Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah memperkuat langkah pengendalian inflasi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi di tengah ancaman dampak El Nino. Di sektor pangan, BI meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), sedangkan di sektor moneter memilih mempertahankan suku bunga acuan dan memberikan insentif bagi investor asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Deputi Gubernur BI, Ricky P. Gozali mengatakan, GPIPS difokuskan untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi pangan agar tekanan inflasi, khususnya kelompok volatile food, tetap terkendali hingga akhir tahun.
“Semua strategi tersebut kita harapkan dapat menjaga harga-harga di pasar. Kita juga melihat pergerakan inflasi volatile food sudah mulai membaik dan melandai, dan akan terus kami lakukan untuk mengantisipasi sampai akhir tahun,” kata Ricky dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7).
Program GPIPS dijalankan melalui berbagai langkah, mulai dari penerapan good agricultural practices, pembangunan sarana irigasi, digital farming, penguatan fasilitas pascapanen seperti cold storage, hingga hilirisasi komoditas hortikultura.
BI bersama pemerintah juga memperluas kerja sama antardaerah berbasis business to business (B2B) dengan memetakan daerah surplus dan defisit pangan agar distribusi menjadi lebih efisien.
Selain itu, dilakukan optimalisasi fasilitasi distribusi pangan, pemberian subsidi ongkos angkut, serta perluasan Gerakan Pangan Murah melalui operasi pasar yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
Menurut Ricky, implementasi GPIPS tidak menggunakan pendekatan yang sama di seluruh wilayah karena setiap daerah memiliki tantangan berbeda.
“Melalui GPIPS ini, Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah akan selalu hadir bersama masyarakat dalam rangka menjaga stabilitas harga,” ujarnya.
GPIPS telah diluncurkan di Sumatera dan Jawa, kemudian dijadwalkan menyusul Bali-Nusa Tenggara pada 27 Juli 2026, sebelum diperluas ke Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Data BI menunjukkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 tercatat 3,34 persen secara tahunan, naik tipis dibanding Mei yang sebesar 3,08 persen, namun masih berada dalam sasaran inflasi nasional.
Sementara inflasi kelompok volatile food masih relatif tinggi, yakni 5,58 persen, dipicu kenaikan harga bawang merah, bawang putih, dan beras akibat berakhirnya musim panen, kenaikan biaya transportasi, serta dampak cuaca.
BI mencatat tekanan inflasi terbesar masih terjadi di Sumatera, Kalimantan, serta Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), yang dipengaruhi gangguan produksi dan distribusi akibat El Nino.
BI Pilih Insentif, BI-Rate Tetap
Di sisi kebijakan moneter, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dalam RDG Juli 2026.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut diambil karena bank sentral memilih memberikan insentif kepada investor asing dibanding kembali menaikkan suku bunga acuan.
Insentif tersebut diberikan melalui kenaikan pengurangan premi untuk transaksi swap lindung nilai dari 10 persen menjadi 12,5 persen, serta perluasan insentif untuk transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) sebesar 15 persen.
“Bank Indonesia memiliki dua pilihan, menaikkan BI-Rate atau meningkatkan insentif bagi masuknya aliran portofolio asing. Kami memilih opsi kedua karena lebih efektif,” kata Perry.
Menurutnya, strategi tersebut dinilai mampu menarik investasi asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun Surat Berharga Negara (SBN), memperkuat nilai tukar rupiah tanpa harus mendorong kenaikan suku bunga domestik.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, kebijakan tersebut merupakan langkah yang lebih terarah untuk menarik fresh money dari investor asing.
Ia menilai imbal hasil SRBI saat ini telah berada pada tingkat yang cukup menarik sehingga tambahan insentif akan lebih efektif dibanding menaikkan BI-Rate.
“Strategi SRBI saat ini adalah bermain pada sisi insentif, dengan spread yang tetap menarik sehingga dapat menarik aliran modal asing masuk ke portofolio investasi kita,” ujarnya.
Pada penutupan perdagangan Rabu (22/7), kurs referensi JISDOR mencatat nilai tukar rupiah berada di level Rp17.909 per dolar Amerika Serikat, relatif stabil dibandingkan sehari sebelumnya. (*/Antara)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK
