Buka konten ini

BINTAN (BP) – Iswandi, 26, warga Kampung Sialang, Desa Berakit, Kecamatan Teluk Sebong, kini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya. Sudah lebih dari setahun ia berjuang melawan kanker tulang yang membuat kaki kanannya terus membengkak dan sulit digerakkan.
Dengan kondisi tubuh yang semakin melemah, aktivitas sehari-hari pun nyaris tak bisa lagi dilakukan sendiri.
“Kondisi saya sudah berat. Mau ke kamar mandi saja susah,” ujar Iswandi lirih saat ditemui di rumahnya.
Penyakit yang dideritanya bermula ketika ia mengalami kecelakaan kerja. Saat itu, Iswandi tertimpa pohon kelapa hingga lutut kanannya terbentur aspal.
Setelah menjalani pemeriksaan rontgen di rumah sakit, luka di bagian bahu dinyatakan sembuh. Namun, nyeri pada lutut kanan tak kunjung hilang meski telah diberi obat pereda nyeri.
Karena kondisi terus memburuk, Iswandi akhirnya dirujuk ke Jakarta pada awal 2025. Ia sempat menjalani perawatan hampir dua bulan di RSPAD Gatot Subroto.
Dari hasil pemeriksaan dokter, Iswandi divonis menderita kanker tulang. Saat itu dokter menyarankan tindakan amputasi pada kaki kanannya demi mencegah penyebaran penyakit.
Namun, keputusan berat itu ditolak Iswandi.
“Ia menolak. Dia bilang mau cari usaha lain, jadi minta pulang saja,” kata abang kandungnya, Budi Setiawan alias Roni.
Saat kembali ke kampung halaman, Iswandi masih mampu berjalan menggunakan tongkat. Berbagai upaya pengobatan alternatif kemudian dicoba, mulai dari terapi hingga minum jamu tradisional.
Namun kondisi kakinya justru semakin membengkak dalam setahun terakhir. “Petugas dari Dinas Sosial pernah datang membujuk agar Iswandi mau berobat lagi. Tapi dia tetap menolak karena takut diamputasi,” ujar Roni.
Kini, Roni menjadi tulang punggung keluarga sekaligus orang yang merawat adiknya sehari-hari. Ia bekerja di sebuah bengkel yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah agar tetap bisa memantau kondisi Iswandi.
“Kadang jam 10 atau 11 baru ke bengkel, karena merawat adik dulu,” katanya.
Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas, Iswandi mengaku sebenarnya ingin kembali menjalani pengobatan. Namun biaya menjadi kendala terbesar.
Ia mengatakan, saat menjalani pengobatan sebelumnya, bantuan pemerintah bersifat klaim penggantian biaya sehingga keluarga tetap harus menyiapkan uang lebih dahulu.
“Dulu dibantu, tapi kami pakai uang pribadi dulu, baru nanti diklaim. Kalau sekarang saya tidak sanggup bayar di depan, tidak ada uang,” katanya.
Roni yang menjadi satu-satunya pencari nafkah juga harus membiayai kebutuhan makan keluarga setiap hari.
“Penghasilan abang hari ini habis untuk makan hari ini saja,” ucap Iswandi.
Ia juga khawatir jika sang abang harus kembali mendampinginya berobat ke Jakarta, tidak ada lagi yang mengurus ayah dan adik-adiknya di rumah.
Selain bantuan dari pemerintah, Iswandi mengaku pernah menerima bantuan dari Baznas, yayasan sosial, Kementerian Sosial, hingga warga kampung yang turut membantu meringankan beban keluarganya. (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GUSTIA BENNY