Buka konten ini

DI saat mayoritas perusahaan di tingkat nasional mulai menahan rekrutmen, Batam justru menunjukkan arah berbeda. Di kota industri ini, peluang kerja masih terbuka, seiring arus investasi yang terus masuk.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menegaskan kondisi dunia usaha di Batam masih relatif stabil. Bahkan, kebutuhan tenaga kerja tetap ada, terutama di sektor manufaktur.
“Untuk di Batam, lowongan kerja masih banyak. Investasi juga masih mengalir, jadi lapangan pekerjaan tetap terbuka,” ujarnya, Rabu (15/4).
Menurut Rafki, posisi Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan industri menjadikannya tetap menarik bagi investor, terutama untuk sektor manufaktur dan industri penunjang.
Meski begitu, ia mengakui adanya perubahan pola investasi. Sejumlah perusahaan mulai beralih dari sektor padat karya ke padat modal, seiring dorongan efisiensi dan penggunaan teknologi.
“Memang ada kecenderungan ke arah efisiensi. Tapi di Batam belum sampai menghambat rekrutmen secara luas,” jelasnya.
Ia menambahkan, daya saing Batam masih ditopang oleh kemudahan investasi, kawasan industri terintegrasi, serta kedekatan dengan pasar internasional seperti Singapura dan Malaysia.
Namun, Rafki mengingatkan, kondisi tersebut tetap harus dijaga. Terutama terkait regulasi ketenagakerjaan, biaya produksi, dan kepastian hukum bagi investor.
“Kalau iklim usaha tetap kondusif, investasi akan terus masuk. Dampaknya tentu ke pembukaan lapangan kerja,” katanya.
Sinyal positif ini juga tercermin dari data Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Batam. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, tercatat 6.163 pencari kerja, dengan serapan tenaga kerja mencapai 2.474 orang.
Sementara sepanjang 2025, jumlah pencari kerja mencapai 29.710 orang, meningkat dibandingkan 2024 yang sebanyak 24.690 orang.
Kepala Disnaker Batam, Yudi Suprapto, mengatakan Batam masih menjadi daerah tujuan pencari kerja, baik dari dalam maupun luar daerah.
“Ini menunjukkan Batam tetap memiliki daya tarik ekonomi,” ujarnya.
Pada 2025, pencari kerja asal Batam tercatat 27.064 orang, sementara dari luar daerah sebanyak 2.646 orang. Di sisi lain, tersedia 18.528 lowongan kerja, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.
“Lowongan kerja cukup banyak, terutama di sektor manufaktur, galangan kapal, elektronik, dan jasa. Tantangannya pada kecocokan kompetensi,” jelas Yudi.
Sepanjang 2025, sebanyak 14.832 tenaga kerja berhasil ditempatkan, menurun dari 17.593 orang pada 2024. Penurunan ini dipengaruhi selektivitas perusahaan dan meningkatnya persaingan.
Disnaker pun terus mendorong peningkatan kompetensi pencari kerja melalui pelatihan dan sertifikasi.
“Perusahaan sekarang tidak hanya melihat ijazah, tapi juga keterampilan dan etos kerja,” katanya.
Sementara itu, kondisi berbeda terlihat di tingkat nasional. Berdasarkan survei Apindo pusat, sebanyak 67 persen perusahaan tidak berencana merekrut tenaga kerja baru.
Bahkan, sekitar 50 persen perusahaan belum memiliki rencana ekspansi dalam lima tahun ke depan.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh belum optimalnya investasi, terutama di sektor padat karya.
“Investasi padat karya semakin berkurang, padahal kita masih sangat membutuhkan sektor ini untuk menyerap tenaga kerja,” ujarnya dalam rapat di DPR RI.
Ia juga menyoroti faktor regulasi ketenagakerjaan yang dinilai mempengaruhi minat investor, terutama terkait fleksibilitas aturan.
“Perlindungan buruh penting, tapi jangan sampai membuat investasi tidak masuk,” katanya.
Di tengah kontras tersebut, Batam masih bertahan sebagai salah satu daerah dengan peluang kerja yang relatif terbuka. Namun, pelaku usaha mengingatkan, kondisi ini tetap perlu dijaga agar tidak ikut terdampak tren perlambatan secara nasional. (***)
Reporter: RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK