Buka konten ini

Penyakit asma masih menjadi salah satu gangguan pernapasan yang banyak dialami masyarakat Indonesia. Meski sering dianggap penyakit ringan, asma sebenarnya dapat mengganggu kualitas hidup bahkan berisiko menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Abdul Malik Sp.P, FISR dari Rumah Sakit Awal Bros Batam dalam siaran langsung Instagram Hallo Awal Bros, Kamis (21/5).

MENURUT dr. Abdul Malik, asma merupakan penyakit peradangan kronis pada saluran pernapasan yang menyebabkan penyempitan jalan napas. Kondisi ini biasanya disertai produksi lendir atau dahak berlebih sehingga penderita mengalami sesak napas, batuk, dan napas berbunyi mengi.
“Asma adalah penyakit kronik yang sifatnya hilang timbul dan berlangsung dalam jangka panjang. Jadi, kalau seseorang sudah terkena asma, biasanya akan berlanjut seumur hidup,” ujarnya.
Gejala Bisa Muncul Sejak Anak-Anak
Asma umumnya mulai muncul sejak usia anak-anak, meski tidak menutup kemungkinan baru muncul saat dewasa. Bahkan, dr. Abdul Malik mengaku pernah menangani pasien yang baru mengalami gejala asma setelah usia 50 tahun. “Artinya, asma bisa menyerang siapa saja. Banyak kasus memang muncul sejak anak-anak, tetapi ada juga yang baru muncul saat dewasa,” katanya.
Ia menjelaskan, pada penderita asma, saluran napas mengalami tiga kondisi sekaligus, yakni saluran napasnya menyempit, menebal akibat peradangan, dan dipenuhi lendir. Penyempitan saluran napas ini misalnya diameter saluran napas awalnya 1 sentimeter, bisa menyempit hingga tinggal setengahnya.
“Kalibernya mengecil, dinding saluran napas menebal, dan ada banyak dahak. Itu yang menyebabkan penderita merasa sesak,” jelasnya.
Faktor Genetik Sangat Dominan
Dr. Abdul Malik menegaskan bahwa faktor keturunan menjadi penyebab utama asma. Risiko seseorang mengalami asma lebih besar apabila memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa.
“Kalau bapaknya asma, anaknya bisa asma. Kalau ibunya asma, anaknya juga berisiko asma. Bahkan kadang bisa dari kakek atau neneknya,” ujarnya.
Selain faktor genetik, asma juga dapat dipicu oleh faktor lingkungan seperti polusi udara, asap rokok, debu, tungau, bulu hewan, hingga makanan tertentu.
“Pemicu yang paling sering di Indonesia adalah tungau debu rumah. Mereka hidup di sofa, karpet, dan kasur. Kotorannya yang beterbangan bisa menjadi pemicu kuat serangan asma,” katanya.

Gejala Awal yang Harus Diwaspadai
Gejala awal asma biasanya berupa batuk, sesak napas, dan napas berbunyi mengi, terutama pada malam hari. Pada anak-anak, gejala yang paling sering muncul justru batuk berkepanjangan.
“Banyak orang tua langsung mengira anaknya TBC ketika batuk terus-menerus. Padahal, bisa saja itu gejala alergi atau asma,” jelas dr. Abdul Malik.
Ia juga menjelaskan perbedaan batuk pilek biasa dengan batuk akibat asma. Menurutnya, asma biasanya muncul karena adanya pemicu tertentu.
“Kalau asma, ada trigger-nya. Misalnya setelah terkena debu, bulu kucing, minum dingin, atau habis olahraga,” katanya.
Jika merasakan gejala asma, pemeriksaan medis dilakukan dokter. Pertama, pasien akan dilakukan anamnesis atau wawancara medis, seperti menanyakan riwayat penyakit, kondisi keluarga, serta gejala yang dirasakan. Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik, biasanya ditemukan bunyi mengi yang khas pada penderita asma.
“Selanjutnya, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan eosinofil dalam darah. Selain itu, fungsi paru akan diperiksa menggunakan alat spirometer untuk membantu menegakkan diagnosis asma,” jelasnya.
Asma Tidak Menghambat Prestasi
Meski merupakan penyakit kronis, asma tidak memengaruhi kecerdasan/intelejensia maupun kemampuan fisik seseorang. Dr. Abdul Malik mencontohkan atlet renang dunia Michael Phelps yang tetap mampu meraih prestasi meski mengidap asma.
“Asma tidak memengaruhi inteligensi. Saya sendiri juga asma,” ujarnya.
Olahraga Tetap Dianjurkan
Penderita asma tetap dianjurkan untuk berolahraga, terutama olahraga aerobik seperti jalan kaki, jogging, bersepeda, dan berenang. Namun, kondisi asma harus dipastikan terlebih dahulu dalam keadaan terkontrol.
“Kalau asmanya tidak terkontrol, olahraga tetap boleh, tetapi harus bertahap dan jangan lupa membawa obat pelega,” katanya.
Ia menambahkan, penderita asma sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum memulai olahraga rutin.
Pengobatan dengan Inhaler Lebih Dianjurkan
Dalam penanganan asma, dr. Abdul Malik lebih menyarankan penggunaan obat inhalasi dibandingkan obat minum karena efek sampingnya lebih sedikit dan langsung bekerja di paru-paru.
“Obat inhalasi untuk asma sangat aman digunakan. Satu kali penggunaan inhaler setara dengan sekitar 20 kali penggunaan obat minum, sehingga dosis yang dibutuhkan jauh lebih rendah,” ujarnya.
Selain itu, obat inhalasi tidak melewati saluran pencernaan seperti obat oral. Jika minum obat, prosesnya harus melalui lambung, hati, diserap usus, lalu masuk ke aliran darah sebelum mencapai paru-paru. “Sementara obat inhalasi langsung menuju paru-paru saat dihirup, sehingga bekerja lebih cepat dan lebih praktis,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh penyakit asma. Asma merupakan penyakit yang cukup banyak ditemukan di Indonesia.
“Jika tidak dikontrol dengan baik, asma dapat menurunkan kualitas hidup dan bahkan berisiko menyebabkan kematian,” kata dr Abdul Malik.
Karena itu, asma tidak boleh dianggap remeh. “Apabila muncul gejala asma atau memiliki riwayat keturunan asma, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui tingkat keparahan asma sehingga pengobatan yang diberikan bisa lebih tepat,” tegasnya.
Di akhir sesi, dr. Abdul Malik menyampaikan kabar baik bahwa sebagian besar obat asma saat ini sudah ditanggung BPJS Kesehatan. Jangan takut berobat. Sekarang sebagian besar obat asma sudah di-cover BPJS. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : TUNGGUL MANURUNG