Buka konten ini
BEIJING (BP) – Ekonomi Tiongkok mencatat pertumbuhan sebesar 5,0 persen secara tahunan pada periode Januari–Maret 2026. Angka ini menunjukkan akselerasi dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,5 persen.
Data resmi yang dirilis pemerintah Tiongkok, Kamis (16/7) dikutip dari Antara, menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut didorong kinerja ekspor yang kuat, meskipun situasi global tengah diwarnai ketegangan geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah.
Secara kuartalan, produk domestik bruto (PDB) Tiongkok tumbuh 1,3 persen dibandingkan periode Oktober–Desember 2025 yang sebesar 1,2 persen. Capaian ini menjadi percepatan pertama dalam lima kuartal terakhir dan masih sejalan dengan target pertumbuhan 4,5 hingga 5 persen untuk tahun 2026.
Biro Statistik Nasional Tiongkok menyebut perekonomian pada awal tahun memulai dengan baik, ditandai dengan pemulihan sejumlah indikator makroekonomi serta berkembangnya sumber-sumber pertumbuhan baru.
Namun demikian, lembaga tersebut juga mengingatkan bahwa tantangan eksternal masih cukup besar. Lingkungan global dinilai semakin kompleks dan tidak stabil, sementara ketidakseimbangan antara pasokan yang kuat dan permintaan domestik yang lemah masih menjadi pekerjaan rumah.
“Fondasi pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya kokoh,” demikian pernyataan resmi lembaga tersebut.
Dari sisi perdagangan, total ekspor Tiongkok meningkat 11,9 persen, sementara impor melonjak 19,6 persen selama periode Januari–Maret.
Ekspor ke Amerika Serikat tercatat mengalami penurunan seiring meningkatnya ketegangan perdagangan sejak kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih. Namun, pengiriman ke negara-negara Asia lainnya dan kawasan Afrika justru mengalami peningkatan.
Dari sisi konsumsi domestik, penjualan ritel barang konsumsi hanya tumbuh 2,4 persen secara tahunan. Sementara itu, investasi aset tetap—di luar rumah tangga pedesaan—naik 1,7 persen.
Sektor properti masih menjadi titik lemah. Investasi di sektor ini tercatat turun 11,2 persen, mencerminkan krisis yang belum sepenuhnya pulih. Di sisi lain, produksi industri Tiongkok, yang dikenal sebagai “pabrik dunia”, tumbuh cukup kuat sebesar 6,1 persen, menunjukkan sektor manufaktur masih menjadi penopang utama ekonomi.
Lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan melambat menjadi 4,4 persen pada tahun ini, dipengaruhi dampak konflik global serta lemahnya konsumsi domestik.
Sebelumnya, dalam sidang parlemen tahunan pada Maret, pemerintah Tiongkok menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,5 hingga 5 persen—level terendah sejak awal 1990-an—di tengah tekanan dari krisis sektor properti dan ketidakpastian geopolitik global. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY