Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Program Sekolah Rakyat sudah resmi bergulir. Program ini diharapkan bisa memutus mata rantai kemiskinan ekstrem. Meskipun baru berjalan, akses lapangan kerja bagi para lulusan Sekolah Rakyat harus mulai dipikirkan sejak sekarang.
Saat ini, sebanyak 100 titik Sekolah Rakyat sudah beroperasi. Dalam operasionalnya didukung oleh 2.400 guru dan 4.400 tenaga pengajar. Sementara pada bulan September nanti, ditargetkan 65 titik Sekolah Rakyat lainnya akan menyusul beroperasi. Presiden Prabowo sendiri menargetkan 200 Sekolah Rakyat beroperasi pada tahun depan.
Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Cecep Darmawan, mengatakan Sekolah Rakyat adalah terobosan Prabowo untuk anak-anak dari kalangan masyarakat ekonomi lemah. Menurut Cecep, masyarakat miskin harus memiliki peluang transformasi untuk memperbaiki kehidupan. Salah satu instrumen kunci melepas lingkaran kemiskinan adalah pendidikan.
“Kita perlu apresiasi Presiden yang terlihat sangat serius mengeksekusi program Sekolah Rakyat, hal ini tidak mudah,” kata Cecep dalam keterangannya, Selasa (26/8).
Menurut Cecep, impian memutus kemiskinan absolut dengan pendidikan bisa gagal memberi dampak, tepatnya ketika lulusan Sekolah Rakyat tidak dipersiapkan untuk terserap dalam ruang lingkup bidang kerja yang jelas.
Oleh karena itu, kata Cecep, lintas kementerian harus mempersiapkan lapangan kerja yang seluas-luasnya bagi siswa Sekolah Rakyat. “Kondisi saat ini banyak lulusan SMK atau SMA, bahkan sarjana, menganggur. Mereka pengangguran terdidik karena tidak ada lapangan kerjanya,” jelasnya.
Untuk itu, Cecep mengatakan Kementerian Ketenagakerjaan juga harus menyiapkan lulusan Sekolah Rakyat agar siap bersaing di pasar kerja. Ia menambahkan, untuk memutus rantai kemiskinan absolut, bukan hanya dengan mengirim anak-anak dari kalangan miskin bersekolah di Sekolah Rakyat.
Namun, orang tua peserta didik juga harus didampingi untuk meningkatkan kesejahteraan. “Sebab, kalau hanya anaknya yang disekolahkan di Sekolah Rakyat, itu tidak akan berdampak signifikan nanti,” kata Cecep.
Selain itu, ia menilai para siswa Sekolah Rakyat nantinya harus inklusif. Sebaiknya jangan ada penyeragaman kemampuan, sebab pada dasarnya setiap anak memiliki kemampuan berbeda. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG