Buka konten ini

BATAM (BP) – Lapangan Sentosa Perdana (SP), Sagulung, dipenuhi ribuan warga, akhir pekan lalu. Mereka larut dalam kemeriahan Jelang Kenduri Seni Melayu (KSM) 2026 yang digelar pada 18–19 April.
Beragam pertunjukan seni budaya Melayu ditampilkan. Mulai dari tari, musik, pantun, hingga atraksi seni lukis langsung (live painting). Suasana kian hidup saat penonton berkerumun menyaksikan para perupa menuangkan karya secara spontan di lokasi acara.
Menariknya, kegiatan ini tak hanya diikuti seniman lokal. Sejumlah pelaku seni dari luar negeri juga ambil bagian. Di antaranya pelukis asal Amerika Serikat, Mis Angela, yang bergabung bersama Komunitas Seni Rupa Batam dalam sesi live painting.
Ketua Umum Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam, YM Dato’ Wira Setia Utama Raja Haji Muhammad Amin, mengatakan kegiatan ini merupakan pemanasan menuju puncak Kenduri Seni Melayu 2026. “Ini baru awal. Di puncak nanti akan lebih besar, dengan menghadirkan lebih banyak seniman, termasuk dari nasional dan internasional,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung kegiatan budaya sebagai upaya menjaga identitas Melayu. Bahkan, pihaknya mendorong agar Kenduri Seni Melayu semakin berkembang dan masuk dalam kalender Kementerian Pariwisata RI.
“Kita ingin event ini semakin besar dan dikenal luas,” tambahnya.
Selain itu, pihaknya juga merencanakan pembangunan taman seni budaya di Batam sebagai ruang bagi seniman untuk berkarya dan berkembang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Ardiwinata, menjelaskan konsep “Jelang Kenduri” dibuat untuk memberi ruang lebih luas bagi pelaku seni lokal.
“Tahun ini kita gelar tiga kali Jelang Kenduri, agar sanggar di kecamatan bisa tampil, tidak hanya di puncak,” ujarnya.
Ia merinci, Jelang Kenduri pertama melibatkan sanggar dari Sagulung, Batuaji, Sekupang, hingga Belakangpadang. Tahap berikutnya akan digelar Mei di Tanjunguma dan Juni di Sungai Beduk.
Seluruh penampil terbaik nantinya akan tampil di puncak Kenduri Seni Melayu bersama peserta dari negara serumpun seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Batam, Samson Rambah Pasir, menambahkan Jelang Kenduri juga menjadi ajang seleksi bagi pelaku seni.
“Sanggar terbaik dari tiap wilayah akan tampil di panggung utama. Ini bagian dari pembinaan,” jelasnya.
Ia menyebut, kehadiran Komunitas Seni Rupa Batam melalui live painting menjadi bagian penting dalam dokumentasi perjalanan KSM.
“Lukisan ini bisa menjadi arsip visual, bahkan ke depan berpotensi dipamerkan atau dilelang sebagai bagian dari ekonomi kreatif,” ujarnya.
Sejumlah penampilan turut memeriahkan acara. Di antaranya musik Melayu oleh Malaykustik, penyanyi cilik Along Alif, pembacaan puisi oleh Puan Azzahra Nur Rafanda, hingga pantun oleh Yoan S Nugraha dan Rendra Setyadiharja.
Berbagai sanggar juga tampil memukau, seperti Sanggar Mulya Suri, Selasih 16, Tanjak Emas, hingga Sanggar Pantai Basri dengan tari Jogi yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir.
Memasuki malam kedua, suasana tetap semarak. Konsep pertunjukan lebih mengarah pada hiburan rakyat tanpa meninggalkan akar budaya.
Pesona Indah Band membuka penampilan dengan lagu Melayu nostalgia era 60-an. Disusul musisi lokal Yan Gaboh yang membawakan lagu balada hingga Melayu dengan gaya santai.
Sanggar Dang Gemini menghadirkan Dikir Barat yang enerjik. Sementara Sanggar Rentak Barelang (SMPN 26 Batam) menampilkan tari Beganjal yang mengangkat nilai gotong royong.
Sanggar Tuah Negeri (SDN 006 Batuaji) turut tampil, menunjukkan semangat generasi muda dalam melestarikan budaya Melayu.
Kenduri Seni Melayu sendiri telah digelar sejak 1999 dan kini memasuki tahun ke-27. Event ini juga masuk dalam Kalender Event Nusantara sebagai salah satu agenda wisata budaya unggulan.
Dengan kolaborasi seniman lokal hingga mancanegara, Jelang Kenduri Seni Melayu 2026 menjadi bukti Batam terus tumbuh sebagai pusat perkembangan seni dan budaya Melayu di kawasan regional. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK