Buka konten ini

BATAM (BP) – Gejolak konflik di kawasan Timur Tengah mulai memicu efek berantai ke berbagai belahan dunia. Peringatan Singapura agar bersiap menghadapi tekanan global bukan lagi sekadar wacana.
Di tengah ketidakpastian energi dunia, Batam sebagai kota industri dan perdagangan mulai dibayangi tekanan ekonomi yang nyata.
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam sekaligus dosen ekonomi, Suyono Saputra, menegaskan dampak krisis tidak hanya dirasakan negara tertentu, tetapi bersifat global.
“Seluruh dunia akan ikut terdampak,” ujarnya, Minggu (12/4). Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah dunia akan merambat cepat ke berbagai sektor, mulai dari bahan bakar hingga harga barang.
“Kalau harga minyak mentah naik, bahan bakar ikut naik. Ongkos logistik naik, dan harga barang juga akan ikut terdongkrak,” jelasnya.
Kondisi ini membuat pelaku usaha hampir tidak memiliki pilihan selain menyesuaikan harga jual. Dampaknya, daya beli masyarakat berpotensi tertekan.
Di sisi lain, sektor industri menghadapi tekanan berlapis. Kenaikan biaya energi, ditambah potensi lonjakan tarif listrik dan upah, membuat ruang efisiensi semakin sempit.
“Di sektor riil, ini bisa membuat biaya produksi tidak efisien, apalagi jika diikuti kenaikan tarif listrik dan upah,” katanya.
Dengan struktur ekonomi yang bergantung pada industri manufaktur dan arus barang lintas negara, Batam dinilai sangat sensitif terhadap gejolak global.
“Batam sebagai kota industri sangat rentan terhadap kondisi ini,” tegasnya.
Meski kondisi pasar saat ini masih terlihat stabil, Suyono mengingatkan situasi tersebut bisa meninabobokan jika tidak diantisipasi sejak dini.
Jika gangguan distribusi energi terjadi, sektor manufaktur diperkirakan paling terdampak, disusul logistik, transportasi, hingga UMKM dengan margin usaha terbatas.
Di tengah situasi tersebut, rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi faktor tambahan yang berpotensi memperparah tekanan.
“Ancaman inflasi sudah pasti,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah daerah bersama BP Batam diminta segera menyiapkan langkah mitigasi, termasuk memetakan potensi risiko bersama pelaku industri.
“Pemerintah dan BP Batam perlu mengundang pelaku industri untuk memetakan potensi masalah sejak sekarang,” katanya.
Di tengah ketidakpastian global, upaya diplomasi internasional diharapkan mampu meredam tekanan.
“Kita berharap perundingan di Pakistan bisa memberikan hasil positif agar dunia tidak chaos,” tambahnya.
Meski jalur vital seperti Selat Hormuz masih terbuka, gangguan pada fasilitas energi di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya pulih.
“Kerusakan di beberapa fasilitas di Qatar dan Saudi membutuhkan waktu untuk pemulihan. Ini tentu berdampak pada ekonomi global,” tuturnya.
Inflasi Batam Berpotensi Terimbas
Pelemahan sentimen konsumen di Amerika Serikat dan meningkatnya tensi geopolitik global memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, termasuk di Batam.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan dampak langsung terhadap inflasi daerah belum bisa disimpulkan dalam waktu dekat.
“Untuk pengaruh inflasi, kita lihat pergerakannya pada April,” ujarnya.
Menurut dia, konflik global umumnya berdampak melalui komponen pembentuk inflasi, seperti sektor transportasi.
“Perubahan pada komponen seperti angkutan udara akan memengaruhi inflasi,” jelasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Batam pada Maret 2026 mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 3,13 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 112,20.
Secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi tercatat 0,11 persen, sementara inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 0,47 persen.
Eko menjelaskan, inflasi dipicu kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran, termasuk makanan, transportasi, hingga jasa.
Sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang utama antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan udara, beras, serta rokok kretek mesin.
Di sisi lain, beberapa komoditas seperti cabai merah, bawang merah, dan bensin justru menahan laju inflasi.
Meski inflasi masih relatif terkendali, Eko mengingatkan tekanan global tetap perlu diwaspadai, terutama jika berdampak pada harga energi dan transportasi.
“Semua akan sangat tergantung pada perkembangan ekonomi global ke depan,” pungkasnya. (*)
Reporter : M. SYA’BAN – RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK