkan sebagai langkah strategis untuk menciptakan sistem transportasi yang efisien, nyaman, dan terjangkau.
Konsep Transit Oriented Development sendiri menekankan integrasi antara sistem transportasi umum dan tata ruang kota. Di Batam, pendekatan ini akan difokuskan pada konektivitas kawasan industri, pariwisata, pelabuhan, dan bandara.
Melalui integrasi tersebut, pemerintah berharap mobilitas masyarakat menjadi lebih mudah, biaya transportasi lebih efisien, serta dapat mendorong aktivitas ekonomi secara berkelanjutan.
“Pengembangan kawasan berorientasi transit menjadi bagian dari komitmen menghadirkan sistem transportasi yang modern, terintegrasi, dan ramah masyarakat,” ujar Harry.
Lebih lanjut, ia menegaskan tujuan utama pengembangan BRT dan TOD adalah menjadikan Batam sebagai kota dengan sistem mobilitas yang tertata, efisien, serta mendukung iklim investasi.
“Kami ingin memastikan Batam tumbuh sebagai kota maju dengan mobilitas yang tertata, efisien, serta mampu mendukung investasi dan kenyamanan warga,” katanya.
Meski demikian, hingga kini BP Batam belum menetapkan jadwal pasti pembangunan fisik BRT. Pihaknya masih menunggu hasil survei serta dukungan konkret dari pemerintah pusat sebelum masuk ke tahap implementasi.
Namun, dengan kembali dihidupkannya kajian tersebut serta adanya sinyal dukungan dari kementerian terkait, proyek BRT Batam dinilai mulai bergerak menuju tahap yang lebih serius setelah sempat lama tertunda. (*)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO