Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membawa harapan bagi stabilitas pasar energi dunia. Namun, Indonesia diminta tidak lengah dan terus memantau perkembangan negosiasi kedua negara karena hasil perundingan tersebut berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi global, termasuk di dalam negeri.
Mantan Menteri Luar Negeri RI, Hassan Wirajuda mengatakan pemerintah perlu mencermati secara saksama setiap perkembangan yang terjadi dalam proses perdamaian antara Washington dan Teheran.
“Kita perlu mengikuti dari dekat perkembangan ini untuk membaca apa implikasinya bagi kita dan dunia,” kata Hassan di sela Forum Jakarta 2026 yang memperingati lima tahun kemitraan ASEAN-China di Jakarta, Senin (22/6).
Menurut Hassan, meredanya konflik dan berlanjutnya proses negosiasi telah mendapat respons positif dari pasar global. Salah satu indikatornya adalah mulai pulihnya harga minyak dunia setelah sempat bergejolak akibat konflik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut dinilai memberi harapan bagi berakhirnya krisis energi yang selama ini membebani banyak negara, termasuk Indonesia. Meski demikian, proses pemulihan diperkirakan tidak berlangsung cepat.
Hassan menjelaskan, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hingga kini belum sepenuhnya normal. Jalur pelayaran strategis tersebut masih memerlukan pembersihan ranjau sisa konflik sehingga arus distribusi energi dunia belum pulih sepenuhnya.
Selain itu, situasi di Selat Hormuz masih sangat dinamis. Meskipun kesepakatan gencatan senjata mengatur pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut, penutupan kembali tetap berpotensi terjadi apabila salah satu pihak menilai kesepakatan dilanggar.
“Meski pada akhirnya akan menuju normalisasi arus minyak dan gas dari kawasan tersebut ke dunia, termasuk ke Indonesia, kita tetap perlu mengikuti sejauh mana prosesnya,” ujar Menlu RI periode 2001–2009 itu.
Di tengah berbagai dinamika tersebut, Hassan menilai prospek perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat masih cukup positif. Menurut dia, berbagai pihak di Washington masih menunjukkan komitmen untuk melanjutkan jalur diplomasi meski Presiden AS Donald Trump beberapa kali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut perundingan yang berlangsung di Swiss menunjukkan kemajuan signifikan. Pembahasan tersebut tidak hanya menyangkut hubungan Iran dan AS, tetapi juga upaya mengakhiri konflik di Lebanon serta mengurangi tekanan ekonomi terhadap Iran.
Kemajuan diplomatik itu juga dikonfirmasi Qatar dan Pakistan yang berperan sebagai fasilitator. Dalam pernyataan bersama, kedua negara menyebut para pihak sepakat membentuk mekanisme koordinasi bersama dengan melibatkan Lebanon guna memastikan penghentian operasi militer berjalan sesuai kesepakatan.
Meski demikian, proses negosiasi masih menghadapi tantangan. Delegasi Iran sempat meninggalkan lokasi perundingan di Swiss pada Minggu (21/6) sebagai bentuk protes atas ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyatakan kemungkinan kembali menyerang Iran apabila kelompok-kelompok pro-Teheran di Lebanon tidak menghentikan aktivitasnya.
Ketua tim negosiasi Iran Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan memperingatkan Amerika Serikat agar berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan dan menegaskan kesiapan militer Iran menghadapi segala bentuk ancaman.
Perundingan tingkat teknis antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan dan Qatar sendiri berlangsung tertutup di kawasan resor Burgenstock, Pegunungan Alpen, Swiss. Putaran pertama perundingan tersebut dilaporkan telah selesai dan akan berlanjut pada tahap berikutnya. (*/ANTARA)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK