Buka konten ini

BINTAN (BP) – Tempurung dan sabut kelapa yang selama ini hanya menjadi limbah kini disulap menjadi briket arang oleh siswa SD Negeri 002 Seri Kuala Lobam. Melalui program inovasi Brikola (Briket dari Limbah Kelapa), para siswa diajak belajar mengolah limbah menjadi bahan bakar alternatif yang bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.
Program tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik yang mengintegrasikan kepedulian terhadap lingkungan dengan penguatan karakter dan keterampilan siswa.
Kepala SD Negeri 002 Seri Kuala Lobam, Suharyanto, mengatakan Brikola lahir dari kondisi wilayah pesisir Seri Kuala Lobam yang menghasilkan banyak limbah kelapa. Selama ini, limbah tersebut umumnya dibakar atau dibiarkan menumpuk.
”Kami ingin anak-anak sejak dini memahami bahwa sampah atau limbah bukan sesuatu yang tidak berguna. Lewat Brikola, mereka belajar sains, kepedulian lingkungan, sekaligus dasar-dasar kewirausahaan,” ujarnya, Minggu (12/7).
Program Brikola diintegrasikan ke dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertema Gaya Hidup Berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, siswa terlibat langsung mulai dari mengumpulkan tempurung dan sabut kelapa, mencampurnya dengan perekat alami, mencetak, hingga menjemur briket.
Menurut Suharyanto, proses tersebut tidak hanya melatih keterampilan motorik dan kerja sama, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
”Mereka tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga belajar dari alam dan untuk alam,” katanya.
Selain mengurangi limbah, briket yang dihasilkan memiliki kualitas pembakaran yang baik, tahan lebih lama, dan menghasilkan asap yang relatif lebih sedikit dibandingkan pembakaran limbah secara langsung.
Ke depan, sekolah berencana mengembangkan Brikola sebagai produk kewirausahaan. Hasil penjualannya akan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sekolah sekaligus mengenalkan siswa pada konsep usaha sejak usia dini.
”Kami juga terbuka untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah maupun pihak swasta, terutama dalam pengembangan mesin pencetak dan kemasan produk agar lebih baik,” pungkasnya. (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GUSTIA BENNY
