Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Indonesia dinilai sebagai negara yang cukup tangguh dalam menghadapi gejolak harga energi global. Penilaian ini disampaikan oleh JPMorgan, perusahaan jasa keuangan dan bank investasi asal Amerika Serikat.
Dalam laporan berjudul Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis pada 21 Maret 2026, analis Michael Cembalest mengkaji 52 negara dengan konsumsi energi terbesar. Negara-negara tersebut mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi dunia.
Berdasarkan indikator Total Protection Factor, yang mengukur tingkat perlindungan suatu negara terhadap fluktuasi harga minyak dan gas global, Indonesia menempati posisi kedua dunia, di bawah Afrika Selatan. Sementara itu, jika dilihat dari kombinasi rendahnya ketergantungan impor dan tingginya ketahanan energi, Indonesia berada di peringkat ketiga global.
Cembalest menyebut kekuatan utama Indonesia terletak pada sumber energi domestik. Indonesia merupakan eksportir batu bara termal terbesar di dunia serta produsen gas alam terbesar ke-13 secara global, dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 2.465 miliar meter kubik pada 2024.
Selain itu, keberagaman bauran energi nasional—seperti tenaga air, panas bumi, dan biodiesel—membuat sistem energi Indonesia lebih tahan terhadap gejolak pada satu jenis komoditas. JPMorgan juga mencatat nilai Insulation Factor Indonesia mencapai 77 persen, salah satu yang tertinggi di dunia. Angka ini menunjukkan sebagian besar kebutuhan energi nasional dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Kondisi tersebut berbeda dengan negara seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan yang sangat bergantung pada impor energi.
Meski demikian, sejumlah tantangan tetap ada. Produksi minyak dalam negeri yang terus menurun, meningkatnya konsumsi energi, serta ketergantungan pada pembayaran impor dalam dolar AS menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Selain itu, potensi kenaikan subsidi energi juga menjadi perhatian jika harga global tetap tinggi.
Sementara itu, praktisi energi dan infrastruktur Tommy Jamail Jr. menilai sistem energi Indonesia cukup kuat menghadapi dinamika global, termasuk dampak konflik geopolitik terhadap harga minyak dunia. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI