Buka konten ini

Dari rumah ke muara, dari darat ke samudra, semua bermuara ke laut yang sama. Kesadaran itulah yang menggerakkan ratusan warga Desa Air Sena bergotong royong membersihkan pesisir demi menjaga warisan laut Anambas untuk generasi berikutnya.
PAGI itu, laut di pesisir Desa Air Sena seperti biasa tampil tenang. Riak kecil mengalun pelan, memantulkan cahaya matahari yang baru merangkak naik. Di kejauhan, gugusan pulau di Kepulauan Anambas berdiri seperti penjaga sunyi yang tak pernah lelah mengawasi lautan.
Bagi warga Air Sena, pemandangan itu bukan sesuatu yang luar biasa. Laut adalah halaman depan rumah mereka, tempat mencari nafkah, jalur hidup, sekaligus ruang yang sejak lama mereka rawat tanpa banyak cerita.
Namun pagi itu, suasana berbeda terasa di garis pantai. Bukan jaring ikan yang dibawa, melainkan karung, sarung tangan, dan semangat gotong royong. Sekitar 200 orang bergerak menyusuri pesisir Kecamatan Siantan Tengah, dalam aksi bersih pantai memperingati World Ocean Day dan Coral Triangle Day 2026.
Mereka datang dari berbagai lapisan: anak sekolah, nelayan, ibu rumah tangga, perangkat desa, hingga komunitas lingkungan dan unsur pemerintah. Semua menyatu dalam satu tujuan sederhana, menjaga laut agar tetap layak diwariskan.
Di wilayah kepulauan seperti Anambas, laut bukan sekadar lanskap.
Ia adalah dapur, jalan, sekaligus masa depan. Tapi di balik keindahannya, ada persoalan yang tak bisa lagi diabaikan: sampah.
Plastik, kemasan makanan, styrofoam, hingga limbah rumah tangga perlahan ikut terbawa arus, lalu singgah di pesisir. Sebagian datang dari laut lepas, sebagian lain berawal dari daratan yang tak jauh dari kehidupan warga sendiri.
Itulah yang membuat aksi pagi itu bukan sekadar seremoni. Ia menjadi semacam cermin—bahwa laut yang selama ini memberi, kini juga membutuhkan perlindungan.
Ratusan Tangan, Satu Garis Pantai
Sejak pagi, garis pantai Air Sena dipenuhi gerak kecil yang terus berulang. Satu per satu sampah diangkat dari pasir, diselipkan di sela batu, hingga yang tersangkut di akar-akar mangrove.
Botol plastik, kantong kresek, tali rafia, hingga sandal bekas berpindah ke karung-karung yang kian berat. Sesekali terdengar suara heran dari peserta yang baru menyadari betapa banyaknya sampah yang tersembunyi di antara keindahan pantai.
Dalam beberapa jam, kerja bersama itu menghasilkan angka yang tak bisa diabaikan: 439 kilogram sampah terkumpul dari pesisir Air Sena. Dari jumlah itu, 385 kilogram merupakan residu yang sulit didaur ulang, sementara 54 kilogram lainnya masih memiliki nilai ekonomi.
Angka itu bukan sekadar data. Ia menjadi tanda bahwa persoalan sampah di wilayah pesisir sudah berada di titik yang membutuhkan penanganan lebih serius dan berkelanjutan.
Namun, aksi ini tidak berhenti pada kegiatan memungut sampah. Di sela kegiatan, warga juga diajak memahami satu hal penting: laut tidak rusak sendirian.
Sebagian besar sampah yang ditemukan di pesisir ternyata berawal dari daratan, dari kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele, seperti membuang sampah sembarangan atau penggunaan plastik sekali pakai yang tak terkendali.
Kesadaran inilah yang coba dibangun melalui kegiatan tersebut. Bahwa menjaga laut bukan hanya soal membersihkan pantai, tetapi juga mengubah cara hidup di rumah masing-masing.
Menata Sistem, Bukan Sekadar Membersihkan
Manager Community Development Anambas Foundation, Alvino Dwie Putra, menegaskan bahwa aksi bersih pantai hanyalah bagian kecil dari upaya yang lebih besar.
“Yang paling penting adalah memastikan ada sistem pengelolaan sampah yang berjalan setiap hari. Kalau sampah sudah dipilah dari rumah, maka risiko ke laut bisa ditekan,” ujarnya.
Dari situ, lahirlah upaya seperti Bank Sampah Keliling yang kini berjalan di Air Sena. Program ini memungkinkan warga menabung sampah bernilai ekonomi, layaknya menabung uang di bank.
Dalam setahun terakhir, tercatat 43 nasabah aktif dengan hampir 60 ton sampah berhasil dikelola. Perlahan, sampah yang dulu dianggap tak bernilai mulai berubah menjadi sumber manfaat baru bagi warga.
Pesan serupa disampaikan Manager Forest Conservation Anambas Foundation, Fitryana Rahayu. Menurutnya, laut dan daratan adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.
Apa yang terjadi di darat, pada akhirnya akan berakhir di laut. Karena itu, pendekatan dari hulu ke hilir menjadi penting—mulai dari hutan, aliran sungai, hingga pesisir dan laut.
Dari Rumah, untuk Terumbu Karang
Sementara itu, Manager Marine Conservation Anambas Foundation, Novita Permata Putri, mengingatkan bahwa menjaga laut tidak hanya soal melindungi terumbu karang atau biota laut.
Ancaman terbesar justru sering datang dari kebiasaan sehari-hari manusia di daratan.
Tanpa perubahan perilaku, upaya konservasi hanya akan menjadi pekerjaan yang terus berulang tanpa akhir.
Kepulauan Anambas sendiri merupakan bagian dari Coral Triangle, wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Kekayaan itu membuat setiap tindakan kecil di pesisir memiliki dampak yang jauh lebih besar dari yang terlihat.
Ketika kegiatan berakhir menjelang siang, tumpukan sampah di titik pengumpulan menjadi saksi kerja bersama ratusan tangan. Namun yang lebih penting dari itu adalah kesadaran yang perlahan tumbuh.
Bahwa menjaga laut bukan tugas satu pihak. Ia hidup dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari—di rumah, di dapur, di halaman, bahkan dalam cara seseorang memperlakukan sampahnya sendiri.
Di ujung negeri, Air Sena memberi pesan sederhana namun kuat: laut tidak akan tetap bersih hanya karena indah dipandang, tetapi karena dijaga dengan kesadaran yang terus hidup.
Dan dari kesadaran itu, masa depan laut Anambas ditentukan, hari ini, dan seterusnya. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK