Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Puluhan penumpang KMP Bahtera Nusantara 01 rute Tanjunguban–Kuala Maras (Matak) hingga Natuna mengeluhkan buruknya pelayanan selama pelayaran, Selasa (14/4).
Alih-alih mendapatkan perjalanan yang nyaman, sejumlah penumpang justru harus duduk dan tidur di emperan dek kapal karena tidak kebagian kursi, meski telah membeli tiket lebih awal. Keluhan utama muncul dari ketidaksesuaian antara jumlah tiket yang terjual dengan ketersediaan tempat duduk di dalam kapal.
Sejumlah penumpang mengaku telah memesan tiket secara online jauh hari sebelum keberangkatan. Namun, setibanya di kapal, kursi yang diharapkan tidak tersedia.
“Sudah pesan online, tapi tidak sesuai harapan. Bahkan petugas bilang siapa cepat dia dapat tempat,” ujar salah satu penumpang, Dion.
Kondisi ini memicu kekecewaan penumpang yang menilai pengelola kapal tidak profesional dalam mengatur layanan. Mereka juga menyoroti dugaan adanya perlakuan tidak adil oleh petugas saat proses check-in.
Akibat keterbatasan kursi, sebagian penumpang terpaksa duduk di area yang tidak semestinya, bahkan dinilai berisiko terhadap keselamatan selama perjalanan.
Tak hanya di atas kapal, keluhan juga datang dari pelayanan di pelabuhan. Penumpang mengaku harus mengantre dalam kondisi hujan deras tanpa fasilitas yang memadai.
“Kami kehujanan saat antre hingga naik kapal. Fasilitas pelabuhan sangat minim,” tambah Dion.
Para penumpang mendesak PT ASDP Indonesia Ferry dan instansi terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan transportasi laut.
Mereka menilai pelayanan publik semestinya mengacu pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, yang menjamin kenyamanan, keamanan, dan kepastian bagi pengguna jasa.
Sementara itu, Supervisi ASDP, Ainul, mengakui adanya kekurangan dalam manajemen pelayanan, khususnya pada sistem penjualan tiket rute Tanjunguban–Matak.
“Memang ada kekurangan dalam pelayanan pembelian tiket. Ini menjadi evaluasi kami ke depan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lonjakan jumlah penumpang yang tidak sebanding dengan kapasitas kapal, serta belum optimalnya pengaturan tiket dan tempat duduk menjadi penyebab utama permasalahan.
Ainul menegaskan pihaknya berkomitmen melakukan pembenahan, baik dari sisi sistem penjualan tiket maupun pengaturan kapasitas penumpang. “Kami akan perbaiki agar tidak ada lagi masalah penumpang tidak mendapatkan seat,” tegasnya.
Meski begitu, ia juga mengungkapkan bahwa di lapangan masih ditemukan penumpang yang memaksakan diri naik meskipun kapasitas kursi telah penuh.
“Masih ada penumpang yang tetap ingin berangkat walau sudah kami sampaikan kursi habis. Ini juga menyulitkan pengaturan di kapal,” jelasnya.
ASDP menilai diperlukan kesadaran bersama dari masyarakat untuk mematuhi aturan demi menjaga kenyamanan dan keselamatan selama pelayaran.
Diharapkan, evaluasi dan pembenahan yang dilakukan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kapal Roro di rute Tanjunguban–Matak ke depannya. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY