Buka konten ini

BATAM (BP) – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai menyalakan alarm inflasi di Batam. Sektor transportasi dan logistik menjadi yang paling cepat terdampak, dengan efek berantai yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan kebutuhan pokok.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan dampak riil kenaikan BBM nonsubsidi masih dalam tahap pencatatan di lapangan.
“Pengaruhnya masih kami catat. Belum bisa disimpulkan karena masih menunggu data yang masuk,” ujarnya, Selasa (21/4).
Ia menegaskan, BPS tidak membuat proyeksi inflasi, melainkan menghitung berdasarkan data faktual. Karena itu, dampak kenaikan energi baru akan terlihat setelah data inflasi terkumpul secara menyeluruh.
“BPS hanya mencatat dan menghitung sesuai kondisi di lapangan. Kami tidak mengeluarkan proyeksi,” tambahnya.
Meski belum ada angka pasti, Eko menyebut sektor transportasi menjadi yang paling rentan karena bergantung langsung pada BBM. Dampak tersebut kemudian merembet ke biaya logistik dan distribusi.
“Transportasi paling cepat terdampak. Dari situ akan berlanjut ke biaya distribusi barang,” jelasnya.
Kenaikan biaya distribusi ini berpotensi mendorong penyesuaian harga di tingkat pedagang, termasuk bahan pokok. Namun, dampaknya belum sepenuhnya terlihat karena kenaikan BBM nonsubsidi baru terjadi pada pertengahan April 2026.
“Pengaruhnya kemungkinan baru terlihat pada data inflasi April yang dirilis awal Mei,” katanya.
BPS Batam terus memantau perkembangan harga di lapangan, sementara pelaku usaha diimbau mengantisipasi kenaikan biaya operasional.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafki Rasyid, menilai kenaikan BBM nonsubsidi akan menekan biaya logistik yang menjadi komponen utama industri.
“Kalau biaya logistik naik, harga produk ekspor ikut naik. Kalau harga naik, permintaan bisa turun, dan produksi ikut tertekan,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi menurunkan daya saing produk Batam di pasar internasional. Pelaku usaha pun berharap kenaikan biaya tidak terlalu tinggi agar tidak menambah beban industri.
Rafki juga mengingatkan dampak yang lebih luas jika kenaikan harga energi berlanjut, apalagi jika merembet ke BBM subsidi.
“Kalau sampai ke BBM subsidi, dampaknya akan jauh lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.
Saat ini, dunia usaha masih bersikap wait and see sambil memantau perkembangan harga energi global dan kebijakan pemerintah.
Tak Ingin Dampak Melebar
Lonjakan harga BBM nonsubsidi secara retaik, khususnya Dexlite dan Pertamina Dex, mulai memicu kekhawatiran di Batam. Kenaikan harga solar nonsubsidi ini dinilai akan menghantam sektor logistik dan berdampak langsung pada harga barang.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan pemerintah tidak ingin dampak tersebut melebar tanpa solusi.
“Kita akan buka dialog bersama Disperindag dan Pertamina terkait kenaikan BBM,” ujarnya.
Dialog tersebut juga akan melibatkan pelaku usaha logistik, termasuk Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), untuk mencari langkah antisipasi.
Sebelumnya, harga Pertamina Dex melonjak dari Rp14.800 menjadi Rp24.000 per liter, sementara Dexlite naik dari Rp14.500 menjadi Rp24.150 per liter.
Ketua DPC ALFI Batam, Yasser Hadeka Daniel, mengatakan pihaknya sempat menahan kenaikan tarif. Namun, lonjakan harga BBM membuat beban operasional sulit dikendalikan.
“Kami sudah berusaha tidak menaikkan tarif, tapi kondisi sekarang semakin berat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar kebutuhan Batam masih bergantung pada pasokan dari luar daerah dan impor, sehingga biaya logistik sangat sensitif terhadap kenaikan BBM.
Sebagai gambaran, ongkos angkut rute Batu Ampar–Mukakuning yang sebelumnya sekitar Rp900 ribu kini melonjak menjadi Rp1,8 juta per perjalanan.
Meski berbagai efisiensi telah dilakukan, pelaku usaha menilai kenaikan tarif distribusi sulit dihindari. ALFI pun memberikan kelonggaran kepada anggotanya untuk menyesuaikan tarif.
Dalam jangka pendek, dampak akan terasa pada ongkos distribusi. Namun dalam jangka panjang, masyarakat berpotensi menghadapi kenaikan harga sembako akibat mahalnya biaya angkut.
Tekanan biaya juga datang dari sektor pelayaran. Kenaikan tarif kapal pandu tunda diperkirakan akan semakin menambah beban logistik di Batam. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – M SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK