Buka konten ini
ISTANBUL (BP) – Iran dilaporkan menangguhkan pembicaraan tidak langsung dan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat (AS) melalui mediator sebagai bentuk protes atas serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon.
Kantor berita semi-resmi, Tasnim, Senin (1/6), melaporkan keputusan tersebut diambil setelah Teheran menilai Israel terus melanggar kesepakatan gencatan senjata yang menjadi bagian penting dari upaya meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurut Tasnim, tim negosiasi Iran menghentikan sementara seluruh komunikasi tidak langsung dengan Washington hingga tuntutan terkait penghentian operasi militer Israel di Gaza dan Lebanon dipenuhi.
”Iran menuntut penghentian segera serangan Israel di Gaza dan Lebanon serta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki,” tulis laporan tersebut.
Tasnim juga menyebut Iran bersama kelompok-kelompok yang tergabung dalam poros perlawanan tengah menyiapkan berbagai opsi respons terhadap aksi militer Israel. Salah satu skenario yang dikaji adalah peningkatan tekanan di jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab.
Di tengah laporan pembekuan komunikasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa pertukaran pesan antara Teheran dan Washington sejauh ini masih berlangsung.
”Sampai hasil yang jelas tercapai, tidak mungkin membuat penilaian apa pun. Semua yang sedang dikatakan saat ini hanyalah spekulasi,” ujar Araghchi melalui akun Telegram resminya.
Pernyataan Araghchi muncul setelah berbagai laporan mengenai peluang tercapainya kesepakatan baru antara Iran dan AS kembali mengemuka.
Presiden AS, Donald Trump sebelumnya menggelar pengarahan intelijen di Washington dan menyatakan akan segera mengambil keputusan terkait perkembangan negosiasi dengan Iran. Namun sejumlah media AS melaporkan belum ada kesepakatan final yang tercapai.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada Februari lalu. Serangan tersebut memicu balasan dari Teheran terhadap kepentingan Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk gangguan terhadap jalur pelayaran strategis, Selat Hormuz yang berlangsung hingga kini. (*)
Laporan : ANTARA – JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK