Buka konten ini

BATAM (BP) – Iran mengklaim telah melancarkan serangan besar terhadap sejumlah target yang berkaitan dengan Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia hingga Samudra Hindia, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln.
Klaim tersebut disampaikan Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Jumat (3/4) pagi waktu setempat.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut operasi itu merupakan bagian dari gelombang ke-91 dalam misi militer yang mereka namai Operation True Promise 4.
IRGC mengklaim serangan dilakukan secara “berat dan terkoordinasi” menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, serta drone yang menyasar target militer dan infrastruktur yang berkaitan dengan AS dan Israel.
Selain itu, IRGC juga memperingatkan bahwa setiap pergerakan yang dianggap bermusuhan akan direspons dengan tindakan tegas dan menentukan.
Dalam pernyataan yang sama, IRGC menuding ketegangan dan ketidakamanan di Selat Hormuz merupakan akibat dari “agresi kriminal dan terorisme” oleh Amerika Serikat dan Israel.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS maupun otoritas terkait lainnya terkait klaim serangan tersebut.
Situasi ini berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan yang sejak lama menjadi titik panas konflik internasional.
Austria Tolak Permintaan AS Gunakan Wilayah Udara
Sementara itu, Pemerintah Austria secara tegas menolak permintaan Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan wilayah udaranya dalam operasi militer yang menargetkan Iran. Sikap ini menambah daftar negara Eropa yang enggan terlibat dalam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Kementerian Pertahanan Austria mengonfirmasi telah menerima sejumlah permintaan dari Washington terkait penggunaan wilayah udara untuk kepentingan militer. Namun, seluruh permintaan tersebut ditolak.
“Keputusan ini sejalan dengan kebijakan netralitas Austria yang telah lama dijaga,” demikian pernyataan resmi pemerintah di Wina.
Mengutip Dunya News, kementerian menegaskan bahwa menjaga netralitas merupakan prinsip utama dalam kebijakan luar negeri dan pertahanan Austria. Memberikan akses militer kepada negara lain untuk menyerang pihak ketiga dinilai bertentangan langsung dengan prinsip tersebut.
Langkah Austria ini mencerminkan sikap serupa dari sejumlah negara Eropa lainnya. Sebelumnya, Prancis, Spanyol, dan Italia juga dilaporkan menolak permintaan AS untuk menggunakan wilayah udara mereka dalam potensi serangan terhadap Iran.
Di tengah situasi yang kian memanas, Presiden Prancis Emmanuel Macron turut menyuarakan keraguan terhadap pendekatan militer. Ia menilai opsi penggunaan kekuatan untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz bukan langkah realistis.
“Beberapa pihak mendorong pembebasan Selat Hormuz melalui operasi militer, posisi yang kadang disuarakan Amerika Serikat, meskipun tidak konsisten,” ujar Macron kepada wartawan saat kunjungan ke Korea Selatan.
Menurut Macron, pendekatan tersebut tidak hanya sulit direalisasikan, tetapi juga berisiko tinggi.
“Itu akan memakan waktu sangat lama dan membahayakan semua pihak yang melintasi selat, baik dari ancaman penjaga revolusi maupun rudal balistik,” tegasnya.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mendorong sekutu-sekutunya untuk berperan dalam membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global.
Penolakan beruntun dari negara-negara Eropa ini menunjukkan kehati-hatian dalam merespons ketegangan antara AS dan Iran. Sikap tersebut sekaligus menegaskan keengganan mereka untuk terseret dalam konflik militer terbuka yang berpotensi meluas.
Trump Disebut Ingin Akhiri Konflik dengan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mencari jalan untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Hal itu dilakukan karena kekhawatiran bahwa operasi militer berkepanjangan dapat melemahkan posisi Partai Republik dalam pemilihan kongres paruh waktu.
Laporan majalah Time, yang mengutip sejumlah sumber, menyebut Trump ingin segera mendeklarasikan kemenangan dan menghentikan permusuhan sebelum kerugian politik semakin besar.
“Peluangnya sangat sempit,” ujar seorang pejabat senior AS sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.
Disebutkan pula, Trump sempat mengumumkan kepada para ajudannya bahwa operasi terhadap Iran dibatalkan, sehari sebelum rencana pelaksanaan.
Keputusan itu diambil setelah Trump tiba di kediamannya di Mar-a-Lago pada 27 Februari, saat sejumlah ajudan berkumpul di pusat operasi sementara.
Trump dilaporkan merasa tidak nyaman dengan banyaknya orang yang hadir, termasuk pihak-pihak yang tidak dikenalnya. Dalam situasi tersebut, ia sempat menyatakan pembatalan operasi.
Namun, setelah ruangan dikosongkan, Trump kembali memanggil sejumlah kecil ajudan terpercaya untuk melanjutkan pembahasan operasi.
Sementara itu, pemilihan paruh waktu untuk kedua majelis Kongres dijadwalkan berlangsung pada 3 November mendatang. Saat ini, Partai Republik masih memegang mayoritas di Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK