Buka konten ini

Di balik seragam putih dan sikap tegap yang akan ia kenakan di Istana Negara nanti, tersimpan perjalanan panjang seorang remaja 16 tahun asal Tanjungpinang yang tak pernah benar-benar menyangka dirinya akan sampai sejauh ini.
NAMANYA Muhammad Salman Farisi, siswa SMA Negeri 1 Tanjungpinang. Tahun 2026 menjadi titik penting dalam hidupnya setelah ia resmi lolos sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional.
Saat pengumuman itu tiba, perasaan haru, bangga, dan tidak percaya bercampur menjadi satu. Perjuangan yang ia mulai sejak duduk di bangku kelas 10 akhirnya berbuah manis: ia terpilih membawa nama Kepulauan Riau di panggung kenegaraan paling bergengsi di Indonesia.
Namun jalan menuju Istana tidaklah singkat.
Awalnya, Salman bukanlah siswa yang bermimpi menjadi bagian dari Paskibraka. Ia lebih tertarik pada dunia akademik dan berbagai perlombaan yang bersifat intelektual.
Pengalaman baris-berbaris yang ia miliki pun hanya sebatas saat mengikuti ekstrakurikuler Pasukan Khusus (Pasus) di bangku SMP.
Perubahan itu datang perlahan. Postur tubuhnya yang tegap mulai menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Guru, teman, hingga keluarga mulai mendorongnya untuk mencoba seleksi Paskibraka.
Dari dorongan itu, tumbuh keberanian baru.
“Atas dukungan orang tua, saya mulai memikirkan serius dan akhirnya memutuskan ikut Paskibraka,” kata Salman, Kamis (25/6).
Keputusan itu menjadi awal dari perjalanan yang tidak mudah. Di usia 16 tahun, Salman mengaku sempat merasa tertinggal secara fisik dibanding peserta lain. Namun itu justru menjadi pemicu untuk bekerja lebih keras.
Setiap pulang sekolah, ia meluangkan waktu untuk berlatih fisik, memperkuat stamina, dan membentuk kedisiplinan diri. Tidak hanya itu, ia juga memperdalam wawasan kebangsaan serta melatih kemampuan berbicara di depan umum—kemampuan yang menjadi salah satu penilaian penting dalam seleksi.
Baginya, tahap paling menegangkan adalah wawancara.
“Di situ diuji public speaking, sikap, dan wawasan kebangsaan kita sebagai warga negara,” ujarnya.
Seleksi yang ketat membuatnya sempat ragu. Ia melihat banyak peserta lain yang juga memiliki kemampuan kuat. Namun, keyakinan itu tetap ia jaga hingga akhirnya nama Salman diumumkan sebagai salah satu yang lolos ke tingkat nasional.
Saat itu, rasa gugup yang sempat menghantuinya berubah menjadi syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Kini, Salman menyadari bahwa dirinya memikul tanggung jawab besar: membawa nama Kepulauan Riau di Istana Negara pada peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, 17 Agustus mendatang.
Persiapan pun terus ia lakukan. Latihan fisik, menjaga kesehatan, hingga pola makan menjadi perhatian utama sebelum keberangkatan ke Jakarta pada awal Juli.
“Rasa gugup harus dihilangkan. Karena saya membawa nama Kepri. Kalau tidak siap, itu bisa memengaruhi performa,” katanya.
Di rumah, kebanggaan itu juga terasa sangat dalam. Sang ibu, Silvina Asthri, tak kuasa menyembunyikan haru saat menceritakan perjuangan anaknya.
Bagi keluarga, keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan amanah besar yang membawa nama keluarga, sekolah, dan daerah ke tingkat nasional.
Sejak kecil, Salman dikenal sebagai anak yang lebih menonjol di bidang akademik. Namun keluarga melihat ada potensi lain yang bisa dikembangkan melalui disiplin dan pembinaan Paskibraka.
Dukungan pun diberikan tanpa henti, meski awalnya jalan itu tidak pernah mereka rencanakan.
“Kami hanya mendukung dan memberikan arahan. Setelah diberikan semangat, akhirnya dia mau mencoba Paskibraka,” ujar sang ibu.
Kini, dari sebuah dorongan kecil itu, lahirlah sebuah perjalanan besar yang akan membawanya berdiri tegap di halaman Istana Merdeka, mengibarkan Merah Putih untuk seluruh negeri. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY