Buka konten ini

Di pesisir Kepulauan Riau, permainan jong bukan sekadar hiburan yang mengisi waktu senggang. Jong adalah warisan sejarah maritim Melayu yang bersentuhan dengan lintas budaya dan bertahan di tengah perubahan zaman.
SECARA historis, permainan jong diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu. Setidaknya sejak masa kejayaan Kerajaan Johor Pahang Riau Lingga. Permainan rakyat ini muncul saat budaya maritim Melayu berkembang pesat di kawasan pesisir Kepulauan Riau.
Dalam konteks masyarakat pesisir, jong lahir dari kehidupan nelayan yang sangat bergantung pada alam. Saat musim angin utara datang dan gelombang tinggi menghalangi aktivitas melaut, jong menjadi alternatif hiburan sekaligus sarana pembelajaran.
Perahu kecil tanpa awak ini dibuat menyerupai kapal layar sungguhan. Digunakan di tepi pantai, jong bergerak mengikuti arah angin. Merefleksikan pengetahuan dasar pelayaran yang dimiliki masyarakat Melayu sejak lama.
Meskipun demikian, sejarah permainan jong tidak tunggal. Dalam literatur budaya, terdapat versi yang menyebut permainan ini sebagai hasil akulturasi dengan budaya Tionghoa.
Menurut Peneliti Sejarah BRIN, Dedi Arman, kata ”jong” memiliki sejarah panjang dalam bahasa dan kebudayaan nusantara.
Dalam Bahasa Indonesia, disebut ”jung” sebagai perahu besar buatan negeri Cina, sementara istilah jongkong berarti sampan dari batang kayu.
Undang-Undang Laut Melaka abad 15 menyebut, istilah jung dipakai untuk menunjuk kapal pengangkut barang. Dengan demikian, sejak awal kata jong bukan hanya istilah teknis, melainkan juga penanda penting dalam sejarah pelayaran.
Naskah klasik Melayu Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) menceritakan, Kerajaan Bintan sebagai pelabuhan dagang besar yang dipenuhi kapal, termasuk jong.
”Dalam salah satu kisah, Sultan Mahmud Syah bahkan disebut melarikan diri dari serangan Portugis dengan menaiki sebuah jong menuju Bintan,” sebut Dedi, Jumat (3/4).
Dalam Catatan Tome Pires dalam Suma Oriental (1512-1515), menyinggung banyak jung atau jong yang datang ke Malaka dari Cina, Jawa, Gujarat (India), hingga Arab.
”Fakta-fakta ini menegaskan jong bukan sekadar kapal, melainkan simbol kapal besar, perdagangan dan identitas maritim Melayu,” tegas Dedi.
Menurut Dedi, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir Bintan, jong berfungsi lebih dari sekadar permainan. Jong menjadi ruang belajar yang alami dan mengajarkan anak-anak untuk mencintai laut.
Para nelayan dan anak-anak memainkan jong untuk mengisi waktu setelah melaut atau menunggu hasil tangkapan. Dari aktivitas sederhana ini, dapat memahami arah angin, keseimbangan perahu, hingga teknik membaca kondisi laut.
”Bahan jong berasal dari alam seperti kayu pulai atau kayu ringan lainnya. Ini menunjukkan kedekatan masyarakat dengan alam,” jelas Dedi.
Dari Tradisi Lokal, Identitas Budaya dan Festival Jong
Seiring berjalannya waktu, permainan jong tidak lagi sekadar milik komunitas nelayan. Permainan ini berkembang menjadi simbol identitas budaya Melayu Kepulauan Riau, khususnya Pulau Bintan.
Festival dan perlombaan jong yang rutin digelar hingga kini menjadi bukti bahwa permainan tradisional lokal ini, tetap hidup dan bertahan.
Bahkan, partisipasi komunitas lintas daerah dan negara, menunjukkan jong telah melampaui batas lokal menjadi warisan budaya yang lebih luas.
Dedi melanjutkan, permainan jong tersebar di berbagai daerah pesisir nusantara dengan beragam nama. Di Kepulauan Riau seperti di Bintan, Tanjungpinang, Batam, dan Karimun dikenal sebagai jong.
Sedangkan di Natuna, muncul tradisi jong kate dengan corak khasnya. Di Riau daratan seperti Siak, Pelalawan, Meranti, hingga Dumai, dikenal jong katil.
Tradisi serupa juga hidup di luar wilayah Melayu, seperti lomba perahu layar mini di Mandar (Sulawesi Barat), Surabaya, dan Palu (Sulawesi Tengah).
Dalam setiap perlombaan, para peserta berlomba membuat perahu kecil dengan layar sederhana. Jong tidak digerakkan mesin atau tangan, melainkan murni mengandalkan kekuatan angin.
Meskipun memiliki akar yang sama, permainan jong di berbagai daerah memiliki variasi. Di Kepulauan Riau, perahu dibuat sederhana dengan ukuran relatif kecil dan diperlombakan di laut atau pantai yang dangkal.
Sementara itu di Riau daratan, tradisi jong berkembang di sungai-sungai, dengan bentuk perahu yang sedikit berbeda karena menyesuaikan kondisi perairan darat.
”Permainan jong menjadi sarana belajar tentang maritim, memahami arah angin, mengatur keseimbangan perahu dan melatih kesabaran,” ujar Dedi.
Selain itu, permainan jong juga menumbuhkan nilai sosial. Proses pembuatan perahu dilakukan bersama-sama. Anak-anak belajar tidak hanya dari segi teknis, tetapi juga nilai gotong royong dan kebanggaan.
Bagi masyarakat Melayu, laut adalah cermin kehidupan. Oleh sebab itu, permainan jong dipandang lebih dari sekadar hiburan. Jong menjadi miniatur perahu dagang dan kapal perang yang dulu meramaikan pelabuhan di Kepulauan Riau dan Malaka.
Permainan ini juga menanamkan kesadaran bahwa identitas Melayu berakar pada kebudayaan maritim. Bahkan, menurut Dedi, jong dapat disebut sebagai simbol warisan takbenda.
”Permainan jong menjaga ingatan masa kejayaan maritim dan menyalurkan nilai-nilai itu ke generasi baru,” tutup Dedi. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RATNA IRTATIK