Buka konten ini

CEBU (BP) – Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., menyerukan persatuan negara-negara Asia Tenggara di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN, Jumat (8/5).
Dalam pidato pembukaannya, Marcos mengatakan kawasan Asia Tenggara tengah menghadapi momen penting di tengah berbagai disrupsi dan konflik global yang berdampak terhadap ekonomi, kehidupan masyarakat, dan stabilitas kawasan.
“Kita bertemu di tengah tantangan besar yang terjadi di kawasan kita dan lebih jauh lagi,” ujar Marcos saat menyoroti dampak konflik Timur Tengah terhadap negara-negara ASEAN.
Ia menegaskan, ASEAN harus tetap melanjutkan berbagai agenda kerja sama meskipun situasi global sedang tidak menentu.
“Tugas-tugas ASEAN harus dilanjutkan, bukan karena tantangannya, tetapi karena waktu menuntut jawaban kita atas tantangan tersebut,” katanya.
Marcos mengungkapkan Filipina juga melakukan sejumlah penyesuaian dalam pelaksanaan KTT ASEAN kali ini, termasuk mengurangi kegiatan non-esensial dan mengubah beberapa agenda menjadi pertemuan daring.
Menurut dia, langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dampak tekanan energi dan ekonomi akibat konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, ia memastikan ASEAN tetap berkomitmen menjaga kerja sama kawasan melalui koordinasi antarmenteri luar negeri, ekonomi, pertanian, dan energi.
“ASEAN senantiasa mendapatkan kekuatannya bukan dari keseragaman, tetapi dari persatuannya,” ujar Marcos.
Sebelum pembukaan KTT, Presiden Marcos bersama Ibu Negara, Liza Araneta-Marcos, menyambut para pemimpin negara ASEAN dan pendamping yang hadir di lokasi pertemuan.
Sejumlah pemimpin ASEAN yang hadir antara lain Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, Presiden RI Prabowo Subianto, Perdana Menteri Laos Sonexay Siphandone, serta Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Turut hadir Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao, dan Perdana Menteri Vietnam Le Minh Hung.
Sementara Myanmar diwakili Sekretaris Tetap Kementerian Luar Negeri, U Hau Khan Sum. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY