Buka konten ini
BATAM (BP) – Pemerintah Kota Batam mulai membenahi sistem pengelolaan sampah di tengah masih banyaknya keluhan masyarakat terkait lambatnya pengangkutan di berbagai wilayah. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam berencana mengubah pola pengangkutan sampah dengan mewajibkan setiap kawasan perumahan memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS), sehingga armada tidak lagi mengambil sampah langsung dari rumah ke rumah.
Kepala DLH Kota Batam, Dohar Mangalondo Hasibuan, mengatakan perubahan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan efektivitas layanan persampahan yang selama ini dinilai belum optimal.
Salah satu langkah yang ditempuh ialah meminta para pengembang perumahan membangun TPS sebagai titik pengumpulan sampah sebelum diangkut armada pemerintah.
“Kami sedang memanggil 98 pengembang agar membangun TPS di setiap kawasan perumahan. Itu memang menjadi kewajiban mereka,” kata Dohar kepada Batam Pos, Senin (20/7).
Menurut dia, keberadaan TPS akan membuat pola pengangkutan lebih terjadwal dan efisien. Armada tidak lagi harus berhenti di banyak titik permukiman sehingga waktu operasional dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Mudah-mudahan dengan pola ini pengangkutan sampah bisa lebih terjadwal dan lebih cepat ke depannya,” ujarnya.
DLH saat ini masih mendata kebutuhan TPS di seluruh Batam. Hal itu karena perkembangan kawasan perumahan masih terus berlangsung.
Sebagian merupakan kawasan baru, sementara sebagian lainnya dibangun oleh pengembang yang sudah tidak lagi beroperasi.
“Kami masih mendata semuanya. Untuk perumahan yang masih tahap pembangunan, kami minta TPS dibangun lebih dulu,” katanya.
Selain mewajibkan pembangunan TPS, DLH juga tengah mengkaji perubahan sistem pengangkutan sampah. Pola lama yang mengambil sampah langsung dari rumah ke rumah dinilai tidak lagi mampu mengimbangi pertumbuhan penduduk dan volume sampah di Batam.
“Ke depan kita akan mempercepat pengangkutan sampah. Pengangkutan nantinya difokuskan dari TPS dan langsung diangkut dari sana. Itu yang akan kami sosialisasikan kepada masyarakat,” ujar Dohar.
Ia mengakui sistem pengangkutan dari rumah ke rumah menjadi salah satu penyebab pelayanan persampahan berjalan kurang maksimal.
“Selama ini kita masih mengangkut sampah dari rumah ke rumah. Nah, nanti teknisnya akan diubah. Tetapi itu masih kami kaji lebih dalam sebelum diterapkan dan disosialisasikan kepada masyarakat Batam,” katanya.
Menurut Dohar, perubahan pola tersebut diharapkan membuat jadwal pengangkutan lebih pasti sehingga tumpukan sampah di permukiman maupun di tepi jalan dapat diminimalkan.
DLH juga menyoroti masih adanya masyarakat yang belum bergabung dalam sistem pelayanan persampahan resmi. Kondisi itu menyebabkan sebagian warga membuang sampah di lokasi yang tidak semestinya.
“Ada masyarakat yang belum terdaftar dalam sistem pengangkutan kami, sehingga masih membuang sampah di lokasi yang bukan tempatnya. Kalau TPS tersedia, mereka bisa mendaftar dan sampahnya akan kami angkut dari sana,” jelas Dohar.
Menjawab keluhan warga mengenai armada pengangkut yang dinilai sudah tua dan kerap menjatuhkan sampah di jalan, Dohar mengatakan pemerintah telah menambah empat unit truk baru pada tahun ini.
Saat ini DLH mengoperasikan sekitar 107 armada pengangkut sampah dan masih membuka peluang bekerja sama dengan pihak ketiga apabila kebutuhan armada terus meningkat seiring bertambahnya volume sampah.
Di tengah berbagai keluhan yang muncul, Dohar mengklaim kapasitas pengangkutan sampah sebenarnya terus mengalami peningkatan.
“Yang pasti pengangkutan sampah dari rumah ke rumah sudah meningkat. Tonase sampah yang berhasil kami angkut juga meningkat,” katanya.
Perubahan sistem tersebut disiapkan setelah dalam beberapa waktu terakhir keluhan masyarakat mengenai lambatnya pengangkutan sampah terus bermunculan dari berbagai wilayah.
Tumpukan sampah ditemukan di Batuaji, Sagulung, Sekupang, Nongsa, Batam Kota hingga Lubukbaja. Di Jalan Utama Sei Binti, Kecamatan Sagulung, sampah bahkan menumpuk selama berminggu-minggu hingga akhirnya dibakar warga. Asap dari pembakaran sampah rumah tangga mengganggu pengguna jalan dan permukiman sekitar.
Keluhan serupa juga datang dari kawasan Sukajadi, Batam Kota. Warga mengaku sampah yang sebelumnya diangkut dua kali sepekan kini baru diangkut setelah empat hingga tujuh hari. Kondisi yang sama dilaporkan terjadi di Batuaji, Nongsa, Sekupang, Pasar Jodoh, Jalan Bagan, hingga kawasan pertokoan Botania Garden.
Lambatnya pengangkutan dinilai tidak hanya mencemari lingkungan, tapi juga meningkatkan risiko banjir. (***)
Reporter : M SYA’BAN – JAMALUDDIN – AZIS MAULANA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO
