Buka konten ini

PROVINSI Kepulauan Riau (Kepri) masih menempati posisi kedua tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026, TPT Kepri tercatat sebesar 6,87 persen, berada di bawah Papua yang menempati peringkat pertama secara nasional.
Meski demikian, angka tersebut sebenarnya mengalami penurunan tipis dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 6,89 persen. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja di Kepri, sekitar enam hingga tujuh orang masih belum mendapatkan pekerjaan.
Humas Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Resa Surya Utama, mengatakan, tingginya TPT di Kepri dapat dilihat dari karakteristik pengangguran yang didominasi lulusan pendidikan menengah.
“Seperti TPT tamatan diploma dan perguruan tinggi yang mencapai 7,93 persen. Kemudian lulusan SMA/SMK sebesar 8,67 persen, sedangkan selebihnya berasal dari jenjang pendidikan SMP ke bawah,” ujar Resa, Selasa (2/6).
Berdasarkan data TPT kabupaten/kota terakhir yang dirilis BPS, Batam menjadi daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi di Kepri, yakni 7,57 persen. Posisi berikutnya ditempati Karimun sebesar 6,31 persen, Bintan 4,81 persen, Tanjungpinang 4,72 persen, Natuna 3,98 persen, Lingga 3,52 persen, dan terendah Kabupaten Kepulauan Anambas sebesar 2,56 persen.
Menurut Resa, tingginya angka pengangguran di Batam tidak terlepas dari status kota tersebut sebagai pusat industri terbesar di Kepri yang terus menjadi tujuan utama para pencari kerja.
“Batam masih menjadi magnet pencari kerja, baik dari dalam maupun luar Kepri. Banyak orang datang ke Batam untuk mencari pekerjaan sehingga jumlah angkatan kerja terus bertambah,” katanya.
Selain itu, Batam juga mencatat angka migrasi tertinggi di Kepri. Berdasarkan data BPS, tingkat migrasi masuk ke Batam mencapai 56,36 persen, jauh di atas daerah lain di provinsi ini.
Kondisi tersebut membuat pertumbuhan jumlah pencari kerja sering kali lebih cepat dibandingkan penciptaan lapangan kerja baru. Akibatnya, angka pengangguran di Batam tetap menjadi yang tertinggi meskipun sektor industri terus berkembang.
BPS juga mencatat TPT perempuan di Kepri masih lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Pada Februari 2026, TPT perempuan mencapai 7,31 persen, sedangkan laki-laki sebesar 6,62 persen.
Menariknya, TPT laki-laki justru mengalami kenaikan sebesar 0,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Jika dilihat berdasarkan wilayah tempat tinggal, tingkat pengangguran di kawasan perkotaan mencapai 7,12 persen, hampir dua kali lipat dibandingkan daerah perdesaan yang berada pada angka 3,80 persen.
Data tersebut menunjukkan tantangan ketenagakerjaan di Kepri masih cukup besar, terutama di kawasan perkotaan dan pusat industri seperti Batam yang terus dibanjiri pencari kerja dari berbagai daerah.
Di tengah perlambatan ekonomi global dan meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah wilayah Indonesia, pemerintah daerah diharapkan mampu mendorong penciptaan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar lebih sesuai dengan kebutuhan industri.
Sebelumnya, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam menyatakan mulai membangun basis data pencari kerja berbasis kompetensi. Pendataan tidak hanya mencakup identitas, tetapi juga keterampilan, pengalaman, hingga minat kerja.
“Kalau datanya berbasis keahlian, seperti administrasi, akuntansi, teknisi, dan lainnya, proses pencocokan bisa jauh lebih cepat dan tepat,” ujar Kepala Disnaker Batam, Yudi Suprapto, belum lama ini.
Tak hanya itu, Disnaker juga membuka jalur komunikasi langsung dengan perusahaan melalui grup khusus HRD. Tujuannya, mempercepat distribusi informasi lowongan kerja kepada kandidat yang relevan.
Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fokus lain. Disnaker menggandeng lembaga pelatihan kerja (LPK) untuk meningkatkan kompetensi calon tenaga kerja, termasuk penguatan bahasa asing bagi pelajar SMA dan SMK.
“Industri kita berkembang cepat. Tenaga kerja lokal harus siap bersaing,” tambah Yudi.
Berdasarkan data Disnaker Batam, hingga akhir Maret 2026 terdapat 8.637 pencari kerja. Sementara, sejak 1 April hingga saat ini, tercatat 1.183 pencari kerja baru. Dari jumlah itu, tersedia 570 lowongan kerja dan 554 tenaga kerja telah berhasil ditempatkan.
Yudi optimistis pendekatan aktif dan kolaboratif ini dapat menekan angka pengangguran secara bertahap.
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kepri juga mencatat tingkat pengangguran mencapai 6,4 persen atau sekitar 75 ribu orang dari total angkatan kerja.
Kepala Disnaker Kepulauan Riau, Dicky Wijaya, mengungkapkan tingkat pengangguran di Kepri saat ini berada di angka 6,4 persen atau sekitar 75 ribu orang.
“Dari jumlah itu, sekitar 75 persennya berada di Batam. Kita masih peringkat tiga pengangguran secara nasional,” ujarnya.
Meski turun dari sebelumnya 6,8 persen, angka tersebut dinilai masih tinggi. Mayoritas pengangguran berasal dari usia produktif 16 hingga 25 tahun, dengan latar belakang pendidikan didominasi lulusan SMA dan SMK.
Menurut Dicky, persoalan utama bukan minimnya lapangan kerja, melainkan ketidaksiapan tenaga kerja dalam memenuhi kebutuhan industri.
“Lowongan sebenarnya banyak, terutama di sektor galangan kapal dan manufaktur. Tapi industri butuh tenaga dengan skill tertentu, sementara pencari kerja belum siap,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pola pikir sebagian pencari kerja yang masih memilih pekerjaan tertentu, seperti aparatur sipil negara, sehingga peluang di sektor industri kurang diminati.
Untuk mengatasi hal tersebut, Disnaker Kepri terus mendorong pelatihan berbasis kompetensi, mulai dari barista hingga keterampilan teknis seperti welder dan fabrikasi.
Program ini didukung anggaran, termasuk dana RPTKA di Batam yang mencapai sekitar Rp20 miliar per tahun.
“Pelatihan kita arahkan agar masyarakat punya skill dan bisa langsung terserap di industri,” tegasnya. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : RATNA IRTATIK