Buka konten ini

SEKUPANG (BP) – Meningkatnya kasus bunuh diri di Kota Batam sepanjang awal 2026 menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah. Upaya pencegahan dinilai perlu diperkuat melalui layanan kesehatan mental yang lebih dekat, mudah diakses, serta menyentuh langsung masyarakat, termasuk para pekerja di kawasan industri.
Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya enam kasus bunuh diri terjadi di berbagai lokasi, seperti Jembatan Barelang, Bengkong, Batam Center, hingga Sekupang. Mayoritas korban merupakan kalangan pekerja yang diduga rentan mengalami tekanan psikologis akibat persoalan ekonomi, pekerjaan, maupun masalah pribadi.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Batam untuk memperkuat langkah pencegahan melalui kampanye kesehatan mental yang lebih masif dan membumi.
Sosialisasi dinilai tidak cukup hanya dilakukan secara formal, tetapi juga harus menjangkau komunitas, lingkungan kerja, serta platform media sosial yang dekat dengan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan pihaknya terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya kesehatan mental dengan menghadirkan layanan yang lebih mudah diakses.
“Dinas Kesehatan Kota Batam terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait kesehatan mental, dengan menghadirkan layanan yang lebih dekat dan mudah diakses,” ujarnya, Jumat (3/4).
Ia menjelaskan, sejumlah program telah dijalankan, di antaranya pelayanan kesehatan bagi orang dengan gangguan jiwa berat (ODGJ), layanan bagi orang dengan masalah kesehatan jiwa (ODMK), serta penanganan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza).
Selain itu, Dinkes Batam juga melakukan deteksi dini kesehatan jiwa dan penyalahgunaan napza di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan serta lingkungan sekolah. Langkah ini bertujuan untuk menemukan lebih awal individu yang berisiko sehingga dapat segera diberikan intervensi.
Tidak hanya menyasar masyarakat umum, program kesehatan mental juga mulai diperluas ke sektor industri. Kawasan industri dinilai menjadi salah satu titik dengan konsentrasi pekerja tinggi yang rentan terhadap tekanan mental.
“Melalui puskesmas, kami telah melakukan skrining kesehatan jiwa di tempat kerja serta memberikan orientasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) bagi pekerja,” jelas Didi.
Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pekerja dan manajemen perusahaan dalam mengenali tanda-tanda gangguan mental serta memberikan penanganan awal sebelum kondisi memburuk.
Meski demikian, Didi mengakui upaya tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan akses layanan kesehatan jiwa, terutama bagi pekerja dengan jam kerja padat, serta masih kuatnya stigma negatif terhadap gangguan mental di masyarakat.
“Masih banyak yang enggan memeriksakan diri karena takut stigma. Ini yang terus kami coba ubah melalui edukasi dan sosialisasi,” tambahnya.
Untuk itu, Dinkes Batam menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat diharapkan dapat bekerja sama dalam memperluas akses layanan konseling, baik secara langsung maupun daring, serta menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi individu yang mengalami tekanan mental.
Perusahaan juga didorong lebih aktif menyediakan layanan kesehatan mental bagi karyawan, seperti konseling rutin, pelatihan manajemen stres, hingga penyediaan saluran pengaduan internal yang aman dan rahasia.
Dengan langkah yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan, diharapkan upaya pencegahan bunuh diri di Batam tidak sekadar formalitas, tetapi mampu menjangkau masyarakat hingga ke lapisan paling bawah. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALH ADI SAPUTRO