Buka konten ini

BATAM (BP) – Fenomena sekolah yang menjadikan kelulusan ke perguruan tinggi negeri (PTN) sebagai tolok ukur utama keberhasilan menuai kritik. Anggota Komisi IV DPRD Kepulauan Riau, Ririn Warsiti, menilai praktik tersebut berpotensi menimbulkan tekanan psikologis bagi siswa.
Menurut Ririn, publikasi nama-nama siswa yang lolos PTN memang sah sebagai bentuk apresiasi. Namun, hal itu menjadi persoalan ketika dijadikan satu-satunya indikator kesuksesan.
“Setiap akhir semester atau tahun ajaran, banyak sekolah mempublikasikan siswa yang lolos PTN. Itu baik, tapi jadi masalah ketika itu dianggap satu-satunya ukuran keberhasilan,” ujarnya saat ditemui di SMKN 7 Batam, Kamis (2/4).
Ia menilai pendekatan tersebut secara tidak langsung membentuk standar sempit tentang makna sukses di dunia pendidikan. Padahal, setiap siswa memiliki potensi dan jalur masa depan yang berbeda.
“Banyak siswa yang memilih langsung bekerja, magang, atau menempuh jalur pendidikan lain. Mereka juga berhasil, hanya saja tidak mendapat pengakuan yang sama,” katanya.
Ririn mengingatkan, jika kondisi ini terus berlangsung, siswa yang tidak lolos PTN berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri. Mereka bisa merasa tertinggal, bahkan gagal, meski telah menyelesaikan pendidikan dengan baik.
Ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk tekanan sosial yang kerap tidak disadari.
“Ada tekanan simbolik. Siswa melihat siapa yang dirayakan dan siapa yang tidak. Ini bisa berdampak pada mental mereka,” jelasnya.
Komisi IV DPRD Kepri, lanjut Ririn, mendorong Dinas Pendidikan dan pihak sekolah untuk mulai mengubah pola pendekatan tersebut dengan memberikan apresiasi yang lebih inklusif.
“Sekolah harus menjadi ruang yang menghargai keberagaman potensi.
Jangan sampai pendidikan justru membatasi pilihan masa depan anak-anak,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran guru dan orang tua dalam membangun perspektif yang lebih sehat terkait makna kesuksesan.
Menurutnya, keberhasilan tidak bisa diukur hanya dari satu jalur pendidikan formal.
“Kita perlu membangun ekosistem pendidikan yang lebih adil dan manusiawi, yang mengakui setiap anak punya jalan suksesnya masing-masing,” pungkasnya. (*)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : GUSTIA BENNY