Buka konten ini

Akupunktur medis bukan sekadar terapi tusuk jarum. Sebagai bagian dari layanan kedokteran, terapi ini dilakukan berdasarkan diagnosis medis dan terbukti dapat membantu menangani berbagai keluhan kesehatan.
AKUPUNTUR selama ini masih sering dipahami masyarakat sebagai terapi tusuk jarum. Padahal, dalam dunia kedokteran modern, akupunktur medis merupakan salah satu terapi berbasis bukti ilmiah (evidence-based medicine) yang digunakan sebagai terapi pendamping untuk berbagai penyakit.

Hal tersebut disampaikan dr. Mia Sophia Irawadi, Sp.Ak, Dokter Spesialis Akupunktur Medis di Rumah Sakit Awal Bros Batam, dalam siaran langsung Instagram halloawalbros bertajuk ”Akupunktur Medis, Bukan Sekadar Tusuk Jarum” yang diselenggarakan Kamis (2/7/2026).
Menurut dr. Mia, akupunktur medis tidak hanya ditujukan bagi orang yang sedang sakit.
Terapi ini juga dapat dimanfaatkan sebagai upaya menjaga kesehatan, rehabilitasi, hingga meningkatkan kualitas hidup. ”Ada untuk pencegahan, menyehatkan, rehabilitasi, pemulihan, dan juga untuk orang-orang yang sebenarnya cuma ingin sehat, ingin panjang umur, ingin tetap awet muda. Itu juga bisa,” kata dr. Mia.
Ia menjelaskan, perbedaan mendasar antara akupunktur medis dan akupunktur tradisional terletak pada dasar keilmuannya. ”Akupunktur medis berdasarkan ilmu evidence-based. Jadi ada penelitiannya, dengan dasar fisiologi, anatomi, dan ilmu kedokteran medis yang diterapkan dalam pengobatan menggunakan akupunktur,” ujarnya.

Tertarik sejak menjadi dokter
dr. Mia mengaku mulai tertarik mendalami bidang akupunktur setelah menyelesaikan pendidikan dokter umum. Ketertarikannya juga dipengaruhi pengalaman pribadi ketika pernah menjalani terapi akupunktur saat masih remaja.
”Menurut saya ini ilmu yang menarik. Akupunktur sudah ada sejak zaman dahulu dan masih bertahan sampai sekarang. Berarti memang ilmunya bermanfaat,” ujar dr Mia
Ia juga mengingat pengalamannya melihat langsung pasien yang mengalami perbaikan kondisi setelah menjalani terapi.
”Saya melihat pasien stroke yang awalnya tidak bisa berjalan, beberapa waktu kemudian sudah bisa memakai tongkat. Dari situ saya semakin tertarik mendalaminya,” ucapnya.
Bukan pengganti operasi atau obat
Meski memberikan banyak manfaat, dr. Mia menegaskan akupunktur bukan pengganti tindakan medis utama, seperti operasi maupun obat-obatan yang memang diperlukan pasien.
Sebagai contoh, pada pasien nyeri lutut akibat osteoartritis yang sebenarnya membutuhkan operasi tetapi belum bersedia menjalani tindakan tersebut, akupunktur dapat membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kualitas hidup.
”Mungkin tidak menyembuhkan 100 persen, tetapi minimal pasien tidak terlalu bergantung pada obat dan bisa beraktivitas lebih baik tanpa mengalami rasa sakit yang berlebihan,” ujarnya.
Perbedaan akupunktur medis dan tradisional
dr. Mia menjelaskan akupunktur tradisional lebih banyak didasarkan pada konsep keseimbangan energi atau chi, sedangkan akupunktur medis menggunakan pendekatan ilmiah.
”Kalau akupunktur medis, kita belajar apa yang terjadi pada tubuh setelah jarum ditusukkan. Ada reaksi neurotransmiter, pembuluh darah, sistem saraf. Itu semua dipelajari secara ilmiah,” jelasnya.
Selain itu, akupunktur medis dilakukan oleh tenaga medis yang memiliki kompetensi. ”Akupunktur medis dikerjakan oleh dokter spesialis akupunktur medis atau dokter umum yang telah mendapat pelatihan khusus secara medis,” kata dr Mia.

Dokter Spesialis Akupunktur Medis di Rumah Sakit Awal Bros Batam
Foto: Humas Rumah Sakit Awal Bros Batam
Cara kerja akupunktur dalam tubuh
Dr. Mia menjelaskan jarum akupunktur tidak ditusukkan secara sembarangan. ”Akupunktur adalah menusukkan jarum pada titik akupunktur tertentu, bukan titik sembarangan.”
Menurutnya, titik-titik tersebut memiliki hubungan erat dengan sistem saraf. ”Begitu titik itu ditusuk, dia akan bereaksi dan memberi sinyal ke otak. Otak kemudian memberikan perintah, misalnya mengirim zat antinyeri, merilekskan otot, atau memperbaiki fungsi tertentu.”
Ia menyebut proses tersebut terjadi sangat cepat melalui sistem saraf, neurotransmiter, serta pembuluh darah.
Membantu mengatasi gangguan psikis
Selain untuk keluhan fisik, akupunktur medis juga dapat membantu pasien yang mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan dan gangguan tidur. ”Akupunktur memiliki efek mengeluarkan endorfin. Endorfin membuat kita lebih rileks dan nyaman. Karena itu gangguan kecemasan dan insomnia bisa dibantu dengan akupunktur,” katanya.
Namun, pada kasus tertentu, terapi tetap perlu dikombinasikan dengan penanganan dokter spesialis kejiwaan.
”Kita bisa berkolaborasi dengan psikiater. Akupunktur membantu pasien lebih rileks dan tidur lebih baik, tetapi terapi utama tetap harus berjalan,” ucap dr Mia.
Membantu program kehamilan
Salah satu layanan yang kini banyak diminati adalah terapi pendamping program kehamilan. Menurut dr. Mia, akupunktur membantu mengembalikan keseimbangan tubuh sehingga mendukung proses reproduksi.
”Mungkin hormon tidak seimbang, emosinya tidak stabil, atau siklus menstruasinya bermasalah. Dengan akupunktur kita membantu melancarkan aliran darah dan mengembalikan keseimbangan tubuh.”
Ia mengatakan penelitian juga menunjukkan hasil yang baik terhadap terapi pendamping program kehamilan.
Banyak menangani pasien nyeri
Di Rumah Sakit Awal Bros Batam, sebagian besar pasien yang datang menjalani terapi akupunktur adalah penderita nyeri.
Mulai dari nyeri leher, nyeri punggung, nyeri pinggang, nyeri lutut, sakit kepala, migrain, hingga saraf terjepit.
Namun sebelum terapi dilakukan, pasien tetap menjalani pemeriksaan medis terlebih dahulu. ”Kita harus menegakkan diagnosis lebih dulu. Setelah tahu penyebabnya, baru disusun terapinya. Bisa saja dikombinasikan dengan fisioterapi atau penanganan dokter spesialis lain.”
Membantu pemulihan stroke
Akupunktur juga berperan dalam rehabilitasi pasien stroke. Menurut dr. Mia, hasil terapi akan lebih baik jika dilakukan sedini mungkin.
”Semakin cepat kita mengobati, hasilnya akan lebih baik. Di ruang rawat inap pun sebenarnya akupunktur sudah bisa dilakukan.”
Namun ia mengingatkan bahwa proses pemulihan stroke tetap membutuhkan waktu sesuai tingkat kerusakan saraf yang dialami pasien.
Bermanfaat bagi penderita diabetes
Pada penderita diabetes, akupunktur membantu memperbaiki aliran darah serta gangguan saraf akibat penyakit tersebut.
dr. Mia bahkan pernah meneliti terapi akupunktur pada luka kaki diabetes. ”Hasilnya bagus karena akupunktur membantu memperlancar aliran darah menuju daerah yang mengalami luka.”
Tidak menggantikan obat hipertensi
Untuk pasien hipertensi maupun penyakit kronis lainnya, dr. Mia mengingatkan agar pasien tidak menghentikan terapi utama.
”Kita tidak boleh menghentikan obat darah tinggi. Akupunktur membantu memperbaiki kondisi tubuh, tetapi bukan menggantikan efek obat.”
Efektif mengatasi insomnia
Salah satu keluhan yang dinilai memberikan hasil baik adalah insomnia. ”Insomnia sangat bagus ditangani dengan akupunktur. Banyak pasien menjadi tidak tergantung lagi pada obat tidur.”
Ia mengatakan banyak pasien yang bahkan tertidur saat menjalani terapi. ”Saat diakupunktur banyak pasien yang langsung mengantuk karena tubuh menjadi rileks dan endorfin keluar.”
Membantu pasien migrain
dr. Mia juga menceritakan pengalamannya menangani pasien migrain kronis. ”Saya pernah menangani pasien yang sudah sebelas tahun mengalami migrain. Setelah enam kali terapi, frekuensi kambuhnya mulai berkurang. Setelah sekitar dua belas kali terapi, pasien hampir tidak memiliki keluhan lagi.”
Terapi pendamping pasien kanker
Pada pasien kanker, akupunktur bukan untuk mengobati kanker, tetapi membantu mengurangi keluhan selama menjalani pengobatan.
”Akupunktur tidak bisa menyembuhkan kanker. Tetapi bisa membantu mengurangi nyeri, mual muntah akibat kemoterapi, maupun keluhan lain yang muncul selama pengobatan.”
Aman untuk ibu hamil dan lansia
dr. Mia mengatakan akupunktur juga aman bagi ibu hamil apabila dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten.
”Ibu hamil yang mengalami mual, muntah, sakit pinggang, atau sakit kepala bisa dibantu dengan akupunktur tanpa harus banyak mengonsumsi obat.”
Begitu pula pada pasien lanjut usia.
”Lansia juga sangat cocok menjalani akupunktur karena banyak keluhan seperti nyeri, sulit tidur, dan gangguan aktivitas yang bisa dibantu.”
Efek samping minimal
Menurut dr. Mia, efek samping akupunktur sangat minimal apabila dilakukan oleh dokter atau tenaga medis yang memiliki kompetensi.
”Efek sampingnya sangat minimal atau hampir tidak ada jika dilakukan oleh tenaga yang kompeten.”
Meski demikian, pasien dengan gangguan pembekuan darah atau yang mengonsumsi obat pengencer darah tetap memerlukan perhatian khusus.
Di akhir diskusi, dr. Mia kembali menegaskan bahwa akupunktur medis merupakan terapi yang aman dan dapat dikombinasikan dengan berbagai pengobatan medis lainnya.
”Akupunktur adalah suatu bentuk terapi yang dapat mendukung pengobatan lain. Terapinya relatif aman dan jika dilakukan oleh tenaga yang kompeten hasilnya akan baik.”
Ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa akupunktur medis bukan sekadar terapi tusuk jarum, melainkan bagian dari pelayanan kesehatan modern yang berbasis ilmu pengetahuan dan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien dari berbagai kelompok usia. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : TUNGGUL MANURUNG