Buka konten ini

BATAM (BP) – Kenaikan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Dexlite dan Pertamina Dex memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha logistik di Batam.
Lonjakan harga yang terjadi dalam waktu singkat itu dinilai berpotensi mengguncang rantai distribusi barang di wilayah kepulauan.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, Yasser Hadeka Daniel, mengatakan kenaikan harga BBM hampir pasti akan berdampak pada tarif jasa logistik, terutama pada perusahaan jasa pengurusan transportasi (JPT) atau freight forwarding.
“Dengan kondisi seperti ini, pelaku logistik akan menyesuaikan tarif. Perkiraan sementara, kenaikan bisa berada di kisaran 30 hingga 40 persen,” ujarnya, Kamis (23/4).
Menurut dia, meski belum ada kesepakatan kolektif antar pelaku usaha, tekanan biaya operasional yang meningkat membuat penyesuaian tarif sulit dihindari. BBM, khususnya untuk armada angkutan barang, menjadi komponen biaya paling dominan dalam struktur logistik.
Sebagai wilayah kepulauan, Batam sangat bergantung pada pasokan barang dari luar daerah. Kondisi ini membuat biaya logistik sangat sensitif terhadap perubahan harga energi.
Yasser menjelaskan, dampak kenaikan tarif logistik berpotensi merambat hingga ke tingkat distributor dan pada akhirnya dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang, termasuk kebutuhan pokok.
“Ketika tarif kami naik, hampir pasti akan diteruskan ke distributor, dan akhirnya memengaruhi harga di pasar,” katanya.
Sejauh ini belum ada laporan resmi dari asosiasi distributor terkait dampak langsung. Namun, pelaku usaha menilai efek berantai sulit dihindari jika kondisi ini terus berlanjut.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi sendiri tergolong signifikan. Harga Dexlite dan Pertamina Dex melonjak dari kisaran Rp14 ribuan menjadi Rp24 ribuan per liter, atau naik hampir Rp10 ribu. Lonjakan ini membuat beban operasional transportasi meningkat drastis dalam waktu singkat.
Pelaku usaha berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk meredam tekanan biaya agar stabilitas harga barang dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Biaya Pengiriman Material Terdampak
Kenaikan harga BBM juga mulai dirasakan sektor industri galangan kapal. Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Kepri menilai lonjakan biaya energi berdampak langsung pada biaya pengiriman material.
Sekretaris DPC Iperindo Kepri, Mariati, mengatakan sebagian besar bahan baku industri galangan masih bergantung pada pasokan luar daerah maupun impor, sehingga sangat sensitif terhadap kenaikan ongkos transportasi.
“Ketika ongkos angkut naik, maka biaya impor material juga ikut meningkat dan itu langsung dirasakan perusahaan galangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut terjadi di tengah lesunya permintaan pembangunan kapal baru. Saat ini, sebagian besar galangan hanya menyelesaikan proyek lama, sementara pesanan baru belum signifikan.
Pelaku usaha berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas biaya operasional agar industri tetap bertahan di tengah tekanan yang ada. (*)
Reporter : AZIS MAULANA – EUSEBIKUS SARA
Editor : RATNA IRTATIK