Buka konten ini
PARIS (BP) – Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperingatkan bahwa krisis energi yang terus memburuk di kawasan Teluk berpotensi mengguncang perekonomian dunia. Jika gangguan pasokan energi berlangsung berkepanjangan, dampaknya dinilai dapat menyeret ekonomi global ke fase perlambatan tajam yang sebanding dengan masa pandemi Covid-19.
Dalam laporan terbarunya, OECD menyebut ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah berisiko memicu apa yang disebut sebagai dark scenario atau skenario gelap.
Kondisi itu terjadi ketika pertumbuhan ekonomi dunia melemah secara bersamaan dengan meningkatnya inflasi dan suku bunga di berbagai negara.
Dilansir dari Financial Times, Kamis (4/6), OECD menilai gangguan berkepanjangan terhadap arus energi hingga paruh kedua 2027 dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global menjadi hanya 2,1 persen pada tahun ini dan 1,8 persen pada tahun depan.
Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait sebagai respons atas serangan AS di wilayah selatan Iran.
Dalam skenario dasar, OECD masih memperkirakan ekonomi global tumbuh 2,8 persen pada 2026, turun dari 3,4 persen pada 2025. Pertumbuhan diperkirakan kembali membaik menjadi 3,1 persen pada 2027 jika kondisi geopolitik dan pasokan energi tetap stabil.
Namun, apabila gangguan energi terus berlanjut, harga energi diprediksi tetap bergejolak dan memberikan tekanan besar terhadap perdagangan internasional, aktivitas industri, serta rantai pasok global.
Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan melambat menjadi 2 persen pada tahun ini. Sementara inflasi diperkirakan mencapai 3,7 persen, jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2 persen.
Kondisi serupa terjadi di Inggris yang diperkirakan mencatat inflasi sebesar 3,7 persen, salah satu yang tertinggi di antara negara-negara anggota G7.
Di kawasan zona euro, pertumbuhan ekonomi diperkirakan turun dari 1,4 persen menjadi 0,8 persen pada tahun ini sebelum kembali meningkat menjadi 1,2 persen pada 2027.
OECD juga memperkirakan Irlandia berpotensi mengalami kontraksi ekonomi sebesar 1 persen pada 2026 akibat ketidakpastian global dan lonjakan harga energi, meskipun permintaan domestiknya masih tumbuh moderat.
Menteri Keuangan Irlandia sekaligus Wakil Perdana Menteri, Simon Harris, mengatakan proyeksi tersebut menunjukkan semakin besarnya tekanan eksternal terhadap perekonomian dunia.
”Proyeksi ini secara umum sejalan dengan penilaian kami terhadap kondisi ekonomi. Namun, hal ini menegaskan bahwa lingkungan internasional saat ini semakin menantang,” ujarnya.
OECD juga mengingatkan bahwa sekitar sepertiga negara anggotanya berisiko mengalami penurunan upah riil. Kondisi tersebut berarti daya beli masyarakat terus tergerus akibat inflasi yang bertahan tinggi.
Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann, menyebut skenario gangguan energi berkepanjangan sebagai kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
”Saya berharap kita tidak memasuki skenario ini karena dampaknya akan sangat gelap bagi perekonomian dunia,” katanya.
Sementara itu, Kepala Ekonom OECD, Stefano Scarpetta, menilai krisis energi berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kapasitas produksi global.
Menurut dia, gangguan energi tidak hanya memengaruhi aktivitas ekonomi saat ini, tetapi juga berpotensi menghambat investasi, menurunkan kepercayaan pasar, dan mengganggu perkembangan sektor strategis seperti kecerdasan buatan (AI) yang sangat bergantung pada pasokan energi.
Di tengah ketidakpastian tersebut, OECD memperkirakan bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, kemungkinan perlu menaikkan suku bunga antara 0,5 hingga 0,75 poin persentase guna menahan tekanan inflasi.
Langkah itu dinilai berisiko mempersempit ruang kebijakan fiskal pemerintah serta memperbesar ancaman perlambatan ekonomi global dalam beberapa tahun ke depan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK