Buka konten ini

PERISTIWA keracunan makanan yang menimpa pelajar Anambas ternyata meninggalkan dampak psikologis bagi para pelajar. Sejumlah siswa di Kecamatan Siantan Tengah dilaporkan mengalami trauma dan enggan kembali mengonsumsi makanan dari program MBG.
Pantauan di SD Negeri 001 Air Asuk menunjukkan sebagian siswa memilih tidak menyentuh makanan yang disediakan. Beberapa di antaranya bahkan mengaku masih takut setelah mengalami atau menyaksikan kejadian tersebut.
“Iya kemarin sampai diinfus, sekarang tak mau lagi makan MBG,” ujar salah satu siswa.
Siswa lain yang tidak terdampak langsung juga mengaku khawatir setelah melihat teman-temannya jatuh sakit.
“Lihat kawan-kawan muntah-muntah dan diinfus, jadi takut. Orang tua juga melarang,” katanya.
Kepala SD Negeri 001 Air Asuk, Herman, membenarkan adanya trauma di kalangan siswa.
“Sebagian besar memang trauma. Kami sudah mengimbau wali murid, dan BGN juga sudah turun ke sekolah untuk evaluasi,” ujarnya.
Meski demikian, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan normal. Namun, sejumlah orang tua memilih menghentikan sementara konsumsi MBG bagi anak-anak mereka.
Herman menambahkan, pihak sekolah tidak bisa menghentikan program tersebut secara sepihak karena merupakan program nasional.
“Kami menunggu hasil penyelidikan agar ada kepastian. Harapannya, kepercayaan masyarakat bisa kembali pulih,” katanya.
Ia juga berharap pengawasan terhadap kualitas makanan semakin diperketat agar kejadian serupa tidak terulang.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) masih menunggu hasil uji laboratorium dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengungkap penyebab keracunan massal yang dialami 155 pelajar dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepulauan Anambas.
BGN telah menurunkan tim investigasi ke lokasi, Kamis (23/4), yang dipimpin Arie Karimah Muhammad. Tim langsung meninjau Dapur MBG Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah, serta fasilitas kesehatan yang menangani korban.
Pemeriksaan dilakukan menyeluruh, mulai dari dapur produksi, proses pemorsian, hingga pengelolaan limbah. Tim juga berkoordinasi dengan tenaga medis di Puskesmas Siantan Tengah dan RSUD Palmatak.
“Kami sudah menerima informasi awal dari rumah sakit, tetapi hasil tersebut tidak bisa dipublikasikan karena menyangkut rahasia medis. Kami menunggu hasil resmi dari BPOM,” ujar Arie.
Ia menjelaskan, hasil uji BPOM dinilai lebih akurat karena mampu mendeteksi bakteri maupun zat kimia dalam makanan. Hasil tersebut nantinya akan dicocokkan dengan gejala yang dialami para pelajar.
“Menu saat itu antara lain telur kecap, sayur tumis, tempe goreng, dan buah kelengkeng. Semua akan dianalisis untuk mengetahui sumber penyebabnya,” jelasnya.
Menurut Arie, kemungkinan penyebab keracunan bisa berasal dari kontaminasi bakteri maupun zat kimia.
“Kalau dari zat kimia, bisa jadi dari penggunaan pupuk berlebih. Kalau bakteri, bisa dari kebersihan pengolahan atau sumber air,” katanya.
Sementara itu, operasional dapur MBG Air Asuk untuk sementara ditutup hingga hasil investigasi keluar. Namun, BGN memastikan tidak akan langsung menutup permanen.
“Kalau bisa diperbaiki, akan kita beri kesempatan. Tapi jika kesalahan terulang, baru akan ditutup permanen,” tegas Arie. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY