Buka konten ini

MONTERREY (BP) – Selama bertahun-tahun, Belanda menjadi tempat lahir dan berkembangnya talenta-talenta sepak bola keturunan Maroko. Ajax Amsterdam membentuk Noussair Mazraoui, FC Utrecht mengembangkan Sofyan Amrabat, sedangkan Ajax juga menempa Anass Salah-Eddine. Kemudian, PSV Eindhoven sukses melambungkan nama Ismael Saibari.
Kini, para pemain yang tumbuh di bawah filosofi total football itu justru berdiri di kubu lawan. Bersama Maroko, mereka membawa ambisi besar untuk mengakhiri langkah Belanda di Piala Dunia 2026.
Karena itu, duel di Estadio BBVA (Monterrey Stadium), Monterrey, pagi ini memiliki cerita yang berbeda dibandingkan pertandingan babak 32 besar lainnya. Belanda tidak hanya menghadapi salah satu kekuatan baru sepak bola Afrika, tetapi juga para pemain yang sudah memahami karakter sepak bola Negeri Kincir Angin sejak usia dini.
Tidak heran jika pelatih Belanda, Ronald Koeman, menilai pertandingan ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi pasukannya.
”Saya tidak yakin kami adalah favorit dalam pertandingan melawan Maroko. Kami harus mempersiapkan diri sebaik mungkin karena ini akan menjadi pertandingan besar. Maroko adalah tim yang bagus, memiliki banyak kualitas, dan mereka bisa mencetak gol dengan mudah,” ujar Koeman, dikutip dari Reuters.
Koeman Siapkan Transisi Cepat
Pelatih berusia 63 tahun itu mengakui Belanda belum tampil sempurna sepanjang fase grup. Produktivitas gol De Oranje memang menjadi salah satu yang terbaik di turnamen. Namun, di sisi lain, organisasi pertahanan mereka masih menyisakan celah. Belanda selalu kebobolan dalam tiga pertandingan di fase grup.
Situasi itulah yang menjadi perhatian utama Koeman menjelang laga menghadapi Maroko yang dikenal memiliki transisi menyerang sangat cepat. ”Kami harus lebih kompak. Transisi harus lebih cepat dan masih ada ruang untuk berkembang,” tegas mantan pelatih FC Barcelona itu.
Kewaspadaan senada juga terlihat dari komentar para pemain Belanda. Mereka menaruh respek tinggi kepada Maroko yang dalam beberapa tahun terakhir menjelma sebagai salah satu kekuatan baru sepak bola dunia. Status semifinalis Piala Dunia 2022 menjadi bukti nyata bahwa Atlas Lions bukan lagi tim kejutan yang bisa dipandang sebelah mata.
Karena itu, gelandang Belanda Ryan Gravenberch meminta rekan-rekan setimnya untuk tetap rendah hati. Menurut dia, pengalaman Maroko bersaing di level tertinggi membuat De Oranje harus mengerahkan performa terbaik bila ingin melaju ke babak perempat final.
”Kami menghormati Maroko. Mereka menunjukkan kualitas luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kami percaya pada kemampuan kami sendiri dan ingin terus melangkah di turnamen ini,” terangnya sebagaimana dikutip dari Sky Sports.
Ouahbi Lebih Percaya Diri
Di kubu Maroko, pelatih Nabil Ouahbi menyadari Belanda memiliki kualitas individu maupun kolektif yang sangat tinggi. Karena itu, Atlas Lions telah menyiapkan pendekatan strategi yang berbeda dibandingkan saat mengarungi fase grup.
”Kami membutuhkan solusi yang berbeda untuk menghadapi Belanda. Setiap pertandingan memiliki tantangan tersendiri dan kami harus menemukan cara yang tepat,” ujarnya kepada Reuters.
Maroko dipastikan tampil dengan kepercayaan diri tinggi. Setelah mencetak sejarah sebagai negara Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia pada 2022, mereka kini tidak lagi dipandang sebagai tim semenjana. Apalagi, skuad saat ini dihuni banyak pemain yang merumput di liga-liga elite Eropa, termasuk beberapa nama yang dibesarkan oleh akademi-akademi sepak bola di Belanda.
Secara statistik pertemuan, Belanda memang lebih unggul. De Oranje memenangi dua dari tiga bentrokan melawan Maroko, termasuk kemenangan tipis 2-1 pada fase grup Piala Dunia 1994 silam. (*)
Laporan : JP group
Editor : MUHAMMAD NUR
