Buka konten ini

LOS ANGELES (BP) – Amerika Serikat sudah mengantongi tiket ke babak 32 besar. Namun, ambisi Christian Pulisic dan kawan-kawan belum berhenti. Saat menghadapi Turki pada laga terakhir Grup D Piala Dunia 2026 di Los Angeles Stadium, Jumat (26/6) pukul 09.00 WIB, target mereka adalah menyapu bersih seluruh pertandingan fase grup.
Tim asuhan Mauricio Pochettino tampil meyakinkan sepanjang turnamen. Dua kemenangan beruntun atas Paraguay (4-1) dan Australia (2-0) mengantar The Stars and Stripes mengunci status juara grup dengan koleksi enam poin. Meski posisi puncak sudah aman, Amerika Serikat diperkirakan tetap memburu kemenangan untuk menjaga momentum sebelum memasuki fase gugur. Di sisi lain, Turki datang dengan situasi yang jauh berbeda.
Arda Guler dan kawan-kawan dipastikan tersingkir setelah menelan dua kekalahan beruntun dari Australia (0-2) dan Paraguay (0-1).
Laga melawan Amerika Serikat menjadi kesempatan terakhir bagi Turki untuk menghindari pulang tanpa poin sekaligus memperbaiki citra setelah penampilan yang jauh dari harapan.
Kembalinya Turki ke putaran final Piala Dunia setelah absen selama 24 tahun sempat memunculkan optimisme tinggi. Kehadiran talenta muda seperti Arda Guler dan Kenan Yildiz membuat mereka digadang-gadang mampu menjadi kuda hitam.
Namun, kenyataan berkata lain. Turki gagal mencetak satu gol pun dalam dua laga awal meski mampu menciptakan sejumlah peluang.
Masalah penyelesaian akhir menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi pelatih Vincenzo Montella. Secara permainan, Turki tidak sepenuhnya buruk. Mereka mampu menguasai bola dan membangun serangan, tetapi selalu gagal memaksimalkan peluang.
Harapan kembali bertumpu pada Hakan Calhanoglu yang akan menjadi motor permainan dari lini tengah. Kreativitas Arda Guler dan kecepatan Kenan Yildiz juga diharapkan mampu memberi ancaman bagi pertahanan Amerika Serikat.
Sementara itu, Pochettino kemungkinan memanfaatkan laga ini untuk melakukan rotasi. Dengan tiket fase gugur sudah di tangan, menjaga kebugaran pemain inti menjadi prioritas.
Pulisic dan Cristian Roldan masih diragukan tampil karena belum pulih sepenuhnya dari cedera. Sejumlah pemain yang sudah mengoleksi kartu kuning juga berpotensi diistirahatkan agar terhindar dari risiko akumulasi.
Meski demikian, kedalaman skuad Amerika Serikat tetap menjadi keunggulan. Nama-nama seperti Giovanni Reyna, Timothy Weah, Brenden Aaronson, hingga Sergino Dest siap mengisi peran tanpa mengurangi kualitas permainan.
Catatan pertemuan kedua tim juga relatif berimbang. Dalam lima pertemuan terakhir, masing-masing tim meraih dua kemenangan, sementara satu laga lainnya berakhir imbang.
Namun, jika melihat performa terkini, Amerika Serikat tetap lebih diunggulkan. Organisasi permainan yang solid, produktivitas lini depan, serta kepercayaan diri yang sedang tinggi menjadi modal utama mereka.
Turki diperkirakan bermain lebih lepas karena sudah tidak memiliki beban target. Situasi itu bisa membuat pertandingan berlangsung terbuka dan menarik.
Meski begitu, efektivitas serangan Amerika Serikat diyakini menjadi pembeda dalam duel ini. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK