Buka konten ini

BATAM (BP) – Sebanyak 230 kasus HIV positif ditemukan di Kota Batam sepanjang Januari hingga Mei 2026. Mayoritas penderita merupakan kelompok usia produktif 25 hingga 49 tahun yang mencapai 159 kasus atau sekitar 69 persen dari total temuan.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam menunjukkan penularan HIV masih banyak ditemukan pada kelompok usia yang aktif bekerja dan beraktivitas sosial. Selain itu, laki-laki masih mendominasi jumlah kasus dibanding perempuan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, mengatakan tingginya temuan kasus tidak serta-merta menunjukkan lonjakan penularan. Menurut dia, kondisi tersebut juga dipengaruhi semakin luasnya jangkauan pemeriksaan yang dilakukan terhadap kelompok berisiko.
”Penemuan kasus yang tinggi bukan berarti penularan meningkat drastis, tetapi menunjukkan semakin banyak masyarakat yang berhasil dijangkau untuk melakukan pemeriksaan. Tujuan kami menemukan kasus sedini mungkin agar penderita segera mendapatkan pengobatan ARV dan tidak menularkan kepada orang lain,” ujarnya, Kamis (25/6).
Berdasarkan data Dinkes Batam, dari 230 kasus yang ditemukan hingga Mei 2026, sebanyak 172 kasus terjadi pada laki-laki dan 58 kasus pada perempuan.
Kelompok usia 25-49 tahun menjadi penyumbang terbanyak dengan 159 kasus. Disusul kelompok usia 20-24 tahun sebanyak 37 kasus, usia di atas 50 tahun sebanyak 18 kasus, dan usia 15-19 tahun sebanyak 14 kasus.
Dilihat dari jenis pekerjaan, penderita HIV terbanyak berasal dari kalangan pegawai atau karyawan swasta sebanyak 128 orang. Kemudian wiraswasta 22 orang, tidak bekerja 21 orang, kategori pekerjaan lainnya 18 orang, ibu rumah tangga 15 orang, serta pekerja seks 12 orang.
Sementara berdasarkan wilayah tempat tinggal, Kecamatan Batam Kota mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 48 penderita. Disusul Batuaji 41 kasus, Lubuk Baja 29 kasus, Sekupang 26 kasus, Bengkong 21 kasus, dan Sagulung 17 kasus. Adapun Bulang, Belakangpadang, dan Galang menjadi kecamatan dengan jumlah kasus paling sedikit.
Didi menjelaskan, hingga Mei 2026 Dinkes telah melakukan tes HIV terhadap 6.144 orang dari target kelompok berisiko sebanyak 16.839 orang. Dari jumlah tersebut ditemukan 230 orang positif HIV.
Kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL) masih menjadi penyumbang terbesar temuan kasus baru, yakni 116 kasus. Selanjutnya pasien tuberkulosis (TBC) sebanyak 46 kasus dan wanita pekerja seks (WPS) sebanyak 23 kasus.
”Karena itu kami terus memperluas layanan skrining HIV pada kelompok berisiko, termasuk pasien TBC, ibu hamil, warga binaan pemasyarakatan, serta populasi kunci lainnya,” katanya.
Untuk mendukung penanggulangan HIV/AIDS, Dinkes Batam menyediakan layanan konseling, tes HIV, dan pengobatan antiretroviral (ARV) di berbagai puskesmas serta rumah sakit di Kota Batam.
Didi mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Menurut dia, HIV merupakan penyakit yang dapat dikendalikan melalui pengobatan yang rutin dan berkelanjutan.
”ODHA yang menjalani terapi ARV secara teratur dapat hidup sehat dan produktif seperti masyarakat lainnya. Yang terpenting adalah deteksi dini, pengobatan rutin, serta dukungan dari keluarga maupun lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemko Batam terus mengejar target program Three Zero, yakni nol infeksi baru HIV, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma terhadap ODHA melalui edukasi, perluasan layanan pemeriksaan, serta pengobatan berkelanjutan.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI kembali menegaskan target eliminasi HIV dan infeksi menular seksual (IMS) pada 2030. Namun, tantangan yang dihadapi masih besar.
Data Kemenkes menunjukkan Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia dalam jumlah orang dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 dunia untuk kasus infeksi baru HIV. Hingga 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564 ribu ODHIV di Indonesia. Namun, baru 63 persen yang mengetahui statusnya.
Dari jumlah tersebut, sekitar 67 persen telah menjalani terapi antiretroviral (ARV), sedangkan hanya 55 persen yang berhasil mencapai viral load tersupresi atau kondisi ketika jumlah virus sangat rendah sehingga risiko penularan menjadi minimal.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr Ina Agustina, menyebut 76 persen kasus HIV nasional terkonsentrasi di 11 provinsi prioritas. Salah satunya Kepulauan Riau.
Selain Kepri, provinsi lainnya adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, dan Banten.
”Penyebaran kasus HIV secara nasional banyak terjadi pada populasi kunci seperti laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), waria, pekerja seks perempuan, dan pengguna napza suntik,” ujar Ina dalam temu media daring, Jumat (20/6).
Kemenkes juga mengingatkan bahwa ancaman infeksi menular seksual tidak kalah serius. Sepanjang tahun lalu tercatat 23.347 kasus sifilis secara nasional. Sebanyak 19.904 kasus merupakan sifilis dini dan 77 kasus sifilis kongenital yang ditularkan dari ibu kepada bayi.
Selain itu, terdapat 10.506 kasus gonore yang sebagian besar ditemukan di DKI Jakarta. Menurut Ina, peningkatan kasus IMS perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko penularan HIV.
”IMS bukan hanya masalah kesehatan pribadi, tetapi juga masalah kesehatan masyarakat. IMS membuka pintu bagi penularan HIV. Kasus terbanyak masih terjadi pada usia produktif 25-49 tahun dan mulai meningkat pada kelompok usia 15-19 tahun,” tegasnya.
Didi mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Menurut dia, HIV dapat dikendalikan melalui pengobatan yang rutin dan berkelanjutan.
”ODHA yang menjalani terapi ARV secara teratur dapat hidup sehat dan produktif seperti masyarakat lainnya. Yang terpenting adalah deteksi dini, pengobatan rutin, serta dukungan dari keluarga maupun lingkungan,” ujarnya.
Pemko Batam terus memperluas layanan skrining, konseling, dan pengobatan ARV di puskesmas maupun rumah sakit sebagai bagian dari upaya mendukung target Three Zero, yakni nol infeksi baru HIV, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma terhadap ODHA. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK